Sunday, February 15, 2026

Buah Rambutan Kini Jarang Terlihat di Pasaran, Pakar Ungkap Penyebabnya

Buah Rambutan Kini Jarang Terlihat di Pasaran, Pakar Ungkap Penyebabnya

Jakarta, Nawacita | Buah rambutan biasanya jadi penanda musim akhir tahun. Namun, sebagian masyarakat di media sosial bertanya-tanya ke mana buah rambutan lantaran belakangan tak mudah dijumpai. Ke manakah buah rambutan?

Ada tiga kemungkinan utama penyebab minimnya produksi rambutan pada akhir 2025. Hal ini diungkapkan oleh Prof Sobir, pakar buah tropika dari IPB University.

Menurut Prof Sobir ketiga faktor tersebut adalah iklim, fisiologi tanaman, dan pergeseran nilai ekonomi.

- Advertisement -

Prof Sobir mengurai kondisi iklim 2025 cenderung kemarau basah, sehingga induksi pembungaan tidak optimal. Kemudian, rambutan mempunyai sifat berbuah lebat pada satu tahun dan cenderung berkurang pada tahun berikutnya (biannual bearing) disebabkan cadangan hasil fotosintesis terkuras saat panen sebelumnya.

Baca Juga: 5 Buah yang Baik Dikonsumsi saat Perut Kosong di Pagi Hari

“Pohon buah-buahan tropika seperti rambutan akan berbunga bila tanaman memiliki cadangan hasil fotosintesis yang cukup dan mendapat periode kering selama 2-4 minggu,” jelas Prof Sobir.

“Biasanya tanaman berbunga di awal musim hujan, sekitar Oktober-November, dan dipanen pada Desember saat musim hujan,” lanjutnya, dikutip dari laman IPB University pada Selasa (6/1/2026).

Soal anggapan pohon rambutan semakin sedikit atau tidak lagi berbuah, menurutnya kedua hal ini bisa saja terjadi. Nilai ekonomi rambutan yang relatif rendah membuat petani atau pemilik pohon enggan panen saat jumlah buah sedikit. Petani dapat menilai hal ini tidak ekonomis.

Baca Juga: Waspada! 2 Kelompok Orang yang Harus Hindari Rambutan

Terkait kemungkinan pergeseran musim buah, Prof Sobir mengatakan hal ini tergantung pergeseran pola musim. Apabila periode kemarau berlangsung jelas dan cukup kering, maka produksi buah saat musim berikutnya berpotensi meningkat.

Sementara, pada 2026 Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi secara umum 94,7% wilayah Indonesia mengalami curah hujan tahunan dengan kategori sifat hujan normal dengan curah hujan berkisar antara 1.500-4.000 mm/tahun.

Sedangkan 5,1% wilayah lainnya diprediksi mengalami curah hujan tahunan dengan kategori atas normal. Oleh sebab itu, diharapkan produksi rambutan pada 2026 kembali normal. dtk

RELATED ARTICLES

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Terbaru