{"id":111265,"date":"2021-03-29T16:51:59","date_gmt":"2021-03-29T09:51:59","guid":{"rendered":"https:\/\/nawacita.co\/?p=111265"},"modified":"2021-03-29T20:53:11","modified_gmt":"2021-03-29T13:53:11","slug":"populasi-sapi-ri-melimpah-tapi-kenapa-daging-masih-impor","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/nawacita.co\/index.php\/2021\/03\/29\/populasi-sapi-ri-melimpah-tapi-kenapa-daging-masih-impor\/","title":{"rendered":"Populasi Sapi RI Melimpah, Tapi Kenapa Daging Masih Impor?"},"content":{"rendered":"<p><strong>Jakarta, Nawacita &#8211; <\/strong>Indonesia sebenarnya tidak kekurangan daging sapi segar. Apalagi Populasi sapi di Indonesia dilaporkan cukup banyak. Lalu kenapa Indonesia masih saja impor&nbsp;daging sapi?<\/p>\n<p>Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan (Kemendag) Syailendra mengatakan, ada sekitar 18 juta ekor sapi yang tersebar di seluruh Indonesia.<\/p>\n<p>Angka itu merupakan perhitungan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementerian Pertanian (Kementan). Dari angka itu, tak seluruhnya siap dipotong menjadi pasokan&nbsp;daging sapi.<\/p>\n<p>&#8220;Kalau lihat angkanya Pak Dirjen PKH, 18 juta lebih populasi kita seluruh Indonesia. Dari 18 juta berapa yang bisa dipotong? Kalau 18 juta mungkin 9 jutanya masih belum bisa, mungkin 9 juta. Kalau itu betina, mungkin separuhnya kita bisa potong, ya 4,5 juta ekor. Nah perhitungan saya, bahkan 4 juta saja, sapi yang saya lihat di Jawa Tengah dan Jawa Timur itu setara dengan 700.000 ton kalau bisa siap potong,&#8221; terang dia, dalam Forum Dialog HIPMI 4.0 dengan tema <em>&#8220;Mahalnya Harga Daging Sapi &amp; Kerbau, Apa Solusinya?<\/em>&#8221; yang digelar Bidang 5 BPP HIPMI, Senin (29\/3\/2021).<\/p>\n<p>Lanjut Syailendra, Jika 700.000 ton daging sapi itu bisa diperoleh seluruhnya dari sapi lokal, maka Indonesia tak perlu lagi impor. Pasalnya, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), kebutuhan daging nasional ialah sekitar 690.956 ton.<\/p>\n<p>&#8220;Kalau 700.000 ton, ya saya mohon nih ke Pak Joni, feedloter-nya diisi dengan sapi lokal sajalah, tidak usah sapi impor, ini bagus-bagus, sapi limosin, sapi brahman, itu bagus-bagus sapinya,&#8221; tutur Syailendra.<\/p>\n<p>Sayangnya, pada kenyataannya sapi-sapi tersebut belum siap dipotong.Asisten Deputi Pengembangan Agribisnis Peternakan dan Perikanan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Pujo Setio mengungkapkan, peternak Tanah Air sebagian besar beternak dengan cara tradisional\/konvensional. Sehingga, banyak sapi yang sudah siap potong namun tetap disimpan oleh peternak, dan baru akan dipotong ketika dibutuhkan. Misalnya untuk mendanai anak masuk sekolah, pada saat Idul Adha, dan sebagainya.<\/p>\n<p>&#8220;Kita punya data di atas kertas, tapi kita tidak bisa mengatakan bahwa itu semua sapi siap potong. Karena kita tahu persis bahwa basis peternakan rakyat ini tradisional. Jadi dia lebih banyak menyimpan sapi-sapinya pada saatnya dia dijual untuk sesuai kebutuhan,&#8221; jelas Pujo.<\/p>\n<p>Untuk mengatasi masalah tersebut, menurut Pujo diperlukan solusi jangka panjang, yakni dengan mengajak para peternak rakyat bergabung dengan kemitraan.<\/p>\n<p>&#8220;Pertama memang harus menuju masyarakat ke arah komersialisasi. Jadi yang selama ini konvensional\/tradisional, kita arahkan komersialisasi. Tapi tetap mempertahankan budayanya. Inilah yang kita sebut pola kemitraan atau korporasi di peternak,&#8221; imbuh dia.<\/p>\n<p>Dengan demikian, maka populasi ekor sapi yang siap potong bisa tercatat, dan bisa diperhitungkan ke dalam stok&nbsp;daging sapi&nbsp;nasional.<\/p>\n<p>&#8220;Sehingga ada stok siap potong yang kita ketahui setiap tahunnya dari data-data populasi ternak tersebut, sehingga kita bisa konversi ke pasokan daging untuk satu tahun. Ini solusi jangka panjang dengan adanya peralihan paradigma peliharaan ternak di masyarakat dari tradisional\/konvensional ke komersial,&#8221; tutup Pujo.<\/p>\n<p><strong>dtk\/Alma<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jakarta, Nawacita &#8211; Indonesia sebenarnya tidak kekurangan daging sapi segar. Apalagi Populasi sapi di Indonesia dilaporkan cukup banyak. Lalu kenapa Indonesia masih saja impor&nbsp;daging sapi? Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan (Kemendag) Syailendra mengatakan, ada sekitar 18 juta ekor sapi yang tersebar di seluruh Indonesia. Angka itu merupakan perhitungan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":111266,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[34],"tags":[18237,34422,39150],"class_list":{"0":"post-111265","1":"post","2":"type-post","3":"status-publish","4":"format-standard","5":"has-post-thumbnail","7":"category-ekonomi-dan-bisnis","8":"tag-daging-sapi","9":"tag-impor-daging","10":"tag-sapi-kemendag"},"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.5 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Populasi Sapi RI Melimpah, Tapi Kenapa Daging Masih Impor? - Nawacita<\/title>\n<meta name=\"description\" content=\"sapi di Indonesia dilaporkan cukup banyak. Lalu kenapa Indonesia masih saja impor daging\" \/>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/nawacita.co\/index.php\/2021\/03\/29\/populasi-sapi-ri-melimpah-tapi-kenapa-daging-masih-impor\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Populasi Sapi RI Melimpah, Tapi Kenapa Daging Masih Impor? - Nawacita\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"sapi di Indonesia dilaporkan cukup banyak. Lalu kenapa Indonesia masih saja impor daging\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/nawacita.co\/index.php\/2021\/03\/29\/populasi-sapi-ri-melimpah-tapi-kenapa-daging-masih-impor\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Nawacita\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/nawacitaco-1763136813898723\/?ref=aymt_homepage_panel\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2021-03-29T09:51:59+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2021-03-29T13:53:11+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/nawacita.co\/wp-content\/uploads\/2021\/03\/kementan-sapi-potong-1.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"650\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"487\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"redaksi\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@nawacit4\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@nawacit4\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"redaksi\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"2 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/nawacita.co\\\/index.php\\\/2021\\\/03\\\/29\\\/populasi-sapi-ri-melimpah-tapi-kenapa-daging-masih-impor\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/nawacita.co\\\/index.php\\\/2021\\\/03\\\/29\\\/populasi-sapi-ri-melimpah-tapi-kenapa-daging-masih-impor\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"redaksi\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/nawacita.co\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/599683af640858fd3b790bc37828ba57\"},\"headline\":\"Populasi Sapi RI Melimpah, Tapi Kenapa Daging Masih Impor?\",\"datePublished\":\"2021-03-29T09:51:59+00:00\",\"dateModified\":\"2021-03-29T13:53:11+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/nawacita.co\\\/index.php\\\/2021\\\/03\\\/29\\\/populasi-sapi-ri-melimpah-tapi-kenapa-daging-masih-impor\\\/\"},\"wordCount\":452,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/nawacita.co\\\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/nawacita.co\\\/index.php\\\/2021\\\/03\\\/29\\\/populasi-sapi-ri-melimpah-tapi-kenapa-daging-masih-impor\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/nawacita.co\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2021\\\/03\\\/kementan-sapi-potong-1.jpg\",\"keywords\":[\"Daging Sapi\",\"Impor daging\",\"sapi kemendag\"],\"articleSection\":[\"Ekonomi dan Bisnis\"],\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/nawacita.co\\\/index.php\\\/2021\\\/03\\\/29\\\/populasi-sapi-ri-melimpah-tapi-kenapa-daging-masih-impor\\\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/nawacita.co\\\/index.php\\\/2021\\\/03\\\/29\\\/populasi-sapi-ri-melimpah-tapi-kenapa-daging-masih-impor\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/nawacita.co\\\/index.php\\\/2021\\\/03\\\/29\\\/populasi-sapi-ri-melimpah-tapi-kenapa-daging-masih-impor\\\/\",\"name\":\"Populasi Sapi RI Melimpah, Tapi Kenapa Daging Masih Impor? - Nawacita\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/nawacita.co\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/nawacita.co\\\/index.php\\\/2021\\\/03\\\/29\\\/populasi-sapi-ri-melimpah-tapi-kenapa-daging-masih-impor\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/nawacita.co\\\/index.php\\\/2021\\\/03\\\/29\\\/populasi-sapi-ri-melimpah-tapi-kenapa-daging-masih-impor\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/nawacita.co\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2021\\\/03\\\/kementan-sapi-potong-1.jpg\",\"datePublished\":\"2021-03-29T09:51:59+00:00\",\"dateModified\":\"2021-03-29T13:53:11+00:00\",\"description\":\"sapi di Indonesia dilaporkan cukup banyak. Lalu kenapa Indonesia masih saja impor daging\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/nawacita.co\\\/index.php\\\/2021\\\/03\\\/29\\\/populasi-sapi-ri-melimpah-tapi-kenapa-daging-masih-impor\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/nawacita.co\\\/index.php\\\/2021\\\/03\\\/29\\\/populasi-sapi-ri-melimpah-tapi-kenapa-daging-masih-impor\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/nawacita.co\\\/index.php\\\/2021\\\/03\\\/29\\\/populasi-sapi-ri-melimpah-tapi-kenapa-daging-masih-impor\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/nawacita.co\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2021\\\/03\\\/kementan-sapi-potong-1.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/nawacita.co\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2021\\\/03\\\/kementan-sapi-potong-1.jpg\",\"width\":650,\"height\":487,\"caption\":\"Ilustrasi\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/nawacita.co\\\/index.php\\\/2021\\\/03\\\/29\\\/populasi-sapi-ri-melimpah-tapi-kenapa-daging-masih-impor\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/nawacita.co\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Populasi Sapi RI Melimpah, Tapi Kenapa Daging Masih Impor?\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/nawacita.co\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/nawacita.co\\\/\",\"name\":\"Nawacita\",\"description\":\"Berita Kementerian, BUMN, Pemerintah dan Politik\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/nawacita.co\\\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/nawacita.co\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/nawacita.co\\\/#organization\",\"name\":\"Nawacita\",\"url\":\"https:\\\/\\\/nawacita.co\\\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/nawacita.co\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/nawacita.co\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2021\\\/10\\\/Logo-Nawacita-2021.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/nawacita.co\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2021\\\/10\\\/Logo-Nawacita-2021.png\",\"width\":1676,\"height\":422,\"caption\":\"Nawacita\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/nawacita.co\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/nawacitaco-1763136813898723\\\/?ref=aymt_homepage_panel\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/nawacit4\"]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/nawacita.co\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/599683af640858fd3b790bc37828ba57\",\"name\":\"redaksi\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/a3ea3038dabe75a981e9a69b300b8272c74e0729c55e2f30478cde7add6c42f6?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/a3ea3038dabe75a981e9a69b300b8272c74e0729c55e2f30478cde7add6c42f6?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/a3ea3038dabe75a981e9a69b300b8272c74e0729c55e2f30478cde7add6c42f6?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"redaksi\"},\"sameAs\":[\"nawacitaportal\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/nawacit4\"],\"url\":\"https:\\\/\\\/nawacita.co\\\/index.php\\\/author\\\/redaksi\\\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Populasi Sapi RI Melimpah, Tapi Kenapa Daging Masih Impor? - Nawacita","description":"sapi di Indonesia dilaporkan cukup banyak. Lalu kenapa Indonesia masih saja impor daging","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/nawacita.co\/index.php\/2021\/03\/29\/populasi-sapi-ri-melimpah-tapi-kenapa-daging-masih-impor\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Populasi Sapi RI Melimpah, Tapi Kenapa Daging Masih Impor? - Nawacita","og_description":"sapi di Indonesia dilaporkan cukup banyak. Lalu kenapa Indonesia masih saja impor daging","og_url":"https:\/\/nawacita.co\/index.php\/2021\/03\/29\/populasi-sapi-ri-melimpah-tapi-kenapa-daging-masih-impor\/","og_site_name":"Nawacita","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/nawacitaco-1763136813898723\/?ref=aymt_homepage_panel","article_published_time":"2021-03-29T09:51:59+00:00","article_modified_time":"2021-03-29T13:53:11+00:00","og_image":[{"width":650,"height":487,"url":"https:\/\/nawacita.co\/wp-content\/uploads\/2021\/03\/kementan-sapi-potong-1.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"redaksi","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@nawacit4","twitter_site":"@nawacit4","twitter_misc":{"Written by":"redaksi","Est. reading time":"2 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/nawacita.co\/index.php\/2021\/03\/29\/populasi-sapi-ri-melimpah-tapi-kenapa-daging-masih-impor\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/nawacita.co\/index.php\/2021\/03\/29\/populasi-sapi-ri-melimpah-tapi-kenapa-daging-masih-impor\/"},"author":{"name":"redaksi","@id":"https:\/\/nawacita.co\/#\/schema\/person\/599683af640858fd3b790bc37828ba57"},"headline":"Populasi Sapi RI Melimpah, Tapi Kenapa Daging Masih Impor?","datePublished":"2021-03-29T09:51:59+00:00","dateModified":"2021-03-29T13:53:11+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/nawacita.co\/index.php\/2021\/03\/29\/populasi-sapi-ri-melimpah-tapi-kenapa-daging-masih-impor\/"},"wordCount":452,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/nawacita.co\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/nawacita.co\/index.php\/2021\/03\/29\/populasi-sapi-ri-melimpah-tapi-kenapa-daging-masih-impor\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/nawacita.co\/wp-content\/uploads\/2021\/03\/kementan-sapi-potong-1.jpg","keywords":["Daging Sapi","Impor daging","sapi kemendag"],"articleSection":["Ekonomi dan Bisnis"],"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/nawacita.co\/index.php\/2021\/03\/29\/populasi-sapi-ri-melimpah-tapi-kenapa-daging-masih-impor\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/nawacita.co\/index.php\/2021\/03\/29\/populasi-sapi-ri-melimpah-tapi-kenapa-daging-masih-impor\/","url":"https:\/\/nawacita.co\/index.php\/2021\/03\/29\/populasi-sapi-ri-melimpah-tapi-kenapa-daging-masih-impor\/","name":"Populasi Sapi RI Melimpah, Tapi Kenapa Daging Masih Impor? - Nawacita","isPartOf":{"@id":"https:\/\/nawacita.co\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/nawacita.co\/index.php\/2021\/03\/29\/populasi-sapi-ri-melimpah-tapi-kenapa-daging-masih-impor\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/nawacita.co\/index.php\/2021\/03\/29\/populasi-sapi-ri-melimpah-tapi-kenapa-daging-masih-impor\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/nawacita.co\/wp-content\/uploads\/2021\/03\/kementan-sapi-potong-1.jpg","datePublished":"2021-03-29T09:51:59+00:00","dateModified":"2021-03-29T13:53:11+00:00","description":"sapi di Indonesia dilaporkan cukup banyak. Lalu kenapa Indonesia masih saja impor daging","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/nawacita.co\/index.php\/2021\/03\/29\/populasi-sapi-ri-melimpah-tapi-kenapa-daging-masih-impor\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/nawacita.co\/index.php\/2021\/03\/29\/populasi-sapi-ri-melimpah-tapi-kenapa-daging-masih-impor\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/nawacita.co\/index.php\/2021\/03\/29\/populasi-sapi-ri-melimpah-tapi-kenapa-daging-masih-impor\/#primaryimage","url":"https:\/\/nawacita.co\/wp-content\/uploads\/2021\/03\/kementan-sapi-potong-1.jpg","contentUrl":"https:\/\/nawacita.co\/wp-content\/uploads\/2021\/03\/kementan-sapi-potong-1.jpg","width":650,"height":487,"caption":"Ilustrasi"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/nawacita.co\/index.php\/2021\/03\/29\/populasi-sapi-ri-melimpah-tapi-kenapa-daging-masih-impor\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/nawacita.co\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Populasi Sapi RI Melimpah, Tapi Kenapa Daging Masih Impor?"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/nawacita.co\/#website","url":"https:\/\/nawacita.co\/","name":"Nawacita","description":"Berita Kementerian, BUMN, Pemerintah dan Politik","publisher":{"@id":"https:\/\/nawacita.co\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/nawacita.co\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/nawacita.co\/#organization","name":"Nawacita","url":"https:\/\/nawacita.co\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/nawacita.co\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/nawacita.co\/wp-content\/uploads\/2021\/10\/Logo-Nawacita-2021.png","contentUrl":"https:\/\/nawacita.co\/wp-content\/uploads\/2021\/10\/Logo-Nawacita-2021.png","width":1676,"height":422,"caption":"Nawacita"},"image":{"@id":"https:\/\/nawacita.co\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/nawacitaco-1763136813898723\/?ref=aymt_homepage_panel","https:\/\/x.com\/nawacit4"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/nawacita.co\/#\/schema\/person\/599683af640858fd3b790bc37828ba57","name":"redaksi","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/a3ea3038dabe75a981e9a69b300b8272c74e0729c55e2f30478cde7add6c42f6?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/a3ea3038dabe75a981e9a69b300b8272c74e0729c55e2f30478cde7add6c42f6?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/a3ea3038dabe75a981e9a69b300b8272c74e0729c55e2f30478cde7add6c42f6?s=96&d=mm&r=g","caption":"redaksi"},"sameAs":["nawacitaportal","https:\/\/x.com\/nawacit4"],"url":"https:\/\/nawacita.co\/index.php\/author\/redaksi\/"}]}},"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/nawacita.co\/wp-content\/uploads\/2021\/03\/kementan-sapi-potong-1.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/nawacita.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/111265","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/nawacita.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/nawacita.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/nawacita.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/nawacita.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=111265"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/nawacita.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/111265\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/nawacita.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/111266"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/nawacita.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=111265"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/nawacita.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=111265"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/nawacita.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=111265"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}