Rektor ITS: Kami Kelola Rp200 Miliar Dana Penelitian dan Prioritaskan Kolaborasi Lintas Departemen hingga Industri
SURABAYA, Nawacita – Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu kampus paling produktif dalam riset dan publikasi ilmiah di Indonesia.
Hal ini disampaikan oleh Rektor Institut Teknologi Surabaya, Bambang Pramujati yang mengemuka dalam forum Wakil Rektor Bidang Kerja Sama se-Indonesia yang digelar di ITS (25/9/2025), dengan menghadirkan pimpinan kampus dan pejabat kementerian terkait.
Prof. Bambang menyampaikan bahwa semangat ekosistem riset di kampus terus tumbuh positif. Setiap tahun, ITS berhasil menghasilkan lebih dari 2.000 publikasi terindeks global serta sejumlah Hak Kekayaan Intelektual (HKI), sebagian di antaranya sudah dilisensikan dan dimanfaatkan industri.
“Kami mendorong dosen untuk berkolaborasi, tidak hanya antar laboratorium, tetapi juga antar departemen, lintas perguruan tinggi, baik dalam negeri maupun luar negeri. Riset dengan mitra kolaborasi bahkan mendapat prioritas pendanaan,” ujar Rektor ITS itu.
ITS mengelola lebih dari Rp200 miliar dana penelitian setiap tahun, berasal dari dana internal, kementerian, hingga mitra industri dan mitra asing. Besarnya dukungan ini memperkuat posisi ITS sebagai kampus riset sekaligus inovator yang diakui industri.
“Hingga kini, tercatat 900 kerja sama industri aktif yang melibatkan ITS.” ungkap Prof. Bambang.
Selain itu Prof. Bambang juga menekankan dari pihak kampus juga serius mengantisipasi praktik publikasi di jurnal predator. Melalui Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat, dosen secara rutin diberi panduan jurnal bereputasi agar kualitas publikasi tetap terjaga.
Ketua Forum Wakil Rektor Bidang Kerja Sama se-Indonesia, Puslan Haistawan, menegaskan bahwa forum ini menjadi wadah penting untuk memperkuat peran perguruan tinggi dalam pembangunan bangsa.
“Perguruan tinggi tidak boleh hanya mengandalkan UKT sebagai sumber pendapatan. Kolaborasi dengan industri harus diperkuat agar kampus lebih mandiri dan inovatif,” jelasnya.
Puslan menjelaskan, forum ini melibatkan 54 peserta dari 32 perguruan tinggi dengan berbagai status kelembagaan: PTNBH, BLU, hingga Satker. Masing-masing memiliki strategi berbeda, namun sama-sama diarahkan untuk membangun ekosistem kolaborasi yang berkelanjutan.
“Hasil-hasil riset perguruan tinggi harus nyata memberi manfaat bagi masyarakat dan mampu mengantisipasi persoalan bangsa. Di sinilah pentingnya saling belajar dan berbagi strategi antar kampus,” tambahnya.
Diskusi ini menekankan pentingnya kemandirian perguruan tinggi melalui inovasi dan jejaring kerja sama. ITS sebagai tuan rumah menjadi contoh bagaimana riset bisa berkembang sekaligus memberi dampak pada industri dan masyarakat luas. (Al)

