Lonjakan Harga Emas Jadi Sinyal Merah Ekonomi Global
Surabaya, Nawacita.co – Harga emas Antam (Logam Mulia) mencatat lonjakan tajam sepanjang 2025 hingga akhir Januari 2026. Pada 29 Januari 2026, harga emas bahkan sempat menembus Rp3,1 juta per gram, dengan kenaikan tahunan mencapai 50–60 persen.
Fenomena ini dinilai bukan sekadar fluktuasi pasar biasa, melainkan cerminan kegelisahan investor terhadap kondisi ekonomi global.
Pakar ekonomi Universitas Kristen (UK) Petra, Dr. Dra. Nanik Linawati, MM, menjelaskan bahwa pergerakan harga emas saat ini dipengaruhi dua tren, yakni jangka pendek dan jangka panjang.
“Dalam jangka pendek, harga bisa mengalami koreksi karena aksi profit taking. Inflasi mulai terkendali dan sentimen pasar berangsur membaik,” ujar dosen Program Studi Manajemen, Program Finance and Investment, School of Business and Management (SBM) UK Petra itu.
Baca Juga: Program GEO Satukan Mahasiswa SUTD dan UK Petra Perkuat Koperasi Lokal
Namun, untuk jangka panjang, Nanik memprediksi harga emas tetap akan cenderung naik. Menurutnya, ketegangan geopolitik, perlambatan ekonomi global, hingga persoalan demografi dunia menjadi faktor utama yang mendorong investor terus mencari aset aman.
Ia menilai kondisi saat ini sebagai fase ekonomi “tidak normal”, di mana harga emas tidak lagi mengikuti pola pasar yang lazim.
“Emas itu langka dan tidak bisa dimanipulasi kebijakan. Berbeda dengan saham atau kripto yang pasokannya bisa ‘diciptakan’. Emas terikat pada hukum alam dan proses penambangan yang panjang,” tegasnya.
Lebih jauh, Dr. Nanik menyebut lonjakan harga emas sebagai “sinyal merah” bagi perekonomian global. Kenaikan ini bukan lagi dipicu permintaan normal, melainkan krisis kepercayaan investor yang mulai meninggalkan aset produktif demi menyelamatkan nilai kekayaan.
“Selama ketegangan geopolitik dan pergeseran aliansi global terus terjadi, emas akan terus mencari level tertinggi baru sebagai tempat berlindung,” ujarnya.
Ia menutup dengan menyebut kondisi ekonomi dunia sebagai “benang kusut”. Di tengah ketidakpastian, emas menjadi sandaran, namun ketenangan dan kebijaksanaan investor tetap menjadi kunci untuk menjaga nilai kekayaan di tengah badai global.
Reporter: Alus

