BKKBN Jabar Ungkap Ada 1,6 Juta Keluarga di Jabar Berisiko Stunting
Bandung, Nawacita – Kepala BKKBN Provinsi Jawa Barat, Dadi Ahmad Roswandi mengungkapkan bahwa 1,6 juta keluarga di Jawa Barat masih berisiko stunting meski angka stunting. Hal itu diungkapkan Dadi dalam Konferensi Pers BKKBN Provinsi Jawa Barat di Oakwood Hotel Bandung pada Selasa (4/11/2025) siang.
“Dari 13,8 juta keluarga di Jawa Barat kemudian kita terdapat terdapat 1,6 juta keluarga risiko stunting,” kata Dadi.
Ia menyebut, meski angka stunting di Jawa Barat menurun secara nasional hingga 15,9 persen namun angka stunting di setiap kabupaten kota masih terhitung tinggi. Ia mencontohkan seperti di Kabupaten Bandung Barat yang menyumbang sebanyak 30 persen angka stunting di Jawa Barat.
“Karena di Indonesia angkanya memang turun 19,8 persen, di Jawa Barat juga turun dibawah nasional 15,9 persen. Tapi apa, setiap kabupaten kota bervariasi, di Bandung Barat ini masih 30 persen angka stuntingnya,” ucap dia.
Baca Juga: Percepat Penanganan, BPBD Jabar Turunkan Dua Tim Ke Lokasi Terdampak Bencana di Sukabumi
Dadi menilai, tingginya angka stunting di Jawa Barat bukan hanya disebabkan oleh gizi buruk. Tapi bisa juga disebabkan oleh faktor lainnya seperti lingkungan dan sanitasi yang kurang bersih serta kebersihan air.
“Terkait di Jawa Barat, kita 191.000 keluarga tidak punya sumber air minum layak. Banyak perusahaan air kemasan yang ngambil air dari Jawa Barat tapi banyak keluarga Jawa Barat yang minum di sungai, di sumur yang masih terbuka gitu ya,” beber Dadi.
Apalagi, lanjut dia, masih ada 903.000 keluarga di Jawa Barat yang tidak mempunyai kamar mandi atau WC yang layak.
“Bahkan di Bandung ini lumayan, kita naik ke Ciwidey itu lumayan. Bayangkan ibu hamil tidak punya jamban. Bayangkan kalau dia mau pipis mau apa dia keluar jalan dulu. Jadi ini jadi perhatian bersama bagi kita,” papar dia.
Lebih lanjut, Dadi menerangkan bahwa pihaknya akan terus berupaya untuk menurunkan angka stunting di Jawa Barat. Ia menargetkan angka stunting di Jawa Barat bisa turun hingga 14 persen pada tahun 2026.
Baca Juga: GIPI Jabar Dukung Konsep Twin Airport Antara Bandara Husein Sastranegara dan BIJB Kertajati
“Jadi memang Jawa Barat itu angka stuntingnya di bawah rata-rata nasional ya. Jadi kita targetkan di 14 persen,” terang Dadi.
Hal itu bakal diupayakan dengan berbagai cara oleh BKKBN salah satunya dengan kolaborasi pentahelix dari berbagai pihak dan sektor untuk mendukung kerja Tim Percepatan Penurunan Stunting BKKBN Jawa Barat.
“Jadi memang menangani stunting pendekatannya harus kolaboratif ya, sistem pentahelix tadi. Pers, media, akademisi, pemerintah maupun swasta. Jadi kami di tim percepatan penurunan stunting sudah ada tim nya pak sampai ke tingkat desa. Disini kita sasar misalkan dari Kemendukbangga ada Gerakan Orang Tua Susu Stunting kemudian di daerah ada CSR dan sama, dari PUPR ada rutilahu juga kemudian juga ya membuat sumur bor dan lainnya,” tutur dia.
Dadi optimis, angka stunting di Provinsi Jawa Barat bisa turun secara signifikan hingga 14 persen. Terlebih didorong dengan program makan bergizi gratis (MBG) besutan Presiden Prabowo Subianto.
Reporter: Niko

