Friday, February 13, 2026

Pengamat Ungkap Minat Anak Muda Kota Bandung Masuk Partai Politik Masih Minim

Pengamat Ungkap Minat Anak Muda Kota Bandung Masuk Partai Politik Masih Minim

BANDUNG, Nawacita – Pengamat politik Universitas Pasundan (Unpas), Fahmi Iss Wahyudi mengungkapkan bahwa ketertarikan anak muda di Kota Bandung untuk bergabung ke partai politik masih minim. Hal itu terlihat dari atensi anak muda terhadap dinamika politik menunjukkan adanya suatu “paradoks” meskipun tingkat partisipasi politik anak muda di Kota Bandung tercatat tinggi.

Fahmi menekankan bahwa fenomena ini menjadi pekerjaan rumah besar bagi partai politik khususnya di wilayah Kota Bandung. Menurutnya, kesenjangan antara tingginya partisipasi dan rendahnya minat berorganisasi ini harus dijembatani.

“Saya kira kalau berdasarkan data memang ada semacam saya menyebutnya paradoks. Di satu sisi memang partisipasinya tinggi, tapi ketika dihadapkan pada pilihan mau enggak untuk berorganisasi dan terlibat di partai politik memang belum begitu banyak sebetulnya yang menyatakan iya,” ungkap Fahmi saat diwawancarai di Bandung, Kamis, (27/11/2025).

- Advertisement -

Pakar politik Unpas itu juga menyoroti kurangnya pengetahuan dan pemahaman generasi muda terhadap hakikat dan dinamika internal partai politik sebagai salah satu akar masalah. Ia menilai, tidak mungkin mengharapkan anak muda tiba-tiba paham tanpa upaya aktif dari partai politik itu sendiri.

Baca Juga: Penampakan Baru Gedung Sate Bandung yang Telan Anggaran Rp3,9 Miliar

“Nah, sekarang itu kan tugas partai politik adalah menjembatani. Saya kira sih itu berangkat dari kurangnya pengetahuan misalnya ya anak muda terhadap partai politik,” ucap dia.

Lebih lanjut, ia turut menyinggung persepsi dan stigma negatif yang selama ini melekat pada partai politik sebagai tantangan utama dalam menggaet anak muda. Padahal, pandangan bahwa semua partai politik atau anggotanya buruk adalah sebuah kekeliruan.

Maka dari itu, ia berpendapat bahwa penting bagi partai politik untuk secara konsisten membangun dan menjaga interaksi yang baik dengan kalangan muda. Interaksi ini berfungsi sebagai upaya meminimalkan stigma-stigma negatif yang terlanjur terbentuk.

“Saya kira anak muda jauh lebih rasional, jauh lebih objektif kalau dijelaskan,” tegas Fahmi.

Fahmi juga mendorong agar partai politik untuk segera mengambil langkah strategis, terutama mengingat populasi anak muda yang sangat besar dan potensial untuk dijadikan basis politik di masa depan.Ia menekankan agar partai politik harus mampu mendekatkan diri dengan masyarakat, khususnya generasi muda.

Ketika ditanya mengenai adanya faktor branding organisasi eksternal yang turut mempengaruhi persepsi negatif, Fahmi mengaku belum memiliki data pasti mengenai korelasinya. Namun, ia menekankan agar partai politik fokus pada upaya mendekat.

“Ya, kemudian sasar bagaimana mendekatkan diri dengan anak muda. Tadi dengan kriteria-kriteria bahwa anak muda itu lebih senang dengan hal-hal yang bersifat informal, hal-hal yang bersifat entertaining, kan begitu sebetulnya. Freedom begitu,” ungkap dia.

Ia menuturkan bahwa upaya partai politik untuk merangkul anak muda dengan konsep yang terlalu statis, formal, dan kaku justru akan menimbulkan resistensi. Sehingga, diperlukan pendekatan yang lebih santai, cair, dan sesuai dengan karakter generasi muda saat ini agar mereka mau terlibat secara aktif dalam politik elektoral.

(Niko)

RELATED ARTICLES

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Terbaru