Sunday, February 15, 2026

Empati Mendalam! Warung Lontong Khas Medan di Bandung Beri Makan Gratis Mahasiswa Terdampak Bencana Sumatera

Empati Mendalam! Warung Lontong Khas Medan di Bandung Beri Makan Gratis Mahasiswa Terdampak Bencana Sumatera

Bandung, Nawacita – Sebuah Warung Lontong Khas Medan di Jalan Dipatiukur Kota Bandung saat ini tengah menjadi sorotan publik lantaran memberikan makanan secara gratis bagi mahasiswa asal Provinsi Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat yang keluarganya terdampak bencana banjir dan longsor.

Tagor Lubis, pemilik warung lontong tersebut menuturkan, ide memberikan makan gratis bagi mahasiswa yang terdampak bencana itu spontan terbesit di benaknya saat mendengar kabar bencana yang melanda tiga wilayah itu.

“Sebetulnya sederhana aja dan spontan aja. Kita melihat ada saudara-saudara kita yang terkena bencana di daerah Sumatera. Ada yang di Padang, di Sumatera Utara, kemudian di Aceh,” tutur Tagor saat diwawancarai, Selasa (9/12/2025).

- Advertisement -

Menurut dia, para mahasiswa rantau yang berasal dari tiga provinsi yang terkena bencana banjir dan longsor itu secara tidak langsung terkena dampak emosional karena kehilangan kontak dengan keluarga mereka.

Terlebih, bencana yang menimpa Sumatera Barat, Sumatera Utara dan Aceh itu cukup parah bahkan memakan ribuan korban jiwa dan ditetapkan sebagai bencana nasional.

“Karena memang ada beberapa mahasiswa di sini juga yang sempat bercerita bahwa tidak bisa berhubungan dengan keluarganya,” ucap dia.

Tagor Lubis, pemilik warung makan. Foto: Nawacita/Niko.

Selain karena rasa empati terhadap mahasiswa yang terdampak secara emosional, ia juga terinspirasi dari gerakan serupa yang sudah lebih dulu dilakukan oleh beberapa warung di Kota Yogyakarta.

“Sehingga sebetulnya program seperti ini saudara-saudara kita yang di mana itu di Jogja itu sudah lebih dahulu sebetulnya, sudah lebih dahulu gitu ya. Nah, kemudian Kan tidak ada salahnya juga kita contoh yang baik ya,” kata Tagor.

Pria asal Medan Sumatera Utara itu mengungkapkan bahwa langkah yang diambilnya untuk menggratiskan makan tersebut juga bukan tanpa persiapan. Ia bahkan sudah mempertimbangkan semuanya terlebih dahulu hingga mendapat dukungan dari keluarga.

“Nah kemudian di kebetulan saya juga didukung oleh apa namanya itu keluarga. Yang pertama yang menyampaikan program ini anak saya ‘gimana ya kalau kita buat seperti ini?’ nah, saya langsung tersentuh,” ungkap dia.

Usai mendapatkan dukungan dan persetujuan dari keluarga ia pun langsung segera mempersiapkan keperluan untuk melaksanakan program sosial di warung miliknya itu.

“Sehingga saat itu juga juga saya membuatkan, menyiapkan banner seperti ini dan ya karena disini banyak apa namanya itu percetakan-percetakan itu saya langsung ya print itu ya. Saat itu juga kami ini kami tempatkan di sini,” beber Tagor.

Tak berselang lama, mulai banyak mahasiswa asal tiga provinsi yang terkena banjir dan longsor itu datang untuk menikmati makan gratis yang dia sediakan. Tak hanya memberi makan, ia juga turut berempati dengan menanyakan kondisi keluarga mereka yang terdampak bencana.

Baca Juga: Bazar Pangan Murah Jadi Langkah Pemkot Bandung Antisipasi Inflasi Jelang Nataru

“Ada yang bilang itu belum bisa berhubungan gitu ya. Ada yang sudah bisa berhubungan. Tapi kan di dalam benak kita itu apa namanya itu wah Walaupun sudah, sudah bisa berhubungan, tapi di sana juga kan kondisinya parah,” cetus dia.

Tak disangka, aksi sosialnya itu kemudian viral di media sosial dan mendapat banyak dukungan serta komentar positif dari netizen. Bahkan banyak orang dermawan lainnya yang turut menitipkan uang kepada Tagor guna mendukung aksi sosialnya itu.

“Itu ya dan ya kami sebetulnya tidak tidak menyangka bisa seviral ini gitu ya. Oh, iya. Tidak menyangka gitu ya,” ungkap Tagor.

Ia berharap langkah tersebut bisa memberi manfaat kepada para mahasiswa asal Sumatera Barat, Sumatera Utara dan Aceh yang merantau di Bandung. Sebab dengan keluarga mereka yang menjadi korban banjir dan longsor di sana, kebutuhan finansial para mahasiswa secara otomatis terganggu dari mulai kebutuhan untuk makan sampai kebutuhan membayar uang kuliah.

“Bisa jadi mereka itu sedang memperjuangkan hidupnya di sana. Belum terpikirkan anaknya yang sekolah di Bandung. Saya tidak menghitung. Tidak menghitung karena yang datang juga tidak bergerombol mereka itu. Ada yang satu, ada yang dua,” tandas dia.

Reporter: Niko

RELATED ARTICLES

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Terbaru