Tuesday, February 10, 2026

Embran Nawawi Angkat Batik Klampar dengan Konsep Sound of The Sea untuk Dorong Ekonomi Budaya

Embran Nawawi Angkat Batik Klampar dengan Konsep Sound of The Sea untuk Dorong Ekonomi Budaya

Surabaya, Nawacita | Hal menarik hadir pada konser musik klasik bertajuk “Perayaan Suara Rasa” yang berlangsung di Amadeo Music Hall/SMAC, Sabtu, (16/8/2025).

El Vatikan yang berkolaborasi dengan Dua Ketuk tampil dengan baju bernuansa batik berwarna biru laut yang memiliki corak biota laut sebagai ciri batik pesisiran.

Pakaian tersebut merupakan karya desainer kenamaan Indonesia, Embran Nawawi yang menampilkan Batik Klampar yang berasal dari desa Klampar di kecamatan Propo, kabupaten Pamekasan.

- Advertisement -

Batik Klampar merupakan hasil kolaborasi dengan PT Pelabuhan Indonesia (Persero) Regional 3 atau Pelindo.

Baca Juga: Pemkot Surabaya Berdayakan Kampung Pancasila Kelurahan Rangkah Lewat Bank Sampah dan Kampung Jahit

“Pelindo adalah transportasi armada di Indonesia lewat laut. Maka saya ambil ide Sound of the Sea. Saya buat teman-teman di sana untuk memahami bahwa laut itu tidak hanya ikannya, tidak hanya pantainya, tapi juga ada tengah lautnya, ada dasar lautnya, ada permukaan laut, ada angin, dan segala macam,” ucap Embran Nawawi.

Pembuatan Batik Klampar awalnya bertujuan agar mampu meningkatkan perekonomian masyarakat. Namun pada saat ingin menghasilkan Batik Klampar, Embran Nawawi menemui berbagai tantangan.

“Ternyata mereka sempat tidak punya gambaran tentang lautan itu seperti apa. Terus saya mengajari mereka untuk membuat warna yang gradasi percikan air, baru saya kasih motif biota laut,” ujarnya.

Embran Nawawi menjelaskan dengan makin dikenalnya Batik Klampar, pihaknya meyakini bahwa pertumbuhan ekonomi dapat berjalan bagi masyarakat Desa Klampar.

“Pekerjaan rumah besarnya kita sebenarnya bukan UMKM, melainkan ekonomi budaya. Di ekonomi budaya dia ada UMKM di dalamnya, ada kesenian yang gak pernah kita bayangkan, kemudian ada transportasi untuk mereka latihan atau mereka bekerja. Dengan adanya konsep seperti ini perputaran ekonomi budaya itu bisa lebih cepat,” ungkapnya.

“Dengan ekonomi budaya, kecepatan produk seperti ini. Yang tadi yang tertinggal tetap hidup, desainer tetap hidup, bahkan yang memberikan dana untuk penelitian pun tetap berjalan,” imbuhnya.

Baca Juga: Proyek Transportasi Rendah Karbon di Surabaya, Kemenhub dan Inggris Sinergi Wujudkan Kereta Urban

Embran Nawawi menjelaskan bahwa dirinya saat ini sedang berinovasi menciptakan batik yang tidak terbatas oleh gender, dan usia. Sehingga mampu memiliki pasar yang jauh lebih luas

“Tanpa gender, tanpa batasan usia, karena market susah kalau kita sudah blok, ditambah genre sekarang kan beda, gen X, gen Z, gen Y. Semua itu baju bagus buat saya, saya gak peduli untuk usia berapa, dan itu yang saya coba pecahkan dengan menciptakan batik yang no gender,” katanya.

Sehingga diharapkan Batik Klampar mampu makin berinovasi menyesuaikan dengan zaman sehingga mampu memiliki target pasar yang tidak terbatas.

“Ini yang saya sebut bibit ekonomi budaya yang mereka harus pahami,
dari kampung masuk ke arah modern,
dari modern masuk ke gaya hidup, hingga akhirnya jadi kebutuhan,” tutupnya.

Reporter : Rovallgio

RELATED ARTICLES

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Terbaru