Angka HIV AIDS Naik di Kota Bandung, Hubungan Sesama Jenis Dinilai jadi Penyebab Utama
Bandung, Nawacita – Kota Bandung tercatat sebagai kota dengan jumlah penyebaran HIV AIDS tertinggi di Jawa Barat. Tercatat, angka HIV AIDS di Kota Bandung terus meningkat sebesar 20 hingga 30 persen setiap tahunnya.
Pengelola Program Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Jawa Barat, Landry Kusmono mengungkap bahwa hal tersebut diketahui dari pelayanan kesehatan yang mencatat banyaknya pengakuan pasien terinfeksi akibat hubungan intim dengan sesama pria.
“Kalau laki sama laki-laki itu lebih banyak memang. Pengakuan teman-teman itu yang mengakui di layanan bahwa mereka berhubungan seks dengan laki-laki lainnya,” ungkap Landry.
Baca Juga: Angka HIV AIDS di Jabar Meningkat 100 Persen dalam Lima Tahun Terakhir, Bandung jadi yang Tertinggi
Sementara, untuk hubungan sesama jenis dalam kelompok perempuan belum ditemukan adanya pengakuan yang menyatakan bahwa penularan HIV disebabkan oleh hubungan seksual sesama jenis.
“Kalau perempuan sama perempuan itu belum ada yang mengakui di layanan bahwa mereka terkena dari hubungan seksual sesama jenis perempuan,” ucap dia.
Ia menuturkan bahwa kasus HIV di Jawa Barat mengalami lonjakan secara signifikan dalam lima tahun terakhir. Hal itu berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat yang mencatat sebanyak 10.239 kasus HIV pada tahun 2024.
Angka tersebut menunjukkan peningkatan sebesar 100 persen dari lima tahun sebelumnya. Pada lima tahun sebelumnya atau pada tahun 2020 hanya tercatat sebanyak 5.666 kasus.
“Di tahun 2020 itu hanya 5.666. Nah, di tahun 2024 itu angka kasusnya menjadi 10.239. Jadi ada peningkatan 100 persen, temuan kasus barunya begitu,” tutur Landry.
Baca Juga: Sederet Upaya Dinkes Tekan Penyebaran HIV di Jawa Barat
Menurutnya, sebagian besar kasus HIV disebabkan oleh aktivitas seksual berisiko, bukan penggunaan jarum suntik.
“Ya, 80 persen dari hubungan seksual, Kang,” cetus dia.
Tak hanya itu, Landry juga memaparkan bahwa kelompok usia produktif masih menjadi yang paling banyak terdampak. Diketahui kelompok usia 25–49 tahun mendominasi kasus pada tahun 2024 dengan persentase sebesar 63 persen atau sekitar 6.000 kasus.
“Kemudian 20 persennya itu di usia 20 sampai 24 tahun, itu sekitar 2.164 orang. Di atas 50 tahun 8 persen, dan usia 15–19 tahun sekitar 6,2 persen atau 600-an kasus,” papar Landry.
Reporter: Niko

