Tuesday, February 10, 2026

Mengukir Hilirisasi di Jalan Berliku, Sebuah Buku Hadiah Ulang Tahun untuk Bahlil

Mengukir Hilirisasi di Jalan Berliku, Sebuah Buku Hadiah Ulang Tahun untuk Bahlil

BOGOR, Nawacita – Di tengah hiruk pikuk politik nasional dan isu besar energi, sebuah buku lahir diam-diam. Ditulis bukan atas pesanan, bukan pula karena instruksi kekuasaan.

Buku ini adalah hadiah. Hadiah ulang tahun untuk seorang menteri yang lahir dari emperan kampus, besar di jalanan perjuangan, dan kini memimpin salah satu partai terbesar di negeri ini: Bahlil Lahadalia.

Ruslan Taher Sangadji atau akrab disapa Ochan, sang penulis, menyusunnya secara diam-diam. Bukan untuk memuja, bukan untuk membela, tapi untuk merekam.

- Advertisement -

Baca Juga : Kevin Diks: Timnas Indonesia Siap Mengukir Sejarah di Piala Dunia 2026

Karena dalam dirinya tumbuh keyakinan, kisah pemimpin yang berasal dari rakyat biasa, layak disampaikan kepada publik, bukan karena sempurna, melainkan karena dari ketidaksempurnaannya, kita bisa belajar tentang keberanian, luka, dan cinta pada negeri ini.

Buku berjudul “Bahlil Lahadalia: Mengukir Hilirisasi di Jalan Berliku” ini resmi terbit pada 5 Agustus 2025, dua hari menjelang ulang tahun Bahlil yang ke-49. Buku setebal 148 halaman ini diterbitkan oleh idebuku, sebuah penerbit anggota IKAPI di Yogyakarta.

Isinya bukan sekadar kronologi jabatan, tapi narasi yang menyelami lapisan terdalam perjalanan hidup Bahlil Lahadalia, dari anak tukang kayu di Fakfak hingga kini dipercaya menjadi Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral dan Ketua Umum Partai Golkar periode 2024–2029.

Baca Juga : Kinerja Terus Positif, Bank Jatim Raih Predikat Excellent Dari The Asian Post

Yang menarik, buku ini akan diserahkan langsung sebagai kejutan pada hari ulang tahun Bahlil, oleh Ahmad Doli Kurnia Tandjung (Wakil Ketua Badan Legislasi DPR dan Wakil Ketua Umum DPP Partai Golkar), didampingi sejumlah sahabat lama Bahlil dari HMI dan HIPMI: Andi Mulhanan Tombolotutu, Ambo Dalle, dan Sabaruddin.

POLITIK SEBAGAI RUANG KEMANUSIAAN

“Politik itu bukan soal angka dan kekuasaan. Tapi tentang manusia. Tentang anak yatim yang diajak nonton film. Tentang staf yang diberangkatkan umrah. Tentang cita-cita yang tumbuh dari emperan kampus dan kaki lima,” tulis Ochan dalam pengantar buku itu.

Buku ini mencoba membawa pembaca menyelami dua dunia yang selama ini jarang bersatu: dunia rakyat biasa dan dunia kekuasaan. Dan Bahlil, dalam narasi Ochan, adalah jembatan dari dua kutub itu. Ia bisa berbicara tentang investasi triliunan di satu sisi, dan tentang harga mainan di kaki lima di sisi lain, dengan bobot yang sama.

KESAKSIAN PARA SENIOR DAN SAHABAT

Dalam pengantar buku, Ahmad Doli Kurnia Tandung menulis dengan nada yang personal dan reflektif. Ia mengenal Bahlil sejak masih sama-sama berjuang di HMI. Bahlil adalah junior di HMI.

“Bahlil bukan pemimpin yang lahir dari ruang mewah. Ia ditempa dari jalanan perjuangan. Ia tahu bagaimana memperjuangkan UMKM, menghadapi tekanan global atas hilirisasi, dan tetap membumi ketika berbicara soal anak-anak yatim dan pesantren,” tulis Ahmad Doli Kurnia yang juga Wakil Ketua Badan Legislasi DPR itu.

Apresiasi juga datang dari tokoh-tokoh lain yang telah lama mengenal Bahlil. Andi Mulhanan Tombolotutu mengenangnya sebagai pemuda penuh nyali, sejak pertama kali bertemu di sebuah coffee shop di Palu.

“Dari sorot matanya, saya tahu anak muda ini punya visi besar dan keyakinan yang tak biasa,” tulis Mulhanan dalam endorsemen buku itu. Mulhanan Tombolotutu adalah Ketua MW KAHMI Sulteng sekaligus anggota Dewan Etik MN KAHMI.

Ambo Dalle menyebut Bahlil sebagai “representasi mimpi banyak anak muda dari kampung”, yang mampu menembus pusat kekuasaan tanpa kehilangan nurani. “Saya speechless,” kata Ketua Bidang Ekonomi SDA dan Geologi MN KAHMI ini.

Sementara Sabaruddin, rekan lama Bahlil sejak kaderisasi HMI dan HIPMI, menyebut perjalanan Bahlil adalah bukti bahwa kaderisasi yang baik, bisa melahirkan pemimpin yang bukan hanya piawai, tapi juga punya akar nilai perjuangan.

Sedangkan Sudirman Zuhdi, Bendahara Umum MW KAHMI Sulteng, menulis dalam apresiasinya dibuku tersebut, Bahlil adalah contoh nyata bagaimana semangat kewirausahaan, komitmen kebangsaan, dan keberpihakan pada rakyat kecil, bisa menyatu dalam satu pribadi.

“Ia tidak lahir dari elite politik, tetapi dengan kerja keras dan ketekunan, ia berhasil menembus batas-batas yang dulu hanya dikuasai oleh segelintir orang. Ia membawa napas baru dalam wacana pembangunan nasional, terutama dalam hal pemerataan ekonomi dan hilirisasi sumber daya,” tulis Sudirman.

Menurut Ochan, buku ini memang bukan biografi. Buku ini ditulis dengan pendekatan naratif, ia lebih menyerupai novel, membawa pembaca tidak hanya melihat apa yang dilakukan Bahlil, tapi juga mengapa ia melakukannya, dan untuk siapa.

Bahlil digambarkan bukan sebagai tokoh tanpa cela, tapi sebagai manusia yang terus bergerak, bahkan ketika badai datang.

“Ia tidak selalu dipahami.Kadang dikritik, kadang dipuji. Tapi ia tetap berjalan,” tulis Ochan yang oleh Bahlil menanggilnya Ojan. (*)

RELATED ARTICLES

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Terbaru