Derita Dibalik Gemerlap Kota, Kisah Kakek Aye Sutisna dan Janji Pemerintah yang Runtuh
BANDUNG, Nawacita – Rasa sedih tak bisa dibendung oleh Kakek Aye Sutisna saat melihat bagian depan rumah kesayangan miliknya tiba-tiba roboh karena lapuk dimakan usia pada Selasa, 12 Agustus 2025 pukul 08.00 pagi.
Rumah tua yang terletak di Kampung Kebon 7 RT 01 RW 04 Kelurahan Ciumbuleuit Kecamatan Cidadap Kota Bandung itu telah berdiri sejak tahun 1997 dan berusia 48 tahun. Rumah milik kakek tiga anak itu tak pernah direnovasi sejak berdiri karena keterbatasan ekonomi.
“Kejadiannya tadi pagi, sekitar pukul setengah delapan kurang ya. Ketika saya mau berangkat kerja, tiba-tiba ada suara ambruk langsung gitu gemuruh kenceng banget. Dan saya kemudian tengok ke belakang ternyata puing-puing di atas itu udah roboh memenuhi ini, jalan depan ini gitu. Lekas-lekas saya kerjakan, bereskan karena takutnya ada paku dan sebagainya, saya bereskan, rapikan supaya anak-anak yang sering bermain nggak terluka gitu,” kata Alvin, salah seorang saudara Kakek Aye saat diwawancarai pada Selasa (12/8/2025) petang.
Parahnya, kondisi rumah yang lapuk dan ekonomi Kakek Aye yang terbatas justru luput dari sorotan pemerintah. Rumah tersebut pernah sempat didata untuk mendapat bantuan program Rumah Tidak Layak Huni atau Rutilahu. Namun hingga saat ini tidak ada kejelasan sama sekali terkait bantuan tersebut hingga rumah Kakek Aye roboh.
Baca Juga: Pemkot Tutup Alun-Alun Bandung Sementara Waktu, DKPP: Penataan Tahap Dua
“Hanya ada pendataan doang tapi tidak ada realisasinya. Dan itu sangat disayangkan, padahal sudah dimintai segala bentuk administratifnya, tapi realisasinya tidak ada,” ucap dia.
Kondisi tersebut akhirnya memaksa Kakek Aye tinggal bersama satu anak dan tiga cucu berdesak desakan dalam rumah yang hanya memiliki satu kamar tidur tanpa kamar mandi. Bahkan kakek aye hanya memiliki satu petak tempat tidur di ruang depan dengan menggelar tikar.

“Kalau malam, tidur itu berdempetan. Karena ada yang tidur di sini itu ada 5 orang gitu. Yang tidur di sini sementara kan anak uwa itu ada 4. Yang 3 itu udah mencar gitu. Udah tinggal di tempat yang lain. Misalnya di sini semua dengan kondisi yang hanya berapa meter ini. Mereka tidur bertumpuk di sini. Dan kebetulan di rumah ini itu nggak ada ventilasi sama sekali gitu,” tutur Alvin.
Bagian dalam rumahnya juga terlihat sudah lapuk dan hampir roboh, atap yang seharusnya menjadi pelindung dari panas dan hujan sudah banyak berlubang dengan ukuran besar. Jika hujan besar datang, rumah tersebut menjadi becek akibat atap yang bocor. Hingga Kakek Aye harus berpindah tidur ke atas sofa jadul yang sudah lapuk.
“Dari gentingnya aja masih genting yang lama udah, kalau diinjak pasti patah sudah keropos semuanya. Dan atap-atap yang di dalamnya juga udah di tahanannya itu udah nggak kuat. Makanya udah agak pendek,” beber dia.
Untuk bertahan hidup, kakek aye kerap menerima bantuan dari tetangga. Cucu pertamanya yang bekerja sebagai pengemudi ojek online juga sering membantu membeli kebutuhan makan.
“Makanya sekarang kondisinya uwa saya sakit gitu, sering merasa engap dan sebagainya kemudian saudara saya gitu, ipar saya sakit juga sehingga tidak biasa bekerja sebagai ojek online, libur dulu karena memang ada gangguan kesehatan dengan paru-parunya,” papar Alvin.
Alvin sendiri berharap rumah Kakek Aye dapat diperbaiki agar layak ditempati anak dan cucunya kelak ketika Kakek Aye telah meninggal. Ia khawatir kondisi lembab tanpa ventilasi membahayakan kesehatan keluarga, terlebih cucu pertamanya kini menderita TBC.
(Niko)

