Monday, February 9, 2026

Buntut Kasus Kematian Raya, KDM Evaluasi Seluruh Kades di Jawa Barat

Buntut Kasus Kematian Raya, KDM Evaluasi Seluruh Kades di Jawa Barat

BANDUNG, Nawacita – Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi mengevaluasi seluruh kinerja kepala desa dalam memberikan pelayanan dan perhatian terhadap masyarakat. Dedi meminta agar seluruh kepala desa peka terhadap permasalahan di lingkungan serta keluhan dari masyarakatnya.

“Memintanya adalah kepala desa, itu harus mulai peka terhadap lingkungan, kemudian terbuka terhadap keluhan warga kan berbagai problem yang muncul saat ini, itu kan akibat tidak pekanya terhadap urusan masyarakat,” ungkap Dedi saat dikonfirmasi di Gedung Sate Bandung pada Selasa (26/8/2025).

Hal itu dilakukan Dedi menyusul kasus kematian Raya, seorang balita di Sukabumi yang meninggal akibat digerogoti cacing dan diduga kurang diperhatikan oleh layanan kesehatan dan pihak desa. Pasalnya, menurut hasil penelusuran Dedi, diketahui bahwa orang tua dari Raya tidak mengalami gangguan jiwa melainkan hanya mengalami TBC dan Bronkitis.

- Advertisement -

Terlebih, orang tua dari Raya sendiri merupakan tukang pijat langganan kepala Desa. Hal tersebut membuat Dedi heran sebab kondisi Raya sendiri sampai tidak diketahui oleh pihak desa. Bahkan desa sendiri diduga tidak memberikan bantuan untuk pengobatan Raya maupun orangtuanya.

Baca Juga: Menkes Sebut Kasus Kematian Raya Akibat Cacingan Jadi Alarm Pemerintah untuk Evaluasi Layanan Kesehatan

“Saya misalnya, ya oke, yang kasus raya misalnya, setelah saya bertemu dengan bapaknya Raya, ternyata bapaknya Raya tukang pijitnya Pak Kades. Nah, sekarang masa mijitin Pak Kades setiap hari, kemudian bapaknya Raya itu kena bronkitis, istri ibunya Raya kena TBC, kok nggak sampai diobatin,” tutur Dedi.

Padahal, lanjut Dedi, jika memang pihak desa tidak mampu menangani karena kekurangan biaya. Dirinya siap untuk membantu dan menangani permasalahan kesehatan dari Raya dan kedua orangtuanya.

“Sekarang kalau bicara tidak ada uang untuk berobat, kan saya sudah membuka diri. Udah lapor Gubernur ditanganin, kan nggak ada masalah. Yang kedua, kepekaan berbagai hal yang menyangkut di desa. Saya, saya sampaikan, apa sih kehilangan desa hari ini?,” cetus dia.

Dari kasus tersebut Dedi menilai bahwa sess hari ini telah kehilangan tokoh yang memang mengerti dan paham terkait berbagai hal di pedesaan. Dari mulai lingkungan hingga masalah pembangunan.

“Desa itu kehilangan tokoh loh sekarang. Tokoh yang ngerti lingkungan, tokoh yang ngerti pertanian, tokoh yang ngerti kehutanan, tokoh yang ngerti tata bangunan, tokoh yang ngerti tata ruang, tokoh-tokoh adat tuh hilang dari desa hari ini,” tutur Dedi.

Bahkan menurutnya, pamor gaya pembangunan yang dilakukan orang-orang jajaran desa hari ini kalah dengan gaya pembangunan orang tua dahulu yang bisa membangun desa tanpa anggaran.

“Banyak di desa orang pinter, tetapi kalah pamor gaya membangunannya dengan tokoh-tokoh orang tua kita dulu. Bayangin aja orang tua kita dulu bisa membuat sawah di desa-desa loh tanpa anggaran, bisa membangun jalan tanpa anggaran, bisa membuat selokan tanpa anggaran,” beber dia.

Maka, ia menyarankan agar ketokohan di desa kembali dihidupkan dengan melibatkan tokoh adat di masyarakat yang mengerti terhadap lingkungan, kehutanan, pembangunan, pertanian hingga tata ruang di wilayah desa.

“Nah sekarang yang sudah ada anggarannya, kenapa kalah sama tokoh-tokoh yang orang tua kita dulu? Nah, sehingga sekarang di desa harus dihidupkan kembali ketokohan, yang tokoh itu menjadi inspiratif pembangunan,” tutup dia.

(Niko)

RELATED ARTICLES

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Terbaru