Tuesday, February 10, 2026

Profil Ayatollah Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran yang Siap Perang dengan Israel

Profil Ayatollah Ali Khamenei, Pejuang Revolusi Iran serta Disebut Cucu Rasulullah SAW ke-38

JAKARTA, Nawacita – Profil Ayatollah Ali Khamenei, Di balik keberanian Iran menyerang balik Israel dalam sepekan terakhir ada sosok yang menjadi sorotan. Adalah Ayatollah Ali Khamenei. Khamenei adalah pemimpin tertinggi Republik Islam Iran yang berkuasa selama 35 tahun sejak 1989.

Setelah dideklarasikan gencatan senjata antara Iran dan Israel, Khamenei muncul untuk pertama kalinya ke publik sejak 19 Juni 2025. Pemimpin tertinggi Iran itu mengklaim bahwa negaranya menang atas Israel-Amerika.

“Saya merasa perlu untuk mengucapkan selamat kepada negara besar Iran. Ada beberapa ucapan selamat yang perlu disampaikan. Pertama, selamat atas kemenangan atas rezim Zionis,” kata Khamenei dalam sebuah video, dikutip dari Tehran Times, Jumat (27/6/2025).

- Advertisement -

Khamenei menyebut Israel hampir hancur jika seandainya tidak dibantu oleh Amerika. “Terlepas dari semua kegaduhan dan klaim mereka, rezim Zionis hampir bertekuk lutut dan hancur di bawah hantaman Republik Islam,” tuturnya.

Marja kaum Syiah ini juga berterima kasih dan mengucapkan selamat atas persatuan dan solidaritas luar biasa bangsa Iran. “Puji Tuhan, bangsa yang berpenduduk sekitar 90 juta orang itu bersatu padu, bahu-membahu, tanpa ada perbedaan dalam tuntutan atau tujuan yang diungkapkan,” ucapnya.

Dari Santri ke Pemimpin Absolut

Lahir sebagai anak seorang ulama kecil di kota suci Masyhad di timur Iran, Khamenei muda memulai perjalanan politiknya pada 1960-an dalam atmosfer ketegangan di bawah pemerintahan Shah Mohammad Reza Pahlavi yang saat itu sedang meluncurkan program reformasi modernisasi. Reformasi ini ditentang keras oleh kalangan ulama konservatif.

Sebagai mahasiswa agama di kota Qom, pusat studi teologi Syiah, Khamenei dipengaruhi oleh ajaran Islam konservatif serta pemikiran radikal Ayatollah Ruhollah Khomeini, tokoh oposisi utama yang kala itu telah diasingkan. Pada akhir 1960-an, Khamenei telah menjadi agen bawah tanah Khomeini dan penyelenggara aktivitas Islamis di Iran.

Baca Juga: Perbandingan Kekuatan Militer Israel vs Iran, Jumlah Personel Militer Hingga Senjata Nuklir

Selain pemikiran religius, Khamenei juga menyerap ideologi anti-kolonial dan anti-Barat yang berkembang kala itu. Ia dikenal sebagai penggemar karya sastra Barat seperti Leo Tolstoy, Victor Hugo, dan John Steinbeck, namun pada saat yang sama aktif menerjemahkan karya-karya Sayyid Qutb – ideolog Islam radikal asal Mesir – ke dalam bahasa Farsi.

Ditangkap dan dipenjara berulang kali oleh dinas intelijen Iran, Khamenei tetap mampu berperan dalam revolusi tahun 1978 yang menggulingkan Shah. Ia dengan cepat naik dalam hierarki pemerintahan baru dan pada 1981 terpilih sebagai presiden, meski posisi itu lebih bersifat seremonial.

Profil Ayatollah Ali Khamenei
Profil Ayatollah Ali Khamenei, Pejuang Revolusi Iran serta Disebut Cucu Rasulullah SAW ke-38.

Ia juga selamat dari upaya pembunuhan yang menyebabkan lengan kirinya lumpuh permanen. Setelah kematian Khomeini pada 1989, Khamenei diangkat sebagai pemimpin tertinggi menggantikan mentornya itu, setelah dilakukan amandemen konstitusi agar syarat keulamaan bisa lebih longgar. Sejak itu, ia memperluas kekuasaannya dan membangun kontrol menyeluruh atas struktur negara Iran pasca-revolusi.

Imperium Kekuasaan

Salah satu fondasi utama kekuasaannya adalah Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), institusi militer dan ideologis yang memiliki pengaruh luas di bidang sosial dan ekonomi Iran. Namun Khamenei tak semata-mata bergantung pada IRGC, ia juga secara cermat menjalin aliansi dengan kelompok dan tokoh-tokoh berpengaruh lainnya.

Selama dekade 1990-an, ia secara sistematis menyingkirkan lawan politik, memberikan penghargaan bagi loyalisnya, dan bahkan ikut membungkam para penyair yang dulu ia puji. Pembangkang di luar negeri menjadi target pembunuhan, dan hubungan dengan Hizbullah yang didirikan IRGC setelah revolusi makin diperkuat.

Ia menempatkan prinsip-prinsip revolusi sebagai fondasi kebijakan, tetapi menerapkannya secara pragmatis. Ketika Mohammad Khatami, seorang reformis, terpilih sebagai presiden pada 1997, Khamenei membiarkannya melakukan sejumlah manuver diplomatik termasuk pendekatan ke AS pascaserangan 11 September. Namun, ia tetap menjaga agar inti ideologi republik Islam tidak terganggu.

Khamenei juga mendukung taktik IRGC dalam menghadapi AS di Irak setelah invasi 2003, dengan menggunakan kelompok proksi untuk menekan kehadiran militer Amerika dan memperluas pengaruh Iran di kawasan.

Strategi ini juga digunakan terhadap Israel yang sejak 1979 dijuluki sebagai “Setan Kecil,” dalam aliansi dengan AS sebagai “Setan Besar”.

Nama Ali Khamenei memang terus menjadi perbincangan hangat, terutama semenjak saling balas serangan antara Iran dan Israel pada medio Juni 2025. Publik pun banyak yang penasaran dengan profil Ali Khamenei.

Ada yang mengklaim bahwa Khamenei adalah seorang keturunan Rasulullah SAW. Lantas benarkah demikian? Simak profil Ali Khamenei, pemimpin tertinggi Iran yang dirangkum dari berbagai sumber.

Silsilah Keluarga Ali Khamenei

Khamenei lahir pada 19 Juli 1939 dari keluarga ulama, terutama pada garis ibu. Ibu Khamenei adalah anak dari Ayatollah Sayyid Hashem Najafabadi Mirdamadi.

Khamenei juga merupakan keturunan bangsawan. Ayahnya bernama Sayyid Hussein Khamenei, putra Sayyid Mohammad Husseini Tafreshi.

Pemimpin tertinggi Iran ini disebut memiliki garis keturunan langsung dengan Rasulullah SAW. Nasab Khamenei tersambung ke Rasulullah SAW ditelusuri melalui cucu nabi, Imam Husain, kemudian Imam Zainul Abidin.

Bahkan, Khamenei mempertahankan gelar Sayyid. Ini adalah gelar yang diberikan kepada mereka yang dipercaya sebagai keturunan Rasulullah SAW. Di Indonesia, mereka yang ahlul bait dikenal sebagai habib.

Laporan Shiite News menyebutkan bahwa Khamenei adalah cucu ke-38 Nabi Muhammad SAW. Garis keturunan Khamenei bersumber dari leluhur mulia, mulai dari kakek pihak ayah, Sayyid Hussein Khamenei, hingga kakek dari pihak ibu, Sayyid Hashem Najafabadi Mirdamadi.

Jejak Ali Khamenei

RELATED ARTICLES

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Terbaru