Sejarah Pondok Pesantren Al Khoziny, Ponpes Berusia 1 Abad Yang Bangunan Musalanya Rubuh
Surabaya, Nawacita | Pondok Pesantren Al Khoziny, yang bangunan musala di asrama putra ambruk pada, Senin (29/9/2025) memiliki sejarah panjang.
Sejarah Pondok Pesantren yang berlokasi di Desa Buduran, Kecamatan Buduran, Sidoarjo ini, menjadi salah satu pesantren tertua di Jawa Timur.
Dilansir dari jatim.nu.or.id nama pesantren tersebut diambil dari nama pendirinya yakni KH Raden Khozin Khoiruddin.
Namun pondok pesantren ini lebih dikenal masyarakat sebagai Pesantren Buduran, dikarenakan lokasinya yang berada di Desa Buduran.
Pesantren Al Khoziny diduga berdiri pada tahun 1920, namun sayang karena keterbatasan dokumentasi yang lengkap, kapan pastinya ponpes tersebut berdiri merupakan berdasarkan penyampaian para sesepuh yang masih ada.
Baca Juga: Ini Penyebab di Balik Ambruknya Bangunan Ponpes Al Khoziny Sidoarjo
Seperti halnya Kiai Salam Mujib, dan Dr Wasid Mansyur MFil (Penulis Buku Biografi KH Abdul Mujib Abbas, Teladan Pecinta Ilmu yang Konsisten, 2012) yang membenarkan bahwa Pesantren Al Khoziny berdiri tahun 1920, berdasarkan cerita dari beberapa alumni dan sesepuh.
Tercatat, sejumlah ulama besar pernah menimba ilmu di Pondok Pesantren Siwalanpanji ini, seperti KH M Hasyim Asy’ari (Tebuireng, Jombang), KH Nasir (Bangkalan), KH Abd Wahab Hasbullah (Tambakberas, Jombang), KH Umar (Jember), KH Nawawi (Pendiri Pesantren Ma’had Arriyadl Ringin Agung Kediri), KH Usman Al Ishaqi (Alfitrah Kedinding, Surabaya), KH Abdul Majid (Bata-bata Pamekasan), KH Dimyati (Banten), KH Ali Mas’ud (Sidoarjo), KH As’ad Syamsul Arifin (Situbondo), dan masih banyak yang lainnya.
Sementara itu, hingga saat ini petugas gabungan telah berhasil mengevakuasi 89 korban ambruknya musala Ponpes Al Khoziny, yang dirawat di berbagai rumah sakit. Diantaranya 38 korban luka di RSUD R.T. Notopuro Sidoarjo, 6 korban luka di RS Delta Surya, 45 korban di RSI Siti Hajar, dan satu korban dinyatakan meninggal dunia.
Reporter : Rovallgio

