Monday, February 9, 2026

Mengapa Ide Kreatif Sering Muncul saat di Kamar Mandi? Ternyata Ini Penjelasannya

Mengapa Ide Kreatif Sering Muncul saat di Kamar Mandi? Ternyata Ini Penjelasannya

Jakarta, Nawacita | Ide cemerlang atau solusi atas suatu masalah terkadang muncul saat kita berada di toilet atau kamar mandi. Fenomena yang dikenal sebagai “ide kamar mandi” ini dinilai bukan kebetulan, merupakan hasil kerja otak yang sangat spesifik ketika berada dalam kondisi minim rangsangan luar.

Dokter bedah asal Inggris, dr Karan Rajan, menjelaskan saat mandi, otak tidak sedang dibanjiri oleh rangsangan yang berlebihan. Kondisi ini memicu aktifnya jaringan otak tertentu yang disebut dengan default mode network.

“Jaringan ini berperan penting dalam kreativitas, refleksi diri, dan munculnya wawasan baru. Stimulasi yang rendah, memaksa otak mengisi kekosongan. Kadang yang muncul adalah pemecahan masalah, bukan kecemasan eksistensial atau suara-suara khayalan,” ujarnya dikutip dari laman Hindustan Times pada Selasa (3/2/2026).

- Advertisement -

Mekanisme otak yang sama ini juga menjelaskan mengapa banyak orang mengalami auditory pareidolia atau ilusi pendengaran saat mandi. Gejala ini sering kali berupa perasaan mendengar ketukan pintu, dering ponsel, atau seseorang memanggil nama di tengah suara air. Hal ini ternyata tidak selalu berkaitan dengan hal mistis atau gangguan mental. Dokter Rajan menyebutkan fenomena ini muncul karena otak manusia secara biologis dirancang untuk mendeteksi pola sebagai mekanisme bertahan hidup.

Baca Juga: Kenapa Kamar Mandi Hotel Selalu Dekat Pintu Masuk? Ini Alasannya

Ketika mendengar suara yang berulang dan tidak jelas seperti gemericik air atau white noise, otak tidak akan mengabaikannya begitu saja. Otak akan menganggap suara monoton tersebut sebagai gangguan sistem, lalu mulai memindai ingatan dan pengalaman terdahulu untuk mencari suara yang familier.

Hasilnya, suara tersebut diisi dengan hal-hal yang biasa didengar seseorang. “Otakmu mengisi kekosongan dengan apa yang ia harapkan untuk didengar, bukan dengan apa yang sebenarnya ada. Singkatnya, otak sedang memanipulasi dirinya sendiri,” kata dia.

Fenomena ini serupa dengan pareidolia visual, yaitu ketika seseorang melihat bentuk wajah di awan. Namun, pada pareidolia auditorik, ilusi terasa lebih nyata karena otak pada awalnya mempercayai suara tersebut benar-benar ada.

Baca Juga: 4 Kesalahan Menyimpan Parfum, Di Kamar Mandi Hingga di Atas Meja Rias

Kondisi mental ini tidak hanya terbatas di kamar mandi, karena aktivitas monoton dengan latar suara konstan lainnya juga dapat memicu keadaan serupa. Aktivitas seperti menyedot debu memberikan suara mesin yang konstan sehingga memberi ruang bagi otak untuk mengembara. Demikian pula dengan menyikat gigi, menyetir di jalan tol dengan lintasan yang lurus, hingga mencuci piring yang menjadi pemicu aktifnya jaringan refleksi diri tersebut.

Pada akhirnya, otak membutuhkan momen monotonitas agar bisa mengembara dan membentuk koneksi saraf yang tidak terduga. Dia menyarankan bagi siapa pun yang ingin membuka pintu kreativitas agar tidak takut pada kebosanan.

“Otak membutuhkan monotonitas agar bisa mengembara dan membentuk koneksi saraf yang tidak terduga. Jadi, jika kita ingin membuka lebih banyak kreativitas, mungkin bisa mencoba melakukan sesuatu yang sangat membosankan terlebih dahulu,” ujarnya. rpblk

RELATED ARTICLES
- Advertisment -

Terbaru