Beras SPHP Langka di Pasaran, Pedagang Keluhkan Syarat Rumit dan HET yang Tak Menguntungkan
Bandung, Nawacita – Setelah diluncurkan pemerintah pada bulan lalu, beras SPHP atau Stabilitas Pasokan dan Harga Pangan yang diluncurkan pemerintah mengalami kelangkaan di sejumlah pasar tradisional. Salah satunya di Pasar Kosambi Kota Bandung Jawa Barat.
Kelangkaan beras SPHP di Pasar Kosambi sendiri disebabkan oleh para pedagang yang enggan untuk membeli pasokan beras SPHP dari Bulog.
Rahmat, salah satu pedagang beras di Pasar Kosambi Kota Bandung mengaku enggan membeli beras SPHP dari Bulog karena persyaratan menjadi pengecer yang dinilai terlalu rumit. Khususnya bagi pedagang di pasar tradisional yang notabene pedagang kecil.
“Banyak birokrasinya, banyak aturannya kita harus ngambil ke sana, harus daftar ke sana, belum udah dapet antri dulu, mending kalo cepet, dipersulit lah, nggak mudah, makanya seakan-akan stok atau pasokan atau panjangan yang jualan itu kosong padahal stok banyak. Itu isi formulir sistem itu tuh kaya yang memberatkan kaya tekanan,” kata Rahmat saya diwawancarai di Pasar Kosambi Kota Bandung, pada Rabu (10/9/2025).
Beberapa persyaratan tersebut seperti Kartu Keluarga dan KTP milik pedagang, NPWP, Nomor Induk Berusaha atau NIB serta Formulir Surat Pernyataan yang harus ditandatangani diatas materai oleh pedagang.
Baca Juga: Stabilkan Harga Beras di Pasaran, Bulog dan Bapanas Salurkan Bantuan ke Masyarakat
Rahmat menyebut, beberapa ketentuan aturan dari Bulog untuk para pedagang dalam mengencerkan beras SPHP dinilai terlalu menekan. Pasalnya, para pedagang hanya boleh menjual minimal satu dan maksimal dua beras SPHP kemasan lima kilogram kepada pembeli.
“Terus ya aturan sistem, ya yang baru itu, formulir yang, ya aturan itu lah, yang bikin istilahnya kaku lah, seolah-olah jadi takutlah khawatir,” ucap dia.
Hal itu dinilai membatasi penjualan para pedagang jika ada masyarakat yang ingin membeli lebih dari dua. Apalagi, beras SPHP sendiri saat ini sedang banyak dicari oleh masyarakat.
Para pedagang juga mengeluh terkait harga eceran tertinggi yang diterapkan pemerintah dalam menjual beras SPHP. Menurut para pedagang, harga jual tersebut dinilai tidak menguntungkan.
“Kalau ada ya, udah ada HET nya sih 12.5 atau 5 kilo 62.500. Ya keuntungan sih ada, cuma yang tipis lah itu belum ya ngabisin waktu, tenaga dan materi juga,” beber Rahmat.
Terlebih, pengambilan beras SPHP harus dilakukan secara mandiri oleh para pedagang ke gudang Bulog. Hal itu tentunya membuat para pedagang harus mengeluarkan kos modal lebih besar jika ingin menjual beras SPHP.
“Harganya 11 ribu Tapi kita harus ambil kesana langsung. Mending kalau kita ya pengusaha, usaha gede lah gitu Ini kan yang biasa-biasa, yang usaha kecil kayak pasar tradisional kan nggak punya modal roda empat. Harus ngambil kesana langsung. Kalau nyampe kesini, harganya udah lain lagi,” papar dia.
Jika para pedagang melanggar ketentuan di atas maka mereka bisa terancam pidana. Akhirnya, para pedagang merasa resah dan takut bahkan enggan untuk membeli pasokan beras SPHP dan dijual di toko beras mereka.
“Iya jelas, jadi ya aturannya seolah – olah tekanan ya doktrin atau ultimatum lah, kita nggak leluasa untuk istilahnya menjual iya ada aturan istilahnya masuk perundang-undangan pidana gitu kalau misalnya kita, ya melanggar lah nah disitu suatu ancaman bagi kita sebagai pedagang,” tutur Rahmat.
Baca Juga: Isu Beras Oplosan Bikin Pedagang dan Pembeli Was-Was
Hal senada juga diungkapkan oleh Asep selaku salah satu pedagang beras di Pasar Kosambi Kota Bandung. Asep menilai bahwa aturan yang rumit menjadi salah satu kendala para pedagang dalam mengajukan pembelian beras SPHP untuk kembali dijual di pasar tradisional.
“Berkaitan persoalannya tadi kenapa perdagangan pasar tradisional tidak menjual? Memang ada satu prosedural yang memang kurang di apa kurang begitu sedikit agak sedikit memberatkan lah oleh para perdagangan itu persyaratannya,” ungkap Asep saat diwawancarai di Pasar Kosambi Kota Bandung, Rabu (10/9/2025).
Menurutnya, persyaratan tersebut dinilai memberatkan para pedagang beras khususnya para pedagang beras di pasar tradisional. Sebab, notabene pedagang beras di pasar tradisional merupakan pedagang kecil.
“Ya sebetulnya kan pedagang tradisional itu sepengetahuan saya, ini kan perdagangan yang dari rumah ke pasar dia berjualan, berjualan kemudian punya untung langsung pulang ke rumah,” kata dia.
Asep berharap pihak Bulog bisa segera memberikan solusi atas permasalahan yang dihadapi para pedagang beras di pasar tradisional dalam menjual beras SPHP.
“Seperti apa, kebutuhan yang utama dan untuk masalah beras ini. Sebetulnya yang diinginkan oleh pedagang itu kemudahan aja lah intinya kang. Untuk kemudahan mendapatkan barang SPHP, kemudian dengan aturan-aturan penjualan dan aturan yang sudah diatur,” harap dia.
Reporter: Niko

