Angka PHK di Jabar Jadi yang Tertinggi se-Indonesia, DPRD Nilai Kinerja Disnakertrans Belum Efektif
BANDUNG, Nawacita – DPRD Jawa Barat, menilai langkah Dinas Ketenagakerjaan Jawa Barat kurang efektif dalam menyelesaikan masalah tingginya angka pengangguran dan angka Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) di Jawa Barat.
Mengingat, Jawa Barat sendiri saat ini menjadi provinsi dengan angka PHK tertinggi selama Indonesia menurut data Kementerian Ketenagakerjaan.
Data dari Kementerian Ketenagakerjaan menunjukan, angka PHK tenaga kerja di Jawa Barat per Januari 2025 hanya 1.657 orang. Angka tersebut menempatkan Jawa Barat di posisi ketiga setelah Jawa Tengah sebanyak 1.712 orang dan Banten sebanyak 2.544 orang.
Namun, angka tersebut kemudian naik pada bulan Februari sebanyak 3.862 orang yang menempatkan Jawa Barat di posisi kedua setelah Jawa Tengah dengan jumlah 8.161 orang.
Alih-alih turun, per bulan Maret 2025 angka tersebut malah semakin naik dan menempatkan Jawa Barat di posisi pertama sebagai provinsi dengan angka PHK tenaga kerja tertinggi mencapai 1.288 orang atau 25,83 persen dari total se Indonesia yang berjumlah 4.987 orang.
Posisi pertama itu terus bertahan dan tersemat pada Jawa Barat hingga bulan Agustus 2025 dengan jumlah PHK tenaga kerja mencapai 261 orang atau 29,07 persen dari 1.118 tenaga kerja yang di PHK se Indonesia.
Baca Juga: Disnakertrans Tekan Angka Kasus PHK di Jabar, Optimalisasi GLIK dan Aplikasi Baru
Anggota Komisi 5 DPRD Jawa Barat, Siti Mumtamah atau kerap disapa dengan sebutan Umi Oded kurangnya efektivitas dari Dinas Ketenagakerjaan Jawa Barat itu terjadi karena berbagai faktor. Salah satunya adalah faktor penganggaran Dinas Ketenagakerjaan terhadap program-program pelatihan terlalu kecil.
“Kalau menurut saya masih belum efektif, mengingat satu, penganggaran yang dilakukan oleh Disnaker untuk beberapa jawaban dari persoalan-persoalan memenuhi tuntutan ruang kerja bagi para pencari kerja atau para pengangguran ini masih terlalu kecil,” kata Umi Oded saya dihubungi melalui saluran aplikasi obrolan WhatsApp pada Jumat (19/9/2025) malam.
Selain anggaran program pelatihan, anggaran program perekrutan yang dilakukan di setiap instansi juga dinilai masih belum memuaskan. Apalagi, APBD Provinsi Jawa Barat saat ini tengah diefisienkan.
“Mulai dari pelatihan-pelatihan, kemudian juga perekrutan-perekrutan di semua instansi plus juga persiapan yang bisa disediakan secara support anggaran masih belum memuaskan karena anggaran pemerintah Provinsi Jawa Barat masih sangat kecil dan terbatas,” ycap dia.
Hal itu juga semakin diperparah dengan kondisi ekonomi di Jawa Barat yang masih belum banyak meningkat serta berbagai situasi ekonomi global serta politik dalam negeri yang mempengaruhi hawa investasi di Indonesia khususnya di tingkat daerah.
“Karena juga peningkatan index ekonomi Jawa Barat juga masih belum banyak index tumbuh ekonomi kita gitu ya. Bagaimana suasana situasi dunia global, kemudian regional dan pasar yang cukup terganggu dengan berbagai keadaan-keadaan. Ditambah juga dengan kondisi dalam negeri, mau tidak mau suka tidak suka juga akan mempengaruhi beberapa situasi-situasi tumbuh kembang investasi di Indonesia itu sendiri. Mungkin ini yang harus juga diperhatikan,” beber Umi Oded.
Apalagi, lanjut dia, Dinas Ketenagakerjaan Provinsi Jawa Barat saat ini masih banyak memiliki kekurangan baik secara sumber daya manusia maupun fasilitas yang ada.
“Ya saya melihat bahwa Disnaker jumlah orangnya sedikit, fasilitasnya juga kurang.
Maksud saya di salah satu tugas disnaker adalah memperhatikan pengawasan misalnya. Pengawasan bagi industri-industri ternyata jumlah pengawasan ini juga masih dirasakan kurang. Fasilitas yang dimiliki juga masih sangat terbatas,” papar dia.
Hal itu akhirnya membuat kinerja Dinas Ketenagakerjaan tidak optimal atau efektif dalam menangani permasalahan ketenagakerjaan di Jawa Barat dengan jumlah penduduk yang mencapai 50,34 juta jiwa.
“Sehingga juga akan mempengaruhi kinerja dari teman-teman semuanya. Saya berharap bahwa hari ini yang dilakukan oleh Dinas Ketenagakerjaan dalam menjawab semua tantangan-tantangan yang ada ini. Terus akan kita perhatikan dan kita evaluasi,” cetus dia.
Meski demikian, ia menerangkan bahwa sebetulnya sudah ada hasil yang efektif sebagai bukti konkret dari upaya Dinas Ketenagakerjaan dalam menangani permasalahan pengangguran dan PHK di Jawa Barat. Namun bukti konkret tersebut dinilai masih terlalu kecil dari berbagai upaya yang sudah dilakukan.
“Kalau bukti konkritnya sudah ada, tetapi ada tetapinya, masih kecil. Contohnya pelatihan dari 2,3 juta pengangguran, kemudian juga cari kerja atau mungkin yang di PHK, masih terlalu kecil dan belum terlalu efektif, sehingga perlu untuk terus dicari perusahaan-perusahaan baru,” terang Umi Oded.
Menurut dia, seharusnya hasil atau bukti konkret itu bisa menyentuh ke titik permasalahan utama yaitu membuat ekonomi Jawa Barat agar tetap stabil dimana hal itu diupayakan oleh Pemprov Jabar. Kemudian mencegah agar tidak terjadi PHK di berbagai industri di Jawa Barat.
“Yang terpenting adalah bagaimana menjaga stabilitas ekonomi supaya tidak terjadi menganggur, tidak terjadi PHK. Yang pertama dilakukan adalah bagaimana supaya perusahaan-perusahaan yang ada di Jawa Barat ini tidak melakukan PHK,” ungkap dia.
Ia berharap, kedepannya Pemprov Jabar bersama Disnakertrans Jawa Barat bisa lebih optimal dalam menangani masalah ketenagakerjaan. Seperti PHK pengangguran, keterbukaan lapangan kerja dan lain sebagainya.
Ia menyandarkan agar Dinas Ketenagakerjaan bisa mencontoh langkah pada tahun sebelumnya. Dimana proses pelatihan dan keterbukaan lapangan kerja bagi orang-orang yang terkena PHK di Jawa Barat dilakukan secara kolaboratif dengan berbagai pihak seperti salah satunya dengan lembaga filantropi.
“Mungkin yang sekarang dilakukan adalah yang paling optimal dan baik seperti yang biasa dilakukan oleh Disnaker pada tahun-tahun sebelumnya. Dan dibukanya filantropi-filantropi semoga juga kolaborasi yang dihadirkan ini mampu menjawab beberapa tantangan-tantangan bagi para pengangguran dan terutama adalah yang di PHK. Terbayanglah bahwa PHK dijawab sangat tinggi,” harap dia.
(Niko)

