Chatib menjelaskan hal tersebut mungkin terjadi karena kunci dari digital teknologi adalah tersedianya big data. Chatib menceritakan, saat ini bahkan telah terdapat sebuah perusahaan financial technology (fintech) yang dapat memberikan pinjaman uang dengan syarat hanya swafoto dan foto kartu identitas.
Kedua data tersebut nantinya akan diverifikasi dalam machine learning yang kemudian bisa membaca rekam jejak seseorang dari big data yang tersedia.
“Kalau Anda salah, Tuhan mungkin memaafkan Anda tapi Google enggak. Jejak digital kita akan selalu ada dan itu bisa ditrace back sampai kapan pun. Dari situ orang tahu reputasi kita,” ujar Chatib.
Tidak banyak orang yang menyadari bahwa setiap hari mereka melaporkan aktivitasnya kepada perusahaan teknologi. Mulai dari detak jantung kepada Apple Watch, data pemesanan makanan melalui aplikasi online, kebiasaan seseorang yang terekam dari foto yang diunggah ke media sosial dan masih banyak lagi.
“Kalau mau pinjam kredit, bisa ditolak karena mungkin mereka tahu anda enggak terlalu sehat orangnya. Tidak ada yang bisa lebih lengkap dalam membuat kredit score selain big data. Dunia akan berubah,” ujarnya.
Hal ini akan membuat peraturan yang awalnya standar dan sama bagi semua, menjadi berubah dan disesuaikan untuk setiap individu. Sehingga, semua pihak harus siap dalam menghadapi perubahan ini.
“Semua struktur fixed cost jadi variable. Company yang menjalankan konvensional bisnis di-distrub dengan teknologi seperti ini bisa kolaps. Ini yang terjadi dalam hari- hari ini,” tutupnya.
kumparan