Mengenal Sejarah Carok Madura, Tradisi yang Sering Timbulkan Korban Jiwa
JAKARTA, Nawacita – Mengenal Sejarah Carok Madura, Peristiwa berdarah berjuluk carok masal yang terjadi di Desa Bumianyar, Kecamatan Tanjungbumi, Kabupaten Bangkalan, pada Jumat (12/1/2024) menewaskan 4 orang. Dua pelaku ditangkap dan ditetapkan sebagai tersangka, yakni kakak beradik Hasan Busri (39) dan Moh Wardi (30).
Dua bersaudara tersebut melawan sedikitnya sepuluh orang. Empat orang di antaranya meninggal. Sebelum berangkat carok, pelaku sempat pamit ke ibunya. Mereka dilarang namun nekad. “Pelaku tetap maksa ke TKP, ketika sampai di TKP, di tempat cekcok mulut, motor adiknya belum berhenti full, salah satu saudaranya melompat,” kata Kapolres Bangkalan AKBP Febri Isman Jaya. Lantas, apa itu carok? Bagaimana asal-usul carok yang disebut berasal dari Madura? Simak penjelasannya berikut ini.
Pengertian Carok
Mengutip dari situs Universitas Gajah Mada, carok adalah ritual pemulihan harga diri ketika diinjak-injak oleh orang lain, yang berhubungan dengan harta, tahta dan wanita. Carok dianggap sebagai satu-satunya cara oleh masyarakat Madura sebagai cara untuk mempertahankan harga diri dan kehormatan.
Orang yang melakukan carok menggunakan senjata celurit untuk menyerang lawannya. Meski demikian hal ini tidak berlaku bagi masyarakat lain di luar Madura. Masyarakat di luar Madura mungkin akan menganggap bahwa carok merupakan sebuah tindakan pembunuhan yang keji dan melanggar hukum yang berlaku di Indonesia.
Baca Juga: Sejarah Tarung Sarung, Ritual Pertarungan Adat Suku Bugis
Mengapa Orang Madura Melakukan Carok
Biasanya, kasus carok diawali oleh konflik, meskipun konflik tersebut dilatar belakangi oleh permasalahan berbeda (kasus masalah perempuan, tuduhan mencuri, perebutan warisan, pembalasan dendam) yang mengakibatkan perasaan pelecehan harga diri (martabat). Untuk memulihkan harga diri yang dilecehkan, mereka melakukan carok, yang ternyata selalu mendapat dukungan dari lingkungan sosial.

Semua pelaku carok yang berhasil membunuh musuhnya menunjukkan perasaan lega, puas, dan bangga. Meski demikian, aparat seperti polisi, jaksa, dan hakim menganggap carok termasuk dalam kategori perbuatan kriminal dan pelakunya dapat diberi hukuman sesuai ketentuan yang berlaku.
Asal-usul Tradisi Carok
Dilansir situs Kemdikbud, pelaku carok menggunakan celurit sebagai senjata perlawanannya. Celurit atau clurit bukan sekadar senjata tradisional khas dari Madura, namun tak dapat dipisahkan dari budaya dan tradisi masyarakat Madura.
Celurit dianggap sebagai simbol kejantanan laki-laki. Menurut Budayawan D. Zawawi Imron, senjata celurit memiliki filosofi dari bentuknya yang mirip tanda tanya, bisa dimaknai sebagai satu bentuk kepribadian masyarakat Madura yang selalu ingin tahu.
Carok dan celurit bagaikan dua sisi mata uang yang tak bisa dipisahkan. Hal ini muncul di kalangan orang-orang Madura sejak zaman penjajahan Belanda abad 18 M. Carok merupakan simbol kesatria dalam memperjuangkan harga diri (kehormatan).
Pada zaman Cakraningrat, Joko Tole dan Panembahan Semolo di Madura, tidak mengenal carok. Budaya yang ada waktu itu adalah membunuh orang secara kesatria dengan menggunakan pedang atau keris.
Senjata celurit mulai muncul pada zaman legenda Sakerah, mandor tebu dari Pasuruan. Ia melakukan perlawanan terhadap penjajah Belanda menggunakan celurit yang biasanya hanya digunakan sebagai alat pertanian. Celurit bagi Sakerah merupakan simbol perlawanan rakyat jelata.
Saat lelaki asal Bangkalan itu dihukum mati, warga Pasuruan yang mayoritas berasal dari suku Madura marah dan mulai berani melakukan perlawanan pada penjajah dengan senjata andalan berupa celurit. Sehingga, celurit mulai beralih fungsi menjadi simbol perlawanan, simbol harga diri serta strata sosial.
Lalu, apa hubungan celurit dengan carok? Carok dalam bahasa Kawi kuno artinya perkelahian. Biasanya, carok melibatkan dua orang atau dua keluarga besar, bahkan antar penduduk sebuah desa di Bangkalan, Sampang, dan Pamekasan.
Oleh karena itu, celurit dipakai sebagai senjata dalam carok. Celurit yang dianggap sebagai simbol perlawanan digunakan oleh para pelaku carok dalam mempertahankan harga dirinya.
Penyebab Terjadinya Carok
Penyebab utama memicu terjadinya carok adalah perselingkuhan, pelecehan terhadap istri orang lain atau sengketa atas tanah dan sumber daya alam. Carok dilakukan dengan dua cara utama, yaitu ngonggai dan nyelep, menggunakan senjata khas Madura, yaitu celurit.
Persyaratan melakukan carok termasuk memiliki kesiapan fisik dan mental (kadigdajan), tubuh yang kebal (tampeng sereng), dan biaya untuk memulai carok serta menanggung biaya setelahnya (banda).
Tata Cara Carok
Tata cara carok melibatkan persetujuan keluarga, dilakukan di tempat sepi yang sulit dijangkau oleh masyarakat, dan melibatkan pertukaran celurit serta penyampaian pesan kepada keluarga masing-masing apabila terjadi korban jiwa. Sebelum pelaku carok memenuhi tantangan duel, biasanya mereka akan meminta restu dan doa dari keluarga masing-masing.
Setiap pelaku harus menerima persetujuan dari keluarga sebelum terlibat dalam pertarungan tersebut. Carok menjadi salah satu warisan budaya yang masih eksis di Madura meski sudah banyak ditinggalkan masyarakatnya. Tradisi tersebut menggambarkan kompleksitas tradisi dan nilai-nilai yang masih dijunjung tinggi dalam masyarakat setempat.
ayidtknws.

