Sunday, February 15, 2026

Bedah Buku Kristen Madura, Ungkap Perspektif Lain Kaum Kristen Di Pulau Madura

Bedah Buku Kristen Madura, Ungkap Perspektif Lain Kaum Kristen Di Pulau Madura

Surabaya, Nawacita – Badan Pelaksana (BP) Musyawarah Pelayanan (Mupel) Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) Jawa Timur menggelar bedah buku sebagai bagian acara ulang tahun GPIB ke-76.

Buku yang dibedah ialah buku ‘Kristen Madura’ karya Akhmad Siddiq. Kegiatan bedah buku dalam kerangka lebih mengenal dan menjaga kebersamaan yang selama ini telah terjalin dengan baik antara umat Kristen di Madura dan juga orang Madura beragama Kristen.

Hadir empat narasumber yang menjadi pembicara dalam bedah buku ini, diantaranya :
1. Akhmad Siddiq (penulis buku, pengajar UINSA)
2. Dr. Ir. Daniel Rohi, M.Eng.Sc.,IPU (Ketua DPD PIKI Jatim)
3. Pdt. Kristanto (GKJW Waru, Sidoarjo)
4. Pdt. Rully Atonius Haryanto, S.si (Teol), MA (GPIB Immanuel, Surabaya)

- Advertisement -

Diskusi menarik terjadi dalam bedah buku yang terjadi. Berbagai pertanyaan dan diskusi yang terjadi diantara para hadirin yang penasaran akan buku Kristen Madura menjadi lebih spesial, selain dilakukan dalam rangka HUT GPIB ke-76, salah satu gereja GPIB di madura, yaitu GPIB Jemaat Mahkota Hayat Pamekasan Madura merupakan gereja pertama yang diwawancarai Akhmad Siddiq, penulis buku Kristen Madura.

Baca Juga : Rakerda API Jawa Timur: Bentuk Nyata Sinergi API Dengan Pemerintah

“Saya senang sekali buku Kristen Madura dibedah di GPIB, karena menjadi gereja pertama yang saya wawancarai,” ungkap Akhmad Siddiq.

Baginya dengan dilaksanakannya bedah buku, menjadi tanda buku ini mendapatkan apresiasi bagi para pembaca. Namun ia pun berharap agar buku Kristen Madura mampu dibaca oleh masyarakat Madura agar mampu mendapatkan perspektif berbeda terkait Kristen yang berada di Pulau Garam.

“Ini menunjukkan bahwa tidak hanya di madura tapi buku ini juga dibaca teman-teman di luar Madura, meskipun seperti yang saya katakan bahwa yang saya inginkan buku ini dibaca oleh masyarakat Madura secara luas sehingga mereka punya pengetahuan yang lebih terbuka terhadap komunitas Kristen di madura ,” ucap Akhmad Siddiq.

Akhmad Siddiq menceritakan bahwa buku ini bertujuan menjembatani hadirnya perjumpaan antara satu komunitas dengan komunitas lain, satu pemeluk agama dengan pemeluk agama lain. Karena seringkali masyarakat yang hidup dalam pemikiran yang apriori, kita memandang orang lain dan kemudian mengklaim tanpa memiliki pengetahuan yang cukup tentang orang itu.

“Perjumpaan, pemahaman itu akan melahirkan penghargaan saling menghargai antara satu penganut agama dengan penganut agama lainnya,” ujar Akhmad Siddiq.

Ketua II BP Mupel Jatim, Pdt. Rully Antonius Haryanto, menyampaikan acara bedah buku ini merupakan kerjasama dengan Roemah Bhinneka, sehingga akhirnya bisa dilaksanakan.

Baca Juga : GPIB Bukit Kasih Gelar Piala Wali Kota Lomba Vocal Group Antar Gereja

“Kita bersyukur karena hal ini membahas tentang Kristen Madura dimana GPIB memiliki tiga gereja di Madura, ini juga sebagai ucapan syukur kita ada disana, sekaligus upaya mengenal satu sama lain, keberagaman, dalam konteks yang ada di Madura,” kata Pdt. Rully Antonius Haryanto.

Ketua Roemah Bhinneka, Iryanto Susilo, mengapresiasi jalannya kegiatan bedah buku yang dilaksanakan dalam rangka ulang tahun GPIB tersebut.

“Sangat bagus sekali, acara ini mengulik Kristen di Madura dan dengan bedah buku ini membangun jaringan berkenalan dengan umat GPIB dengan anak-anak mahasiswa dan dengan seluruh peserta yang hadir,” tuturnya.

Iryanto Susilo pun berharap kedepannya agar kegiatan serupa harus kembali digelar. Ia juga berharap komunikasi yang terbangun antar komunitas yang hadir dapat tetap terjaga.

“Jangan berhenti sampai disini, dan kedepannya harus dibuat acara serupa, sehingga jaringan yang sudah terbangun harus dibina, dirawat dan dikembangkan, itu yang penting,” imbuhnya.

Ketua DPD PIKI Jawa Timur, Daniel Rohi, yang hadir sebagai narasumber mengapresiasi dilaksanakannya bedah buku Kristen Madura sehingga masyarakat non madura dapat memahami perkembangan Kristen yang terjadi di pulau Madura.

“Bedah buku yang ditulis Akhmad Siddiq sangat menarik karena ada suatu upaya untuk memahami kultur dari orang madura yang dikaitkan dengan perkembangan Kristen di madura,” kata Daniel Rohi.

Bagi Daniel, isi buku Kristen Madura menjelaskan bagaimana realita pergumulan gereja diungkapkan secara terbuka, bahwa menjadi orang Kristen Madura itu tidak mudah.

Bahkan hingga orang madura yang menjadi Kristen hidup dengan silent ideology, yakni ideologi yang berdiam diri dan tidak menunjukkan eksistensi mereka sebagai orang Kristen di masyarakat tapi tetap hadir di gereja.

Daniel pun berharap agar buku Kristen Madura dapat menjadi pemantik, sehingga kaum Kristen di Madura mampu memiliki komunitas dimana bisa mensolidkan dan memperkuat persekutuan diantara umat Kristen yang ada.

“Saya berharap kedepannya teman-teman harus punya komunitas sendiri, bisa berbagi informasi, cerita dan membangun persekutuan diantara mereka,” pungkasnya. (Gio)

RELATED ARTICLES

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Terbaru