Pemerintah Wacanakan Hapus Beras Premium dan Medium, Begini Respon Penjual
Bandung, Nawacita – Kementerian Perdagangan (Kemendag) mewacanakan penghapusan beras medium dan beras premium. Hal itu merupakan buntut dari terungkapnya kasus beras oplosan oleh Kementerian Pertanian beberapa waktu lalu.
Wacana tersebut tentu mendapat berbagai tanggapan dari banyak pihak. Salah satunya dari penjual beras yang justru belum tahu terkait wacana tersebut. Seperti pengakuan Rahmat (50) seorang penjual beras di Pasar Kosambi Kota Bandung.
Rahmat mengaku bahwa dirinya belum mengetahui sama sekali terkait wacana tersebut. Ia baru mengetahui saat dimintai tanggapan oleh awak media pada Senin, 28 Juli 2025.
“Belum pernah tahu, belum pernah ada baru kali ini informasinya,” ungkap Rahmat.
Meski wacana tersebut nantinya diresmikan dan mulai diberlakukan, Rahmat menilai hal tersebut tidak akan terlalu berpengaruh terhadap penjualan. Terlebih pedagang beras di pasar ini didominasi oleh pedagang tradisional.

“Kalau saya sendiri sebagai pedagang tradisional, nggak ada efek sih kalau kayak bergerak begitu. Ya kalau saya sih yang jualan karena kebetulan responnya juga nggak begitu apa ya kurang. Sekarang ada perubahan yang nama kayak gitu ya, saya sih ikut-ikut aja sih,” kata dia.
Jika memang wacana tersebut bakal diberlakukan, Rahmat berharap hal itu bisa efektif untuk menangani maraknya kasus beras oplosan. Mengingat adanya kasus tersebut banyak merugikan pembeli dan pedagang hingga berpengaruh terhadap penjualan dan harga beras.
“Yang mudah-mudahan ada perbaikan lah. Apalagi karena ada kasus yang kemarin isu oplosan, mudah-mudahan ya jadi pelajaran lah gitu. Nah yang namanya di pasar tradisional sih biasanya variannya banyak sih. Kalau untuk kayak itu ya penggantian atau perubahan istilah itu ya, saya kira ya gimana nantinya aja lah,” beber Rahmat.
Rahmat juga meminta agar pemerintah bisa mensosialisasikan wacana tersebut kepada para pedagang terlebih dahulu sebelum nantinya diberlakukan secara resmi.
“Mudah-mudahan nggak ada perubahan, nggak ada penurunan, malah-malah, ada istilahnya perbaikan untuk lebih maju lagi. Semenjak ada isu kemarin oposan itu malah-malah ya pemerintah sendiri ya jujur lah. Belum ada tindakan untuk ke pasar tradisional,” tutur dia.
Baca Juga: Stabilkan Harga Beras di Pasaran, Bulog dan Bapanas Salurkan Bantuan ke Masyarakat
Hal yang sama juga diungkap oleh Asep, penjual beras lainnya di Pasar Kosambi Kota Bandung. Asep mengaku bahwa dirinya sebelumnya pernah mendengar dari orang lain terkait wacana tersebut. Namun ia belum mendapat kabar resmi pemerintah yang mensosialisasikan hal itu kepada para pedagang.
“Kalau yang bilang mah ada mah ada (tau) cuman kalau ke pasar Kosambi mah belum (belum ada sosialisasi),” ujar Asep.
Ia juga menyebut bahwa wacana penghapusan beras medium dan premium dari pasaran dirasa tidak akan berpengaruh terhadap penjualan dan konsumennya.
“Kalau menurut Abah mah mau medium atau premium diadain mau gak diadain dan ga pengaruh,” ucap dia.
Dengan dihapusnya beras premium dan medium sendiri, pemerintah nantinya hanya memperbolehkan dua kategori beras yang dijual. Diantaranya adalah beras biasa dan beras khusus.
Beras khusus sendiri merupakan beras dengan jenis tertentu yang memerlukan izin dan sertifikasi dari pemerintah, seperti beras ketan, japonica dan basmati. Sementara beras biasa merupakan beras yang diproduksi para petani lokal dan disubsidi oleh pemerintah.
Reporter: Niko

