Saturday, February 14, 2026

Tradisi Malam 1 Suro: Kekuatan Spiritual di Balik Warisan Budaya Jawa

Nawacita – Malam 1 Suro menjadi salah satu tradisi yang masih dijaga oleh masyarakat Jawa hingga saat ini.

Momen yang bertepatan dengan tanggal 1 Muharam dalam kalender Hijriah ini bukan sekadar perayaan pergantian tahun, melainkan sarat akan nilai spiritual dan budaya.

Sejarah peringatan malam 1 Suro tak lepas dari peran Sultan Agung Hanyakrakusuma, Raja Mataram Islam yang pada 8 Juli 1633 Masehi (Jumat Legi, Jumadil Akhir 1555 Saka) menetapkan sistem penanggalan Jawa yang mengadopsi kalender Hijriah.

- Advertisement -

Sejak saat itu, 1 Suro dirayakan sebagai Tahun Baru Jawa yang bersamaan dengan peringatan Tahun Baru Islam.

Informasi yang dihimpun dari berbagai sumber, masyarakat Jawa meyakini bulan Suro sebagai bulan yang sakral dan penuh makna.

Dalam menyambutnya, berbagai ritual digelar sebagai bentuk syukur dan doa memohon keselamatan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Baca Juga: Mengenal Mitos Malam 1 Suro, Larangan Gelar Pernikahan Hingga Pindah Rumah

Tradisi malam 1 Suro diwariskan secara turun-temurun dan memiliki ragam pelaksanaan di berbagai daerah. Di antaranya adalah kegiatan spiritual seperti tirakat, doa bersama, dan kirab pusaka.

Tujuan utamanya adalah menyucikan diri dari berbagai hal negatif selama setahun terakhir serta menyambut tahun baru dengan semangat pembaruan diri.

Kepercayaan terhadap kekuatan spiritual di malam Suro juga mendorong sebagian masyarakat untuk menghindari aktivitas besar, seperti pernikahan atau perjalanan jauh. Sebaliknya, mereka memilih untuk merenung, memperbanyak doa, dan berdiam diri sebagai bentuk introspeksi diri.

Meski tradisi ini erat dengan budaya kejawen, makna di baliknya tidak melulu berbau mistis. Malam 1 Suro justru menyimpan pesan moral untuk selalu mengevaluasi dan memperbaiki diri menuju kehidupan yang lebih baik.

Di tengah arus modernisasi, tradisi malam 1 Suro tetap menunjukkan relevansinya dalam kehidupan masyarakat Jawa.

Selain menjadi wadah spiritual, tradisi ini juga menjadi bagian penting dari upaya pelestarian kearifan lokal yang patut dijaga keberlanjutannya.*

RELATED ARTICLES

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Terbaru