Surabaya, Nawacita – Sejumlah pengguna media sosial atau netizen di Jawa Timur menyebut La Nyalla M Mattalitti layak maju di pemilihan Gubernur Jatim 2018 nanti. Mereka melihat Ketua Kamar Dagang Indonesia (Kadin) Jatim itu sudah punya pengalaman dan memiliki jiwa kepemimpinan yang kuat.
Lutfil Hakim, salah satu Netizen yang hadir dalam peluncuran buku Netizen La Nyalla di Surabaya mengatakan, pasca Pakde Karwo Gubernur, Jatim butuh figur yang leadershipnya kuat. Sebab tugas dan fungsi Gubernur dalam sejak Era Otonomi Daerah sifatnya hanya sebagai koordinatif. “Kalau hanya jadi Gubernur, La Nyalla lebih dari cukup. Apalagi sudah pengalaman menjadi Ketua Kadin dua periode,” kata Lutfil Hakim, Senin (15/5).
Ditempat yang sama, Koordinator Netizen La Nyalla, Rohman Amrullah, peluncuran buku yang digagas Kelompok anak muda yang tergabung dalam Netizen La Nyalla membuat empat buku seri kiprah dan pemikiran Ketua Umum Kadin Jatim La Nyalla Mahmud Mattalitti bukan untuk kepentingan politik atau Pilgub Jatim. “Buku ini bukan promosi untuk pilgub, tapi kami ingin menunjukkan tentang person minded La Nyalla,” terang Amru.
Ia menceritakan alasannya meluncurkan buku ini. Yakni Ketika dicari di Google, nama La Nyalla identik dengan hal-hal yang negatif. Netizen akhirnya mencoba untuk mendalami siapa sebenarnya sosok La Nyalla ini. Sosok ini adalah seorang pendidik atau pengajar. “Kami simpati kepada Pak Nyalla. Beliau ternyata pernah mendidik orang-orang yang terstigma sampah masyarakat, seperti jambret, copet dan mereka yang tidak berguna lagi bagi masyarakat dan harus disingkirkan,” katanya.
Namun hal ini tidak menutup kemungkinan bila kemudian rakyat Jatim mendorong La Nyalla menjadi salah satu kandidat pilgub. “Memang Jatim membutuhkan pemimpin yang membela rakyat kecil dan tegas, tapi bukan itu maksud kami membuat buku ini,” imbuh Amrullah.
Menurut dia, Banyak hal dikupas dalam buku ini. Seperti La Nyalla akhirnya merangkul ‘sampah masyarakat’ itu dan mendidik mereka agar bermanfaat bagi masyarakat sekitar. Hal itu dilakukan La Nyalla sekitar tahun 1980-an di Gresik.
Pada tahun 2016, publik juga dibuat heboh dengan kriminalisasi terhadap La Nyalla. Dia dituduh melakukan penyalahgunaan dana hibah Kadin Jatim dalam program akselerasi perdagangan antarpulau dan penguatan UMKM.
“Setahun penuh sepanjang 2016 saya dihajar, tapi saya terus berupaya tegar. Ada pihak yang berencana menghancurkan saya, tapi Allah SWT adalah sebaik-baik pembuat rencana. Pada akhirnya saya semakin yakin, kebenaran bisa disalahkan, tapi kebenaran tak bisa dikalahkan,” ujar La Nyalla dalam buku itu.
Sahabat La Nyalla, Diah Agus Muslim dalam testimoninya mengatakan mengenal La Nyalla sejak tahun 1997 saat menjadi pengurus MPW PP Jatim. La Nyalla dikenalnya pernah menjadi sopir angkot dan tukang cuci piring serta kemana-mana bawa vespa tanpa minder.
“La Nyalla orang yang tidak bisa dipengaruhi siapa pun, meskipun itu orang dekat di sekelilingnya. Dia kalau punya tekad tidak bisa digoyang. Kalaupun harus menabrak tembok, ya ditabrak. Beliau orang yang berani menghadapi resiko,” singkatnya. Rko
Rekan La Nyalla lainnya, Idris Yahya, memberi kesaksian, saat Partai Patriot Pancasila Jatim yang diketuai La Nyalla mendukung calon gubernur Khofifah Indar Parawansa pada Pilgub Jatim 2008. “Ketika itu Bu Khofifah menangis, karena Pak Nyalla tidak meminta mahar atas dukungannya pada pilgub. Bahkan, beliau yang membantu pendanaan untuk kampanye Bu Khofifah. Padahal kita tahu partai-partai hingga saat ini selalu identik dengan mahar kalau memberi dukungan politik,” pungkasnya.
Sumber: JatimMandiri

