Peningkatan Impor Barang Modal Jadi Sinyal Positif Investasi Jatim
Surabaya, Nawacita– Aktivitas impor Jawa Timur sepanjang Januari hingga April 2025 mencatatkan peningkatan yang moderat. Total nilai impor mencapai US$9,68 miliar, tumbuh 1,61 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Timur, Zulkipli, menyampaikan Peningkatan tersebut menjadi cerminan geliat aktivitas industri di Jawa Timur yang masih cukup aktif, terutama untuk kebutuhan bahan baku dan barang modal.

Sementara itu, impor nonmigas turut mencatatkan pertumbuhan yang signifikan, mencapai US$7,96 miliar atau meningkat 10,33 persen. “Hal ini mengindikasikan bahwa sektor industri pengolahan di provinsi ini masih memiliki permintaan tinggi terhadap bahan mentah dan komponen penunjang produksi,” ujar Zulkipli.
“Pada bulan April saja, impor Jawa Timur menembus angka US$2,69 miliar, naik 21,51 persen dibandingkan bulan yang sama tahun 2024. Impor nonmigas bahkan naik drastis hingga 39,49 persen, mencapai US$2,35 miliar,” papar Kepala BPS Jatim tersebut.
Ia menjelaslan pada kondisi ini mengisyaratkan adanya percepatan aktivitas produksi dan investasi. “Meskipun di sisi lain dapat mempersempit surplus neraca perdagangan jika tidak diimbangi dengan ekspor yang setara,” tutur Zulkipli.
Baca Juga: BPS Ungkap Penyebab Penurunan NTUP Petani Jatim
Selain itu, pada presentasi rilis Zulkipli mengungkapkan ada penggunaan barang, bahan baku dan penolong masih menjadi kontributor terbesar, dengan nilai impor mencapai US$7,92 miliar, naik 1,94 persen. Ini menunjukkan bahwa industri manufaktur di Jawa Timur masih dalam fase aktif produksi.
“Barang modal juga mencatatkan peningkatan signifikan sebesar 14,16 persen, mencapai US$723,42 juta. Hal ini menjadi sinyal positif atas investasi sektor produktif di wilayah ini,” pungkasnya.
Zulkipli menambahkan ada komoditas lain yang mengalami penurunan Impor yaitu gandum dan jagung justru turun drastis sebesar US$439,52 juta, atau merosot 53,05 persen. Penurunan ini bisa dipengaruhi oleh stok lokal yang mencukupi, kebijakan substitusi impor, atau fluktuasi harga global.
“Impor barang konsumsi justru turun sebesar 7,64 persen, menjadi US$1,04 miliar. Penurunan ini bisa diartikan sebagai upaya efisiensi atau berkurangnya ketergantungan pada barang konsumsi impor, seiring meningkatnya produksi dalam negeri,” tutupnya. (Alus)

