Kilas Balik Tragedi Runtuhnya Ponpes Al-Khoziny
Surabaya, Nawacita | Tragedi runtuhnya musala pondok pesantren Al-Khoziny, Buduran, Sidoarjo, memasuki hari kesebelas.
Berdasarkan data terakhir, total korban pada tragedi ini mencapai 171 orang, terdiri dari 67 meninggal dunia dan 104 korban luka.
Dari 67 korban meninggal dunia, 40 jenazah telah berhasil diidentifikasi oleh tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Jawa Timur. Sedangkan 27 korban lainnya masih dalam proses identifikasi.
Tragedi tersebut terjadi pada 29 September 2025, ketika para santri sedang melaksanakan sholat. Namun naas saat itu bangunan yang sedang dalam proses pembangunan di lantai keempat, bangunan tersebut runtuh seluruhnya.
“Pada saat itu anak-anak kita, para santri, sedang melaksanakan sholat dan diperkirakan bahwa luas area tempat sholat itu 140 jamaah lebih,” ucap Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii.
Baca Juga: Polda Jatim Periksa 17 Saksi dalam Tragedi Ambruknya Ponpes Al Khoziny Sidoarjo
Bangunan empat lantai yang sedang dalam proses pembangunan tersebut runtuh ketika sedang pelaksanaan pengecoran lantai empat.
“Bangunan yang runtuh ini merupakan bangunan dengan 4 lantai, di mana tempat sholat ada di lantai 1 dan lantai 4 sedang dalam pembangunan,” ujarnya.
“Sehingga pada saat pelaksanaan pengecoran terjadi kekuatan struktur yang mungkin tidak mampu menahan sehingga terjadi kolaps, yang kita sering menamakan ‘structure collapse’,” imbuhnya.
Proses pembangunan ponpes dilakukan dengan melibatkan santri. Yang diduga sudah menjadi sebuah tradisi.
“Pada saat itu reruntuhan ini benar-benar menyatu antara lantai 1 dan lantai 4. Sehingga kita bisa ‘declare’ waktu itu bahwa tipe reruntuhan sebagai pancake collapse,” ungkapnya.
Baca Juga: Update Jenazah Korban Ponpes Ambruk yang Teridentifikasi, Sementara Total 34
Sementara itu, pakar teknik sipil ITS, Mudji Irmawan, menjelaskan penyebab rubuhnya musala ponpes Al-Khoziny dikarenakan kegagalan struktur dalam proses pembangunan.
“Melihat dari kerusakan, ini adalah kegagalan struktur, model kerusakan sudah hancur keseluruhan baik kolom, balok, maupun plat,” jelas Mudji.
Bangunan awal ponpes Al-Khoziny ialah satu lantai, namun akibat bertambahnya jumlah santri, penambahan tingkat dirasa diperlukan. Akan tetapi peningkatan tingkat bangunan tidak disertai dengan kemampuan struktur yang mumpuni sehingga bangunan tersebut akhirnya rubuh dan menewaskan 67 orang.
“Kalau melihat sejarah pembangunan ruang kelas pondok pesantren ini awalnya bangunan yang direncanakan satu lantai,” kata Mudji.
Berikut 40 korban ambruknya ponpes Al-Khoziny yang diidentifikasi :
40. Mochammad Haikal Ridwan (14).

