Pengertian Fastabiqul Khairat, Manfaat serta Cara Melakukannya
JAKARTA, Nawacita – Pengertian Fastabiqul Khairat, Apa arti dari fastabiqul khairat? Melakukan fastabiqul khairat dalam Islam sangat dianjurkan. Fastabiqul Khairat atau berlomba-lomba dalam kebaikan yaitu bersegera, menaati dan mengikuti perintah Allah dengan memaksimalkan diri tanpa menjatuhkan orang lain untuk mencapai ridha-Nya. Dalam Al-Qur’an telah diperintahkan untuk bersegera dan berlomba-lomba dalam melakukan kebaikan :
وَلِكُلٍّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيهَا فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ أَيْنَ مَا تَكُونُوا يَأْتِ بِكُمُ اللَّهُ جَمِيعًا إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
“Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah, 2: 148)
Namun perlu diingat, dalam fastabiqul khairat tidak boleh merasa dirinya telah berbuat banyak kebaikan yang mengakibatkan ia sombong, menganggap orang lain tidak mampu berbuat kebaikan seperti kita atau justru hasud dengan merusakan kebaikan yang dilakukan oleh orang lain.
Manfaat Fastabiqul Khairat
Masih diambil dari sumber sebelumnya, fastabiqul khairat memiliki manfaat yang sangat baik untuk umat Islam. Berikut sejumlah manfaat fastabiqul khairat.
1. Memanfaatkan Waktu dengan Hal yang Paling Baik
Fastabiqul khairat atau berlomba-lomba dalam kebaikan bisa membantu kita dalam memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. Sebab, dengan fastabiqul khairat, muslim akan disibukkan dengan melakukan kebaikan sebanyak mungkin.
Tak bisa lagi bagi seorang muslim menyia-nyiakan waktu hidup di dunia yang sebentar ini dengan hal-hal yang tidak berguna. Alangkah baiknya bila muslim memanfaatkannya untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT dan berusaha menjadi lebih baik daripada orang lain dalam hal ibadah kepada Allah SWT.
2. Meningkatkan Mutu Diri
Energi yang digunakan untuk fastabiqul khairat bukanlah menjadi sia-sia namun malah berguna untuk peningkatan mutu diri untuk menjadi lebih baik.
“Energi yang dimiliki selalu diarahkan pada amalan-amalan yang diridai Allah sehingga dapat meningkatkan iman dan takwa kepada Allah SWT,” tulis H. Aminudin dan Harjan Syuhada.
3. Terhindar dari Godaan Setan dan Dosa
Seperti yang dijelaskan sebelumnya, fastabiqul khairat pun bermanfaat untuk melindungi diri dari godaan setan yang selalu mengajak pada keburukan dan kesesatan.
Oleh karena itu, seorang yang selalu berlomba-lomba dalam hal kebaikan akan bisa terhindar dari perbuatan dosa dan maksiat yang nantinya akan dilaknat Allah SWT.
Baca Juga: Pengertian Syariat, Tarekat, Hakikat dan Makrifat
Contoh Kegiatan Fastabiqul Khairat
Menurut dari buku Fastabiqulkhairat: Empat Siasat Jitu Memenangkan Perlombaan Berhadiah Surga oleh Khalid Abu Syadi, berlomba-lomba dalam kebaikan dapat dilakukan melalui perkara baik berikut ini.
1. Ibadah
Ibadah yang dimaksud meliputi salat, puasa, membaca Al-Qur’an, menghafalkan Al-Qur’an, dan sebagainya.
2. Muamalah
Fastabiqul khairat dalam hal muamalah meliputi menyambung tali silaturahmi, berbakti kepada kedua orang tua, berbuat baik kepada tetangga, dan menyantuni anak yatim.

3. Akhlak
Berlomba dalam kebaikan yang ketiga berasal dari akhlaknya yakni, seseorang diserukan untuk berlaku jujur, menjaga amanah, menepati janji, berlaku adil, ataupun bersikap pemaaf.
4. Adat dan Kebiasaan
Kebiasaan yang diperlombakan dalam ajang fastabiqul khairat adalah berlomba untuk menuntut ilmu, berusaha mendapatkan rezeki, berusaha menikah, dan apapun dengan niat yang baik.
Cara Melakukan Fastabiqul Khairat
Apabila sudah memahami fastabiqul khairat artinya berlomba-lomba dalam kebaikan untuk mendapatkan rida Allah SWT serta surga-Nya, ketahui cara melakukannya. Begini cara bersungguh-sungguh melakukan fastabiqul khairat melansir dari modul yang dipublikasikan University of Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA:
1. Niat yang Ikhlas
Cara bersungguh-sungguh melakukan fastabiqul khairat adalah didasari niat yang ikhlas. Ikhlas beribadah atau beramal shaleh untuk mendekatkan diri kepada Allah, karena Allah. Kebalikan dari ikhlas adalah riya’ dan sum’ah, yakni beribadah karena ingin dinilai sebagai orang baik oleh manusia.
Ikhlas sebagai cara bersungguh-sungguh melakukan fastabiqul khairat dengan indah digambarkan dalam doa iftitah:
“Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku lillahi Rabbil Alamiin.” Jadi, ikhlas adalah melakukan segala hal lillah. Apa artinya lillah? ada tiga makna lillah: karena Allah, untuk Allah dan kepunyaan Allah.
2. Cinta Kebaikan dan Cinta kepada Orang Baik
Cara bersungguh-sungguh melakukan fastabiqul khairat adalah cinta kebaikan dan cinta kepada orang baik. Hal ini juga ada hubungannya dengan keikhlasan, yakni beramal semata karena Allah. Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik, maka kita menjadi cinta kebaikan sekaligus suka dengan orang yang gemar berbuat baik.
Inilah penegasan Allah SWT tentang cara bersungguh-sungguh melakukan fastabiqul khairat dalam Surat Al-Baqarah ayat 195:
“Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.”
3. Merasa Beruntung Melakukannya
Cara bersungguh-sungguh melakukan fastabiqul khairat adalah merasa beruntung jika melakukannya. Sikap ini hadir karena kita percaya dan yakin kepada Allah.
Jika iman sudah merasuk dalam jiwa, maka kita akan merasa beruntung jika terus melakukan perbuatan baik demi untuk menggapai rida-Nya.
Dijelaskan, jika perasaan demikian sudah muncul, maka semangat untuk berlomba dalam kebaikan atau cara bersungguh-sungguh melakukan fastabiqul khairat akan senantiasa berkobar tak pernah padam.
4. Meneladani Generasi yang Beramal Baik
Cara bersungguh-sungguh melakukan fastabiqul khairat adalah meneladani generasi yang selalu beramal baik. Era Rasulullah dan para sahabat adalah era “khairu ummah”, umat terbaik. Maka kita perlu belajar dan meneladani mereka.
Djelaskan, Rasulullah SAW dan para sahabat senantiasa bersemangat dan berjuang tanpa henti untuk menebar kebaikan pada semua orang, baik kepada orang mukmin maupun kafir.
5. Memahami Ilmu tentang Kebaikan
Cara bersungguh-sungguh melakukan fastabiqul khairat adalah memahami betul ilmu tentang kebaikan. Sayyidina Ali pernah berkata:
“Tubuh kita ini selalu melewati enam keadaan, yakni sehat, sakit, mati, hidup, tidur dan bangun. Begitu pula ruh. Hidupnya hati adalah berkat bertambahnya ilmu, dan matinya akibat tidak adanya ilmu. Sehatnya hati adalah berkat keyakinan, dan sakitnya hati karena keragu-raguan. Tidurnya hati adalah akibat kelalaian, dan bangunnya hati karena zikir yang dilakukan.”
cnb6nws.

