Kampung Pecinan Tambak Bayan Konsisten Pertahankan Kebudayaan Tionghoa
Surabaya, Nawacita | Kota Surabaya memiliki wilayah kampung Pecinan yang masih eksis hingga saat ini. Kampung tersebut ialah kampung Tambak Bayan, yang terletak di RT 2 RW 2, Kelurahan Alun-Alun Contong, Kecamatan Bubutan.
Penghuni kampung Tambak Bayan pun kini tidak lagi didominasi oleh satu agama tertentu, melainkan berbagai latar belakang agama. Hal ini disebabkan oleh perkawinan campur dengan etnis lainnya.
Nuansa Tahun Baru China pun hingga kini masih terasa kental di kampung Pecinan tersebut walau para penghuninya telah menikah lintas etnis.
Kampung yang telah berdiri sejak jaman Belanda ini hingga kini masih dihuni oleh sekitar 75 kepala keluarga yang bahkan sudah memasuki generasi kelima.
Sementara itu Lim Kem Hau atau yang sering disapa Cak Gepeng menyampaikan bahwa penyelenggaraan rutin Imlek di Tambak Bayan adalah upaya agar para generasi muda tetap dapat melestarikan kebudayaan Tionghoa.
Baca Juga: Semarak Perayaan Imlek di Surabaya
“Kalau Imlek bagi pemuda, melestarikan kebudayaan Tionghoa di Tambak Bayan,” ucap Cak Gepeng.
Cak Gepeng sendiri ialah generasi ketiga dari penghuni warga Tambak Bayan pun menjelaskan budaya Tionghoa yang mulai memudar saat ini menjadi pendorong agar para generasi penerus dapat mengetahui sejarah serta kebudayaan yang ada di Tambak Bayan.
“Biar anak muda sekarang tahu leluhur di tambak bayan seperti apa dan ada adat istiadat atau kebudayaannya,” ujarnya.
Tahun Baru Imlek sendiri merupakan sebuah perayaan terpenting bagi orang keturunan etnis Tionghoa. Perayaan Imlek pun jatuh pada tanggal yang berbeda setiap tahunnya, hal ini disebabkan penanggalan Imlek didasarkan oleh kalender Lunar, berbeda dengan kalender pada umumnya yang kita pakai saat ini yang menggunakan penanggalan Masehi. Akan tetapi perayaan Imlek selalu berada pada bulan Januari atau Februari.
Baca Juga: Kegiatan Open House Jadi Agenda Penutup Rangkaian Tahbisan Uskup Keuskupan Surabaya
Untuk Tahun Baru Imlek 2025 sendiri jatuh pada Rabu, 29 Januari 2025, Imlek sendiri bukan hanya diperingati untuk merayakan pergantian tahun dalam budaya etnis Tionghoa, akan tetapi juga sebagai cara untuk menghormati dan mempertahankan tradisi yang diwariskan ke generasi berikutnya.
Berdasaran Chinese Fortune Calendar, Hari Imlek 2025 sendiri merupakan Tahun Ular Kayu yang konon menurut mitologi Tiongkok, ular tersebut jatuh dari surga dan melengserkan Naga. Di Tiongkok, ular disebut sebagai ‘naga kecil’ dan dianggap sangat pemalu, sehingga ular suka bersembunyi di rumput atau lubang. Namun, Api Yang dari Ular dikaitkan dengan matahari, sehingga shio Zodiak memiliki karakteristik seperti jujur, tidak mementingkan diri sendiri, ramah, ambisius, benar, dan berpandangan jauh ke depan.
Ular melambangkan kebijaksanaan, yang dikaitkan dengan kecerdasan, intuisi, dan wawasan. Kemampuan ular untuk berganti kulit melambangkan pembaruan, transformasi, dan pertumbuhan berkelanjutan, yang menjadikan shio Ular sebagai visioner yang praktis, pemimpin yang baik, dan pemikir hebat. (Gio)

