Surabaya, Nawacita.co – Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Jawa Timur mengungkapkan kesulitan identifikasi jenazah korban tragedi ambruknya musala Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Khoziny, Buduran, Sidoarjo.
Kabid Disaster Victim Identification (DVI) Mabes Polri, Kombes Pol Wahyu Hidajati, menjelaskan bahwa kondisi pembusukan telah terjadi pada jenazah korban yang telah enam hari lamanya tertimbun.
“Sehingga ini tidak mudah dikenali. Harus ada ilmu tambahan supaya jenazah tidak tertukar,” jelasnya, Sabtu (4/10/2025).
Para korban yang memiliki pakaian senada dengan baju koko dan sarung, serta tradisi saling bertukar pakaian juga menyebabkan proses identifikasi melalui pakaian sulit untuk dilakukan.
Baca Juga: 10 Jenazah Korban Al-Khoziny Tiba untuk Proses Identifikasi di RS Bhayangkara Surabaya
Identifikasi melalui sidik jari juga mengalami kendala apabila kondisi jenazah tidak lagi dalam kondisi segar, kemudian banyak pula santri yang di bawah umur, sehingga belum memiliki KTP.
“Kendala ketiga yang kami alami dari gigi, agar gampang ketemu, giginya harus unik. Misal giginya gingsul atau tonggos, bogang, tambalan. Kalau (giginya) bagus semua susah (untuk diidentifikasi),” beber Hidajati.
Salah satu cara yang mampu dilakukan dan dapat mendapatkan hasil maksimal yakni melalui sampel DNA. Namun hal tersebut membutuhkan waktu yang cukup lama.
Kemarin, pihak DVI Polda Jatim telah mengambil sampel 59 DNA keluarga korban. Baik berupa air liur, rambut, dan darah.
Tim DVI telah mengirimkan sampel tersebut ke Jakarta untuk dilakukan proses pencocokan.
Reporter : Rovallgio

