Saturday, March 28, 2026
Home DAERAH JATIM Sederet Komitmen Dinkes dan Pukesmas di Jember dalam Menekan Stunting

Sederet Komitmen Dinkes dan Pukesmas di Jember dalam Menekan Stunting

0
581
Dinkes Jember
Kepala Puskesmas Klatakan dengan dr spesialis anak saat memberikan materi. (Foto: Mujianto/Nawacita.co).
Disbun Idulfitri

Jember, Nawacita.co – Penurunan angka stunting merupakan salah satu prioritas utama Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Jember dalam upaya peningkatan kualitas kesehatan generasi masa depan.

Dalam kegiatan ini, Puskesmas Klatakan berkolaborasi dengan dokter spesialis anak dalam menekan angka stunting di desa binaannya.

Disbun Idulfitri

“Stunting tidak hanya berdampak pada pertumbuhan fisik anak, tetapi juga memengaruhi perkembangan otak, kemampuan belajar, serta produktivitas di masa depan,” kata dr Beny Herlingga, Kepala Puskesmas Klatakan Jember, Rabu (30/7/2025).

“Oleh karena itu, Intervensi yang tepat, terukur, dan berkelanjutan menjadi sangat penting,” tambahnya.

Menurur dr Beny, dalam memperkuat upaya ini, peran tenaga kesehatan, khususnya dokter spesialis anak, menjadi sangat strategis.

“Peran aktif dalam deteksi dini gangguan tumbuh kembang, pemberian edukasi gizi kepada orang tua, serta penyusunan rencana perawatan dan pemantauan tumbuh kembang anak dengan risiko stunting,” jelasnya.

Pihaknya berharap, kolaborasi lintas sektor dan pendampingan oleh dokter spesialis anak, masyarakat kini mendapatkan akses informasi dan layanan kesehatan yang lebih komprehensif.

“Pemeriksaan rutin tinggi dan berat badan, skrining status gizi, serta penanganan penyakit penyerta yang dapat memperburuk stunting menjadi lebih terstruktur dan berbasis bukti,” tegas dr Beny.

Baca Juga: Aksi Sosial RSD Balung-BKPSDM Jember Pada Pengantri BBM: Bagikan Roti, Air hingga Cek Kesehatan Gratis

Ia pun yakin dengan sinergi yang kuat, keterlibatan aktif dokter spesialis anak, dan peran serta masyarakat, target penurunan angka stunting nasional dapat tercapai.

“Mari bersama wujudkan generasi sehat, cerdas, dan unggul untuk masa depan Jember yang lebih baik,” ungkap dr Beny.

Sementara itu, dr Devina Marchita Inge Santoso menyampaikan bahwa stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita di bawah lima tahun akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang.

“Stunting terjadi pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yaitu dari janin hingga anak berusia 23 bulan,” katanya.

Menurutnya, stunting diukur berdasarkan tinggi badan anak dibandingkan dengan usianya.

“Anak yang tingginya berada di bawah batas ambang untuk usianya dianggap mengalami stunting,” jelas dr Devina.

Kegiatan ini didukung oleh peningkatan kapasitas tenaga kesehatan di lini terdepan.

“Seperti bidan dan petugas gizi puskesmas, yang terus mendapatkan arahan teknis dan supervisi. Dengan demikian, intervensi gizi spesifik dan sensitif dapat diberikan secara optimal sejak 1.000 HPK masa yang paling krusial dalam pencegahan stunting,” tandas dia.

Reporter : Mujianto

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here