{"id":55561,"date":"2019-03-04T13:09:48","date_gmt":"2019-03-04T06:09:48","guid":{"rendered":"http:\/\/nawacita.co\/?p=55561"},"modified":"2019-03-04T13:09:48","modified_gmt":"2019-03-04T06:09:48","slug":"5-kesalahpahaman-orang-indonesia-tentang-perdagangan-bebas","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/nawacita.co\/index.php\/2019\/03\/04\/5-kesalahpahaman-orang-indonesia-tentang-perdagangan-bebas\/","title":{"rendered":"5 Kesalahpahaman Orang Indonesia tentang Perdagangan Bebas"},"content":{"rendered":"<p class=\"track_paragraph components__TextParagraph-s1de2sbe-0 PVnjj\" data-key=\"9\"><span data-key=\"10\">Jakarta <a href=\"https:\/\/nawacita.co\">Nawacita<\/a> &#8211;Saat ini banyak orang Indonesia menganggap bahwa perdagangan bebas yang neoliberal itu jahat dan merugikan rakyat. Keanggotaan Indonesia dalam <\/span><span data-key=\"12\">World Trade Organization (WTO) dinilai tidak memberikan manfaat<\/span><span data-key=\"13\"> apapun bagi perekonomian Indonesia. <\/span><\/p>\n<p class=\"track_paragraph components__TextParagraph-s1de2sbe-0 PVnjj\" data-key=\"9\"><span data-key=\"16\">Bahkan beberapa <\/span><span data-key=\"18\">pengamat ekonomi dan pejabat pemerintah<\/span><span data-key=\"19\"> juga menuntut penundaan implementasi beberapa perjanjian perdagangan bebas (FTA) serta pembatalan perjanjian perlindungan penanaman modal (P4M). <\/span><\/p>\n<p class=\"track_paragraph components__TextParagraph-s1de2sbe-0 PVnjj\" data-key=\"21\"><span data-key=\"22\">Lalu apakah benar liberalisasi ekonomi dan perdagangan bebas menghancurkan Indonesia?<\/span><span data-key=\"25\">Yuk, simak pembahasannya.<\/span><\/p>\n<div><\/div>\n<ol class=\"components__OL-s13gfxzs-0 gCCZUT\" start=\"1\" data-key=\"28\">\n<li data-key=\"29\">\n<h2 class=\"components__SubTitle-s1de2sbe-2 dvytAk\" data-key=\"30\"><span data-key=\"31\">Keanggotaan WTO Tidak Memberikan Manfaat bagi Indonesia<\/span><\/h2>\n<\/li>\n<\/ol>\n<p class=\"track_paragraph components__TextParagraph-s1de2sbe-0 PVnjj\" data-key=\"32\"><span data-key=\"33\">Faktanya, Indonesia menerima banyak keuntungan dari keanggotaan WTO. Indonesia berhak untuk mendapatkan konsesi tarif yang sama dari negara anggota lain berdasarkan prinsip <em data-slate-mark=\"true\">most favoured nation<\/em> (MFN). <\/span><\/p>\n<p class=\"track_paragraph components__TextParagraph-s1de2sbe-0 PVnjj\" data-key=\"35\"><span data-key=\"36\">Jadi ketika Kolombia menerapkan <\/span><span data-key=\"38\">tarif MFN rata-rata sebesar 4,5% untuk produk non-pertanian<\/span><span data-key=\"39\">, maka Indonesia dan negara anggota WTO lainnya berhak untuk menikmati konsensi tarif yang sama tanpa diskriminasi. <\/span><\/p>\n<div><\/div>\n<p class=\"track_paragraph components__TextParagraph-s1de2sbe-0 PVnjj\" data-key=\"41\"><span data-key=\"42\">Sebaliknya, Iran atau Aljazair yang bukan merupakan anggota WTO dapat didiskriminasi. Konsensi tarif berdasarkan MFN melalui WTO jelas mempermudah upaya perluasan akses pasar Indonesia. <\/span><\/p>\n<div><\/div>\n<p class=\"track_paragraph components__TextParagraph-s1de2sbe-0 PVnjj\" data-key=\"44\"><span data-key=\"45\">Bayangkan apabila Indonesia tidak menjadi anggota dan harus merundingkan konsensi tarif dengan 164 negara anggota WTO satu persatu. Selain tarif MFN, WTO juga memberikan preferensi khusus bagi negara berkembang yang dikenal sebagai <\/span><span data-key=\"47\"><em data-slate-mark=\"true\">Generalized System of Preferences<\/em> (GSP)<\/span><span data-key=\"48\">. <\/span><\/p>\n<div><\/div>\n<p class=\"track_paragraph components__TextParagraph-s1de2sbe-0 PVnjj\" data-key=\"50\"><span data-key=\"51\">GSP mendorong negara maju untuk memberikan preferensi tarif khusus bagi negara-negara berkembang meskipun kenyataannya melanggar prinsip MFN. Indonesia saat ini banyak diuntungkan dari preferensi tarif berdasarkan GSP WTO yang diberikan antara lain oleh Amerika Serikat, Australia, dan Uni Eropa. <\/span><\/p>\n<div><\/div>\n<p class=\"track_paragraph components__TextParagraph-s1de2sbe-0 PVnjj\" data-key=\"53\"><span data-key=\"54\">WTO juga memberikan aturan main perdagangan bebas yang jelas dan transparan, termasuk mekanisme penyelesaian sengketa, sehingga negara dapat lebih leluasa menjalankan kegiatan perdagangan dengan hambatan yang minimal. <\/span><\/p>\n<div><\/div>\n<p class=\"track_paragraph components__TextParagraph-s1de2sbe-0 PVnjj\" data-key=\"56\"><span data-key=\"57\">Untuk itu, WTO jelas memberikan manfaat besar bagi Indonesia sehingga tidak mengherankan apabila Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia meningkat lebih dari 90 persen sejak bergabung dengan WTO pada tahun 2001.<\/span><\/p>\n<div><\/div>\n<figure class=\"Helper__StyledFigure-s1lrnkay-9 gvPKFI\" data-key=\"59\">\n<div class=\"Helper__MediaWrapper-s1lrnkay-10 fRRLDP\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/blue.kumparan.com\/kumpar\/image\/upload\/fl_progressive,fl_lossy,c_fill,q_auto:best,w_640\/v1551629763\/jytevoanlm8k67ylaovb.png\" width=\"100%\" height=\"auto\" \/><\/div><figcaption class=\"Helper__MediaCaption-s1lrnkay-11 bxAcJQ\" data-key=\"62\"><span data-key=\"63\"><span data-key=\"63\">Perbandingan PDB Indonesia Tahun 2001 dan 2017. Terlihat kenaikan melebihi 90% dari USD 160 milyar menjadi USD 1 trilyun selama Indonesia menjadi anggota WTO. Sumber: google.com<\/p>\n<p><\/span><\/span><\/p>\n<ol class=\"components__OL-s13gfxzs-0 gCCZUT\" start=\"2\" data-key=\"64\">\n<li data-key=\"65\">\n<h2 class=\"components__SubTitle-s1de2sbe-2 dvytAk\" data-key=\"66\"><span data-key=\"67\">Pasar Bebas Mengharuskan Indonesia Membuka Pasar Sebebas-bebasnya untuk Asing<\/span><\/h2>\n<\/li>\n<\/ol>\n<p class=\"track_paragraph components__TextParagraph-s1de2sbe-0 PVnjj\" data-key=\"68\"><span data-key=\"69\">Klaim ini jelas tidak berdasar. Tidak ada satu pun negara yang melakukan liberalisasi atas seluruh sektor perdagangan dan investasi tanpa tarif dan hambatan. Sebagai negara anggota WTO, <\/span><span data-key=\"71\">Indonesia masih menerapkan tarif MFN rata-rata sebesar 8,1 persen untuk perdagangan barang<\/span><span data-key=\"72\">. <\/span><\/p>\n<div><\/div>\n<p class=\"track_paragraph components__TextParagraph-s1de2sbe-0 PVnjj\" data-key=\"74\"><span data-key=\"75\">Amerika Serikat yang merupakan negara kapitalis sekalipun masih menerapkan <\/span><span data-key=\"77\">tarif MFN sebesar 3,4<\/span><span data-key=\"78\"> persen. Bahkan perjanjian <em data-slate-mark=\"true\">Comprehensive and Progressive Agreement for Trans Pacific Partnership<\/em> (CP-TPP) yang dianggap paling liberal sekalipun masih menyisakan hambatan perdagangan sebesar 2 persen. <\/span><\/p>\n<div><\/div>\n<p class=\"track_paragraph components__TextParagraph-s1de2sbe-0 PVnjj\" data-key=\"80\"><span data-key=\"81\">Hambatan sektor jasa bahkan lebih restriktif. Dalam indikator <\/span><span data-key=\"83\"><em data-slate-mark=\"true\">services trade restrictiveness index<\/em> (STRI)<\/span><span data-key=\"84\"> yang dikeluarkan <em data-slate-mark=\"true\">Organisation for Economic Co-operation and Development<\/em> (OECD), <\/span><span data-key=\"86\">Indonesia termasuk negara yang paling restriktif menutup sektor jasa dengan rata-rata indeks pembatasan sebesar 0,54<\/span><span data-key=\"87\">. <\/span><\/p>\n<div><\/div>\n<p class=\"track_paragraph components__TextParagraph-s1de2sbe-0 PVnjj\" data-key=\"89\"><span data-key=\"90\">Sangat jauh dibandingkan dengan negara-negara OECD lainnya yang telah di bawah 0,2. Hal yang sama juga terjadi di sektor penanaman modal asing. Indonesia masih memberlakukan pembatasan kepemilikan asing pada banyak sektor penanaman modal berdasarkan <\/span><span data-key=\"92\">Daftar Negatif Investasi (DNI) dan peraturan-peraturan terkait lainnya.<\/span><\/p>\n<div><\/div>\n<p class=\"track_paragraph components__TextParagraph-s1de2sbe-0 PVnjj\" data-key=\"95\"><span data-key=\"96\">Dengan demikian, pasar bebas masih memberikan fleksibilitas bagi negara secara selektif meliberalisasikan\/menutup sektor perdagangan dan investasi untuk asing. <\/span><\/p>\n<div><\/div>\n<p class=\"track_paragraph components__TextParagraph-s1de2sbe-0 PVnjj\" data-key=\"98\"><span data-key=\"99\">Namun muncul pertanyaan besar, apakah kebijakan proteksionis yang seperti itu menguntungkan Indonesia pada akhirnya? Pada kenyataannya, kebijakan proteksionis justru merugikan Indonesia sebagaimana akan diulas di bawah. <\/span><\/p>\n<div><\/div>\n<ol class=\"components__OL-s13gfxzs-0 gCCZUT\" start=\"3\" data-key=\"101\">\n<li data-key=\"102\">\n<h2 class=\"components__SubTitle-s1de2sbe-2 dvytAk\" data-key=\"103\"><span data-key=\"104\">Pasar Bebas Menyebabkan Defisit Transaksi Berjalan Indonesia<\/span><\/h2>\n<\/li>\n<\/ol>\n<p class=\"track_paragraph components__TextParagraph-s1de2sbe-0 PVnjj\" data-key=\"105\"><span data-key=\"106\">Sejak tahun 2012, Indonesia terus mengalami defisit transaksi berjalan atau yang disebut <em data-slate-mark=\"true\">current account deficit <\/em>(CAD). Beberapa kalangan berpandangan bahwa defisit terjadi akibat Indonesia menganut sistem pasar bebas. Ini tidak sepenuhnya benar. <\/span><\/p>\n<div><\/div>\n<p class=\"track_paragraph components__TextParagraph-s1de2sbe-0 PVnjj\" data-key=\"108\"><span data-key=\"109\">Secara umum, Indonesia menikmati peningkatan surplus perdagangan barang untuk sektor non-migas. <\/span><span data-key=\"111\">Namun demikian, peningkatan tersebut tidak sebanding dengan tingginya impor migas yang didorong oleh konsumsi bahan bakar minyak dalam negeri sehingga terjadi defisit. <\/span><\/p>\n<div><\/div>\n<p class=\"track_paragraph components__TextParagraph-s1de2sbe-0 PVnjj\" data-key=\"114\"><span data-key=\"115\">Tingginya konsumsi BBM disebabkan oleh meningkatnya jumlah kendaraan bermotor dan juga kebijakan populis yang tidak mau menaikkan harga BBM meskipun harga minyak dunia telah naik. <\/span><\/p>\n<div><\/div>\n<p class=\"track_paragraph components__TextParagraph-s1de2sbe-0 PVnjj\" data-key=\"117\"><span data-key=\"118\">Sedangkan kita mengetahui bahwa pengenaan tarif produk migas pada dasarnya telah rendah dengan atau tanpa perjanjian perdagangan bebas. Oleh karena itu, impor BBM terjadi bukan karena adanya perdagangan bebas melainkan lonjakan permintaan konsumsi dalam negeri. <\/span><\/p>\n<div><\/div>\n<p class=\"track_paragraph components__TextParagraph-s1de2sbe-0 PVnjj\" data-key=\"120\"><span data-key=\"121\">Selain itu, defisit juga disebabkan kenaikan <\/span><span data-key=\"123\">defisit neraca jasa transportasi akibat pelaksanaan kegiatan ibadah haji<\/span><span data-key=\"124\">. Lalu bagaimana caranya memperbaiki neraca transaksi berjalan kita? <\/span><\/p>\n<div><\/div>\n<p class=\"track_paragraph components__TextParagraph-s1de2sbe-0 PVnjj\" data-key=\"126\"><span data-key=\"127\">Secara teori, hal tersebut dapat dilakukan dengan mengurangi impor migas dan impor barang konsumsi yang selektif serta meningkatkan ekspor barang non-migas. Di tingkat nasional, <\/span><span data-key=\"129\">Pemerintah telah mencoba menghambat laju kenaikan impor barang konsumsi dengan mengeluarkan kebijakan Pajak Penghasilan (PPh) untuk 1.146 barang impor<\/span><span data-key=\"130\">. <\/span><\/p>\n<div><\/div>\n<p class=\"track_paragraph components__TextParagraph-s1de2sbe-0 PVnjj\" data-key=\"132\"><span data-key=\"133\">Selain itu, Pemerintah juga telah tepat menaikkan harga BBM guna mengurangi defisit transaksi berjalan. Namun demikian, kebijakan menghambat impor barang konsumsi juga seperti pisau bermata dua karena dapat mempengaruhi pertumbuhan konsumsi dalam negeri yang pada akhirnya berdampak terhadap menurunnya pertumbuhan ekonomi. <\/span><\/p>\n<div><\/div>\n<p class=\"track_paragraph components__TextParagraph-s1de2sbe-0 PVnjj\" data-key=\"135\"><span data-key=\"136\">Untuk itu, solusi terbaik adalah Indonesia perlu untuk meningkatkan ekspor antara lain melalui perluasan pasar dengan membuat lebih banyak FTA dengan negara-negara dan tentunya dengan peningkatan daya saing dan diversifikasi ekspor Indonesia. <\/span><\/p>\n<div><\/div>\n<figure class=\"Helper__StyledFigure-s1lrnkay-9 gvPKFI\" data-key=\"138\">\n<div class=\"Helper__MediaWrapper-s1lrnkay-10 fRRLDP\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/blue.kumparan.com\/kumpar\/image\/upload\/fl_progressive,fl_lossy,c_fill,q_auto:best,w_640\/v1551630079\/nahnibfad0xprjfvqv0v.png\" width=\"100%\" height=\"auto\" \/><\/div><figcaption class=\"Helper__MediaCaption-s1lrnkay-11 bxAcJQ\" data-key=\"141\"><span data-key=\"142\">Neraca Pembayaran Indonesia. Terlihat dalam kolom 1, ekspor barang Indonesia hampir selalu mengalami surplus. Namun disisi lain, impor migas dan jasa melonjak drastis sehingga mengakibatkan defisit. Sumber: uob.com.sg<\/span><\/figcaption><\/figure>\n<ol class=\"components__OL-s13gfxzs-0 gCCZUT\" start=\"4\" data-key=\"143\">\n<li data-key=\"144\">\n<h2 class=\"components__SubTitle-s1de2sbe-2 dvytAk\" data-key=\"145\"><span data-key=\"146\">Liberalisasi Ekonomi Sama dengan Menjual Indonesia kepada Asing dan \u2018Aseng\u2019<\/span><\/h2>\n<\/li>\n<\/ol>\n<p class=\"track_paragraph components__TextParagraph-s1de2sbe-0 PVnjj\" data-key=\"147\"><span data-key=\"150\">Kontribusi investasi terhadap PDB Indonesia memang saat ini menjadi kedua terbesar setelah konsumsi yakni sebesar 32,6 persen (2016<\/span><span data-key=\"151\">). Namun apabila ditelusuri lebih jauh, komposisi penanaman modal asing langsung\/<\/span><span data-key=\"153\"><em data-slate-mark=\"true\">foreign direct investment<\/em> (FDI) dalam PDB Indonesia masih sangat rendah yakni sebesar 16 persen<\/span><span data-key=\"154\">. <\/span><\/p>\n<div><\/div>\n<p class=\"track_paragraph components__TextParagraph-s1de2sbe-0 PVnjj\" data-key=\"156\"><span data-key=\"157\">Dibandingkan rata-rata kontribusi FDI dalam PDB negara-negara ASEAN yang sudah menyentuh 66%, penguasaan asing di dalam perekonomian Indonesia adalah termasuk yang terendah. <\/span><\/p>\n<div><\/div>\n<p class=\"track_paragraph components__TextParagraph-s1de2sbe-0 PVnjj\" data-key=\"159\"><span data-key=\"160\">Meskipun demikian, hal tersebut telah memberikan sentimen negatif masyarakat Indonesia terhadap investasi asing dan <\/span><span data-key=\"162\">bahkan menjadi salah satu jargon kampanye kelompok populis untuk menyerang kebijakan pemerintah<\/span><span data-key=\"163\">. <\/span><\/p>\n<div><\/div>\n<p class=\"track_paragraph components__TextParagraph-s1de2sbe-0 PVnjj\" data-key=\"165\"><span data-key=\"166\">Sentimen tersebut sebenarnya dapat dipahami jika melihat tipe FDI yang masuk ke Indonesia umumnya hanya mengincar pasar domestik dan bersaing dengan kompetitor lokal (<em data-slate-mark=\"true\">domestic market seeking investment<\/em>) serta tidak berorientasi ekspor melainkan banyak yang hanya mengeruk sumber daya alam Indonesia (<em data-slate-mark=\"true\">natural resources seeking investment<\/em>). <\/span><\/p>\n<div><\/div>\n<p class=\"track_paragraph components__TextParagraph-s1de2sbe-0 PVnjj\" data-key=\"168\"><span data-key=\"169\">FDI tipe ini memang lebih banyak menimbulkan banyak <\/span><span data-key=\"171\">pro dan kontra<\/span><span data-key=\"172\"> ketimbang manfaat bagi masyarakat Indonesia. Namun bagaimana jika perusahaan Apple memutuskan untuk memindahkan pabrik manufakturnya dari Cina ke Indonesia?<\/span><\/p>\n<div><\/div>\n<p class=\"track_paragraph components__TextParagraph-s1de2sbe-0 PVnjj\" data-key=\"174\"><span data-key=\"175\">Membawa modal triliunan rupiah, menyerap banyak tenaga kerja Indonesia, menumbuhkan geliat industri lokal melalui permintaan bahan baku serta meningkatkan ekspor produk <em data-slate-mark=\"true\">smartphone <\/em>Apple yang \u2018<em data-slate-mark=\"true\">made in Indonesia<\/em>\u2019. <\/span><\/p>\n<div><\/div>\n<p class=\"track_paragraph components__TextParagraph-s1de2sbe-0 PVnjj\" data-key=\"177\"><span data-key=\"178\">Apakah masyarakat Indonesia masih mengecam keberadaan FDI yang dikenal dengan nama <\/span><span data-key=\"180\"><em data-slate-mark=\"true\">efficiency seeking investment<\/em><\/span><span data-key=\"181\"> ini? Tentu tidak! Negara-negara justru berlomba untuk mendapatkan FDI jenis ini dan bahkan bersedia membayar melalui kebijakan insentif perpajakan. <\/span><\/p>\n<div><\/div>\n<p class=\"track_paragraph components__TextParagraph-s1de2sbe-0 PVnjj\" data-key=\"183\"><span data-key=\"184\">Sayangnya, FDI jenis ini tidak akan mau datang ke negara yang iklim perdagangan dan investasinya masih belum mendukung meskipun insentifnya besar. <\/span><\/p>\n<div><\/div>\n<p class=\"track_paragraph components__TextParagraph-s1de2sbe-0 PVnjj\" data-key=\"186\"><span data-key=\"187\">Mengapa? Bayangkan jika pemilik <em data-slate-mark=\"true\">Apple<\/em> berencana membangun pabrik manufaktur di Indonesia dan langsung diwajibkan untuk membeli bahan baku dari industri lokal guna memenuhi aturan lokal content atau tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) sebesar 30 persen. <\/span><\/p>\n<div><\/div>\n<p class=\"track_paragraph components__TextParagraph-s1de2sbe-0 PVnjj\" data-key=\"189\"><span data-key=\"190\">Nyatanya, kewajiban TKDN dapat menyebabkan biaya produksi menjadi lebih mahal karena harga bahan baku lokal lebih mahal daripada bahan baku impor. <\/span><\/p>\n<div><\/div>\n<p class=\"track_paragraph components__TextParagraph-s1de2sbe-0 PVnjj\" data-key=\"192\"><span data-key=\"193\">Akibatnya, harga produk <em data-slate-mark=\"true\">smartphone<\/em> yang diproduksi di Indonesia menjadi lebih mahal dan tidak kompetitif untuk diekspor karena harganya kalah bersaing dengan <em data-slate-mark=\"true\">smartphone <\/em>yang diproduksi di China. <\/span><\/p>\n<div><\/div>\n<p class=\"track_paragraph components__TextParagraph-s1de2sbe-0 PVnjj\" data-key=\"195\"><span data-key=\"196\">Kemudian ketika ingin memasarkan produk <em data-slate-mark=\"true\">smartphone<\/em>, Apple membutuhkan akses pasar ke seluruh dunia. Hal tersebut juga sulit didapat karena Indonesia belum memiliki banyak perjanjian perdagangan bebas yang dapat mengurangi tarif bea masuk impor produk <em data-slate-mark=\"true\">smartphone<\/em>. <\/span><\/p>\n<div><\/div>\n<p class=\"track_paragraph components__TextParagraph-s1de2sbe-0 PVnjj\" data-key=\"198\"><span data-key=\"201\">Akibatnya, perusahaan <em data-slate-mark=\"true\">smartphone <\/em>seperti Samsung lebih memilih Vietnam yang lebih agresif memperluas akses pasar dengan membuat FTA dengan Uni Eropa dan CP-TPP. <\/span><\/p>\n<div><\/div>\n<p class=\"track_paragraph components__TextParagraph-s1de2sbe-0 PVnjj\" data-key=\"204\"><span data-key=\"205\">Indonesia membutuhkan investasi asing untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi serta daya saing industri. Namun untuk dapat menarik investasi jenis tersebut, Indonesia wajib untuk terlebih dahulu membuka diri bagi investor asing, khususnya yang berorientasi ekspor, melalui penghapusan berbagai hambatan perdagangan dan investasi.<\/span><\/p>\n<div><\/div>\n<figure class=\"Helper__StyledFigure-s1lrnkay-9 gvPKFI\" data-key=\"207\">\n<div class=\"Helper__MediaWrapper-s1lrnkay-10 fRRLDP\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/blue.kumparan.com\/kumpar\/image\/upload\/fl_progressive,fl_lossy,c_fill,q_auto:best,w_640\/v1551629878\/g2le27hu27uhf9uhking.png\" width=\"100%\" height=\"auto\" \/><\/div><figcaption class=\"Helper__MediaCaption-s1lrnkay-11 bxAcJQ\" data-key=\"210\"><span data-key=\"211\"><em data-slate-mark=\"true\">Mapping <\/em>tipe FDI di Indonesia yang kebanyakan berjenis <em data-slate-mark=\"true\">market seeking <\/em>(warna oranye) dan <em data-slate-mark=\"true\">natural resources seeking <\/em>(warna abu-abu). Sebaliknya, jenis FDI yang berorientasi ekspor (warna biru) masih kecil. Sumber: COMTRADE dan World Bank<\/span><\/figcaption><\/figure>\n<ol class=\"components__OL-s13gfxzs-0 gCCZUT\" start=\"5\" data-key=\"212\">\n<li data-key=\"213\">\n<h2 class=\"components__SubTitle-s1de2sbe-2 dvytAk\" data-key=\"214\"><span data-key=\"215\">Indonesia Belum Siap Menghadapi Pasar Bebas<\/span><\/h2>\n<\/li>\n<\/ol>\n<p class=\"track_paragraph components__TextParagraph-s1de2sbe-0 PVnjj\" data-key=\"216\"><span data-key=\"217\">Pandangan ini juga keliru. Pasar bebas seharusnya dimaknai sebagai peluang bukan ancaman. Seluruh negara berlomba-lomba untuk dapat bergabung dengan WTO. <\/span><\/p>\n<div><\/div>\n<p class=\"track_paragraph components__TextParagraph-s1de2sbe-0 PVnjj\" data-key=\"219\"><span data-key=\"222\">Rusia bahkan sampai rela mengantri selama 19 tahun untuk menjadi anggota WTO<\/span><span data-key=\"223\"> demi mendapatkan kesempatan untuk berkompetisi dalam pasar bebas. <\/span><\/p>\n<div><\/div>\n<p class=\"track_paragraph components__TextParagraph-s1de2sbe-0 PVnjj\" data-key=\"225\"><span data-key=\"226\">Dalam analogi ringan sepakbola, bayangkan anda sebagai pemilik klub sepak bola lokal \u2018Dermayu FC\u2019 mendapatkan tawaran untuk bergabung dengan kompetisi bergengsi Liga Premier Inggris. <\/span><\/p>\n<div><\/div>\n<p class=\"track_paragraph components__TextParagraph-s1de2sbe-0 PVnjj\" data-key=\"228\"><span data-key=\"229\">Apakah anda akan menolak bergabung karena takut kalah berkompetisi dan terdegradasi? Lalu kehilangan potensi pendapatan hak siar eksklusif (MFN), penjualan <em data-slate-mark=\"true\">merchandise<\/em> (ekspor) yang bernilai ratusan juta dolar dan lebih memilih berkompetisi di liga domestik yang tidak menguntungkan dan dipenuhi oleh <\/span><span data-key=\"231\">mafia pemburu rente (<em data-slate-mark=\"true\">rent-seekers<\/em>)<\/span><span data-key=\"232\">? Saya yakin kita semua tidak senaif itu. <\/span><\/p>\n<div><\/div>\n<p class=\"track_paragraph components__TextParagraph-s1de2sbe-0 PVnjj\" data-key=\"234\"><span data-key=\"235\">Lalu bagaimana caranya agar Dermayu FC dapat bersaing dengan klub-klub besar seperti Liverpool, Chelsea, dan Manchester City? Hal pertama yang harus dilakukan adalah mengundang pelatih dan pemain asing yang kompeten (investor asing) yang dapat membantu Dermayu FC agar lebih kompetitif dalam Liga Inggris. <\/span><\/p>\n<div><\/div>\n<p class=\"track_paragraph components__TextParagraph-s1de2sbe-0 PVnjj\" data-key=\"237\"><span data-key=\"238\">Selanjutnya, kita dapat mengharapkan pemain asing tersebut dapat &#8216;menularkan&#8221; <em data-slate-mark=\"true\">skill-<\/em>nya kepada pemain lokal kita sehingga dapat berkembang dan lebih profesional. <\/span><\/p>\n<div><\/div>\n<blockquote class=\"components__QuoteWrapper-s1v03vem-0 jmuXad\" data-key=\"240\">\n<p class=\"components__QuoteContent-s1v03vem-1 jNxalw\" data-key=\"243\">\n<\/blockquote>\n<p class=\"track_paragraph components__TextParagraph-s1de2sbe-0 PVnjj\" data-key=\"245\"><span data-key=\"246\">Pada kenyataannya, Indonesia terlalu kecil untuk dianalogikan sebagai \u2018Dermayu FC\u2019. PDB Indonesia saat ini telah melebihi USD 1 triliun dan menjadi anggota G-20. Pada tahun 2030, <\/span><span data-key=\"248\">Indonesia diproyeksikan akan menjadi ekonomi terbesar keempat dunia mengalahkan Turki, Jepang, dan Jerman<\/span><span data-key=\"249\">. <\/span><\/p>\n<div><\/div>\n<p class=\"track_paragraph components__TextParagraph-s1de2sbe-0 PVnjj\" data-key=\"251\"><span data-key=\"252\">Indonesia memiliki banyak kelebihan untuk dapat bersaing dalam pasar bebas seperti kondisi politik yang stabil, kebijakan makroekonomi yang baik, sistem demokrasi yang mendukung, bonus demografi serta tingginya tingkat kepercayaan negara-negara terhadap pertumbuhan positif ekonomi Indonesia sebagaimana terdapat dalam <\/span><span data-key=\"254\">Survei Ekonomi OECD 2018<\/span><span data-key=\"255\">. <\/span><\/p>\n<div><\/div>\n<p class=\"track_last_paragraph components__TextParagraph-s1de2sbe-0 PVnjj\" data-key=\"257\"><span data-key=\"258\">Apabila kebijakan ekonomi terus diperbaiki agar dapat mendukung kegiatan perdagangan dan investasi yang lebih terbuka dan kompetitif, bukan tidak mungkin kita akan menyalip Amerika Serikat dan India. Lalu mengapa masih takut menghadapi pasar bebas?<\/span><\/p>\n<\/figcaption><\/figure>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jakarta Nawacita &#8211;Saat ini banyak orang Indonesia menganggap bahwa perdagangan bebas yang neoliberal itu jahat dan merugikan rakyat. Keanggotaan Indonesia dalam World Trade Organization (WTO) dinilai tidak memberikan manfaat apapun bagi perekonomian Indonesia. Bahkan beberapa pengamat ekonomi dan pejabat pemerintah juga menuntut penundaan implementasi beberapa perjanjian perdagangan bebas (FTA) serta pembatalan perjanjian perlindungan penanaman modal [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":55567,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[34],"tags":[],"class_list":{"0":"post-55561","1":"post","2":"type-post","3":"status-publish","4":"format-standard","5":"has-post-thumbnail","7":"category-ekonomi-dan-bisnis"},"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.5 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>5 Kesalahpahaman Orang Indonesia tentang Perdagangan Bebas - Nawacita<\/title>\n<meta name=\"description\" content=\"perdagangan bebas yang neoliberal itu jahat dan merugikan rakyat. Keanggotaan Indonesia dalam World\" \/>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/nawacita.co\/index.php\/2019\/03\/04\/5-kesalahpahaman-orang-indonesia-tentang-perdagangan-bebas\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"5 Kesalahpahaman Orang Indonesia tentang Perdagangan Bebas - Nawacita\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"perdagangan bebas yang neoliberal itu jahat dan merugikan rakyat. Keanggotaan Indonesia dalam World\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/nawacita.co\/index.php\/2019\/03\/04\/5-kesalahpahaman-orang-indonesia-tentang-perdagangan-bebas\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Nawacita\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/nawacitaco-1763136813898723\/?ref=aymt_homepage_panel\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2019-03-04T06:09:48+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/nawacita.co\/wp-content\/uploads\/2019\/03\/Ilustrasi-Neraca-Perdagangan.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1080\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"720\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"redaksi\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@nawacit4\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@nawacit4\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"redaksi\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"8 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/nawacita.co\\\/index.php\\\/2019\\\/03\\\/04\\\/5-kesalahpahaman-orang-indonesia-tentang-perdagangan-bebas\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/nawacita.co\\\/index.php\\\/2019\\\/03\\\/04\\\/5-kesalahpahaman-orang-indonesia-tentang-perdagangan-bebas\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"redaksi\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/nawacita.co\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/599683af640858fd3b790bc37828ba57\"},\"headline\":\"5 Kesalahpahaman Orang Indonesia tentang Perdagangan Bebas\",\"datePublished\":\"2019-03-04T06:09:48+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/nawacita.co\\\/index.php\\\/2019\\\/03\\\/04\\\/5-kesalahpahaman-orang-indonesia-tentang-perdagangan-bebas\\\/\"},\"wordCount\":1571,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/nawacita.co\\\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/nawacita.co\\\/index.php\\\/2019\\\/03\\\/04\\\/5-kesalahpahaman-orang-indonesia-tentang-perdagangan-bebas\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/nawacita.co\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2019\\\/03\\\/Ilustrasi-Neraca-Perdagangan.jpg\",\"articleSection\":[\"Ekonomi dan Bisnis\"],\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/nawacita.co\\\/index.php\\\/2019\\\/03\\\/04\\\/5-kesalahpahaman-orang-indonesia-tentang-perdagangan-bebas\\\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/nawacita.co\\\/index.php\\\/2019\\\/03\\\/04\\\/5-kesalahpahaman-orang-indonesia-tentang-perdagangan-bebas\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/nawacita.co\\\/index.php\\\/2019\\\/03\\\/04\\\/5-kesalahpahaman-orang-indonesia-tentang-perdagangan-bebas\\\/\",\"name\":\"5 Kesalahpahaman Orang Indonesia tentang Perdagangan Bebas - Nawacita\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/nawacita.co\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/nawacita.co\\\/index.php\\\/2019\\\/03\\\/04\\\/5-kesalahpahaman-orang-indonesia-tentang-perdagangan-bebas\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/nawacita.co\\\/index.php\\\/2019\\\/03\\\/04\\\/5-kesalahpahaman-orang-indonesia-tentang-perdagangan-bebas\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/nawacita.co\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2019\\\/03\\\/Ilustrasi-Neraca-Perdagangan.jpg\",\"datePublished\":\"2019-03-04T06:09:48+00:00\",\"description\":\"perdagangan bebas yang neoliberal itu jahat dan merugikan rakyat. Keanggotaan Indonesia dalam World\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/nawacita.co\\\/index.php\\\/2019\\\/03\\\/04\\\/5-kesalahpahaman-orang-indonesia-tentang-perdagangan-bebas\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/nawacita.co\\\/index.php\\\/2019\\\/03\\\/04\\\/5-kesalahpahaman-orang-indonesia-tentang-perdagangan-bebas\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/nawacita.co\\\/index.php\\\/2019\\\/03\\\/04\\\/5-kesalahpahaman-orang-indonesia-tentang-perdagangan-bebas\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/nawacita.co\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2019\\\/03\\\/Ilustrasi-Neraca-Perdagangan.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/nawacita.co\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2019\\\/03\\\/Ilustrasi-Neraca-Perdagangan.jpg\",\"width\":1080,\"height\":720,\"caption\":\"Ilustrasi Neraca Perdagangan\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/nawacita.co\\\/index.php\\\/2019\\\/03\\\/04\\\/5-kesalahpahaman-orang-indonesia-tentang-perdagangan-bebas\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/nawacita.co\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"5 Kesalahpahaman Orang Indonesia tentang Perdagangan Bebas\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/nawacita.co\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/nawacita.co\\\/\",\"name\":\"Nawacita\",\"description\":\"Berita Kementerian, BUMN, Pemerintah dan Politik\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/nawacita.co\\\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/nawacita.co\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/nawacita.co\\\/#organization\",\"name\":\"Nawacita\",\"url\":\"https:\\\/\\\/nawacita.co\\\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/nawacita.co\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/nawacita.co\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2021\\\/10\\\/Logo-Nawacita-2021.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/nawacita.co\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2021\\\/10\\\/Logo-Nawacita-2021.png\",\"width\":1676,\"height\":422,\"caption\":\"Nawacita\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/nawacita.co\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/nawacitaco-1763136813898723\\\/?ref=aymt_homepage_panel\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/nawacit4\"]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/nawacita.co\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/599683af640858fd3b790bc37828ba57\",\"name\":\"redaksi\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/a3ea3038dabe75a981e9a69b300b8272c74e0729c55e2f30478cde7add6c42f6?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/a3ea3038dabe75a981e9a69b300b8272c74e0729c55e2f30478cde7add6c42f6?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/a3ea3038dabe75a981e9a69b300b8272c74e0729c55e2f30478cde7add6c42f6?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"redaksi\"},\"sameAs\":[\"nawacitaportal\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/nawacit4\"],\"url\":\"https:\\\/\\\/nawacita.co\\\/index.php\\\/author\\\/redaksi\\\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"5 Kesalahpahaman Orang Indonesia tentang Perdagangan Bebas - Nawacita","description":"perdagangan bebas yang neoliberal itu jahat dan merugikan rakyat. Keanggotaan Indonesia dalam World","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/nawacita.co\/index.php\/2019\/03\/04\/5-kesalahpahaman-orang-indonesia-tentang-perdagangan-bebas\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"5 Kesalahpahaman Orang Indonesia tentang Perdagangan Bebas - Nawacita","og_description":"perdagangan bebas yang neoliberal itu jahat dan merugikan rakyat. Keanggotaan Indonesia dalam World","og_url":"https:\/\/nawacita.co\/index.php\/2019\/03\/04\/5-kesalahpahaman-orang-indonesia-tentang-perdagangan-bebas\/","og_site_name":"Nawacita","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/nawacitaco-1763136813898723\/?ref=aymt_homepage_panel","article_published_time":"2019-03-04T06:09:48+00:00","og_image":[{"width":1080,"height":720,"url":"https:\/\/nawacita.co\/wp-content\/uploads\/2019\/03\/Ilustrasi-Neraca-Perdagangan.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"redaksi","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@nawacit4","twitter_site":"@nawacit4","twitter_misc":{"Written by":"redaksi","Est. reading time":"8 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/nawacita.co\/index.php\/2019\/03\/04\/5-kesalahpahaman-orang-indonesia-tentang-perdagangan-bebas\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/nawacita.co\/index.php\/2019\/03\/04\/5-kesalahpahaman-orang-indonesia-tentang-perdagangan-bebas\/"},"author":{"name":"redaksi","@id":"https:\/\/nawacita.co\/#\/schema\/person\/599683af640858fd3b790bc37828ba57"},"headline":"5 Kesalahpahaman Orang Indonesia tentang Perdagangan Bebas","datePublished":"2019-03-04T06:09:48+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/nawacita.co\/index.php\/2019\/03\/04\/5-kesalahpahaman-orang-indonesia-tentang-perdagangan-bebas\/"},"wordCount":1571,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/nawacita.co\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/nawacita.co\/index.php\/2019\/03\/04\/5-kesalahpahaman-orang-indonesia-tentang-perdagangan-bebas\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/nawacita.co\/wp-content\/uploads\/2019\/03\/Ilustrasi-Neraca-Perdagangan.jpg","articleSection":["Ekonomi dan Bisnis"],"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/nawacita.co\/index.php\/2019\/03\/04\/5-kesalahpahaman-orang-indonesia-tentang-perdagangan-bebas\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/nawacita.co\/index.php\/2019\/03\/04\/5-kesalahpahaman-orang-indonesia-tentang-perdagangan-bebas\/","url":"https:\/\/nawacita.co\/index.php\/2019\/03\/04\/5-kesalahpahaman-orang-indonesia-tentang-perdagangan-bebas\/","name":"5 Kesalahpahaman Orang Indonesia tentang Perdagangan Bebas - Nawacita","isPartOf":{"@id":"https:\/\/nawacita.co\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/nawacita.co\/index.php\/2019\/03\/04\/5-kesalahpahaman-orang-indonesia-tentang-perdagangan-bebas\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/nawacita.co\/index.php\/2019\/03\/04\/5-kesalahpahaman-orang-indonesia-tentang-perdagangan-bebas\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/nawacita.co\/wp-content\/uploads\/2019\/03\/Ilustrasi-Neraca-Perdagangan.jpg","datePublished":"2019-03-04T06:09:48+00:00","description":"perdagangan bebas yang neoliberal itu jahat dan merugikan rakyat. Keanggotaan Indonesia dalam World","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/nawacita.co\/index.php\/2019\/03\/04\/5-kesalahpahaman-orang-indonesia-tentang-perdagangan-bebas\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/nawacita.co\/index.php\/2019\/03\/04\/5-kesalahpahaman-orang-indonesia-tentang-perdagangan-bebas\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/nawacita.co\/index.php\/2019\/03\/04\/5-kesalahpahaman-orang-indonesia-tentang-perdagangan-bebas\/#primaryimage","url":"https:\/\/nawacita.co\/wp-content\/uploads\/2019\/03\/Ilustrasi-Neraca-Perdagangan.jpg","contentUrl":"https:\/\/nawacita.co\/wp-content\/uploads\/2019\/03\/Ilustrasi-Neraca-Perdagangan.jpg","width":1080,"height":720,"caption":"Ilustrasi Neraca Perdagangan"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/nawacita.co\/index.php\/2019\/03\/04\/5-kesalahpahaman-orang-indonesia-tentang-perdagangan-bebas\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/nawacita.co\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"5 Kesalahpahaman Orang Indonesia tentang Perdagangan Bebas"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/nawacita.co\/#website","url":"https:\/\/nawacita.co\/","name":"Nawacita","description":"Berita Kementerian, BUMN, Pemerintah dan Politik","publisher":{"@id":"https:\/\/nawacita.co\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/nawacita.co\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/nawacita.co\/#organization","name":"Nawacita","url":"https:\/\/nawacita.co\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/nawacita.co\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/nawacita.co\/wp-content\/uploads\/2021\/10\/Logo-Nawacita-2021.png","contentUrl":"https:\/\/nawacita.co\/wp-content\/uploads\/2021\/10\/Logo-Nawacita-2021.png","width":1676,"height":422,"caption":"Nawacita"},"image":{"@id":"https:\/\/nawacita.co\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/nawacitaco-1763136813898723\/?ref=aymt_homepage_panel","https:\/\/x.com\/nawacit4"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/nawacita.co\/#\/schema\/person\/599683af640858fd3b790bc37828ba57","name":"redaksi","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/a3ea3038dabe75a981e9a69b300b8272c74e0729c55e2f30478cde7add6c42f6?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/a3ea3038dabe75a981e9a69b300b8272c74e0729c55e2f30478cde7add6c42f6?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/a3ea3038dabe75a981e9a69b300b8272c74e0729c55e2f30478cde7add6c42f6?s=96&d=mm&r=g","caption":"redaksi"},"sameAs":["nawacitaportal","https:\/\/x.com\/nawacit4"],"url":"https:\/\/nawacita.co\/index.php\/author\/redaksi\/"}]}},"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/nawacita.co\/wp-content\/uploads\/2019\/03\/Ilustrasi-Neraca-Perdagangan.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/nawacita.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/55561","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/nawacita.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/nawacita.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/nawacita.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/nawacita.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=55561"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/nawacita.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/55561\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/nawacita.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/55567"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/nawacita.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=55561"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/nawacita.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=55561"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/nawacita.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=55561"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}