{"id":106546,"date":"2021-01-29T10:11:21","date_gmt":"2021-01-29T03:11:21","guid":{"rendered":"http:\/\/nawacita.co\/?p=106546"},"modified":"2021-01-29T10:11:21","modified_gmt":"2021-01-29T03:11:21","slug":"sebuah-lagu-jenaka-tak-malu-malu-kucing-untuk-tetap-populer-hingga-kini","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/nawacita.co\/index.php\/2021\/01\/29\/sebuah-lagu-jenaka-tak-malu-malu-kucing-untuk-tetap-populer-hingga-kini\/","title":{"rendered":"Sebuah Lagu Jenaka Tak Malu-Malu Kucing Untuk Tetap Populer Hingga Kini."},"content":{"rendered":"<p><a href=\"https:\/\/nawacita.co\"><strong>Nawacita<\/strong><\/a> &#8211; LIRIKNYA kritis, terkesan nyinyir dan menyindir. Namun Oey Yok Siang, sang pencipta lagu, sepertinya cukup pandai dengan membalutnya dalam gubahan tempo yang menarik dan segar sehingga terdengar menggelitik di telinga. Permainan metafor pada lirik pun membuat lagu jadi penuh kesan jenaka. Coba saja simak liriknya:<\/p>\n<p><em>Apa guna bung malu malu kucing<br \/>\nMeong meong di belakang suaranya nyaring<br \/>\nJangan suka bung diam diam kucing<br \/>\nSudah menerkam sebelumnya berunding<\/em><\/p>\n<p>\u201dLirik lagu ini berisi tentang sindiran-sindiran kepada oknum-oknum tertentu dalam lingkungan masyarakat yang kerap gemar mengadu domba dan memancing kerusuhan. Pada masa itu cara mengkritik memang masih seperti itu, dibalut dalam lagu yang syairnya berpantun. Mungkin karena adat ketimuran masih sangat kuat,\u201d kata pengamat musik Denny Sakrie.<\/p>\n<p>Diciptakan dan populer pada 1950-an, lagu bergenre keroncong ini kemudian memiliki banyak versi. Belakangan lagu ini kembali naik daun setelah dirilis ulang oleh grup band White Shoes And The Couples Company, yang menghadirkannya dalam balutan jazz. Lagu \u201cAksi Kucing\u201d sepertinya belum usang dimakan zaman.<\/p>\n<p>\u201cKalau siapa yang membawakan pertama kali saya tidak bisa memastikan, karena banyak sekali yang pernah membawakannya. Rima Melati pun dulu sempat membawakannya. Lagu ini diciptakan sekitar tahun 1952-1953,\u201d kata Denny.<\/p>\n<div id=\"pageBreak2\" class=\"page-break\" data-page=\"2\"><\/div>\n<p>Kemunculan \u201cAksi Kucing\u201d tak bisa lepas dari kejayaan kesenian Gambang Semarang, yang dikembangkan Lie Hoo Soen, anggota Volksraad (Dewan Rakyat) Semarang yang juga penggemar musik keroncong dan pengurus organisasi kesenian Krido Hartojo. Dia juga dikenal sebagai orang kepercayaan pengusaha kaya Oei Tiong Ham yang dijuluki Raja Gula.<\/p>\n<p>Menurut Dewi Yuliati, sejarawan asal Semarang, dalam artikel \u201cKesenian Gambang Semarang: Suatu Bentuk Integrasi Budaya Jawa dan Cina\u201d, sampai saat ini asal-usul kesenian Gambang Semarang masih diperdebatkan. Ada yang menyebutnya kesenian \u201cimpor\u201d dari Betawi, karena dulu alat-alat musiknya dibeli dari sana dan tak berbeda dengan alat-alat musik Gambang Kromong. Ada juga yang menganggapnya berasal dari Semarang, dibawa dan dikembangkan para imigran Tiongkok yang langsung menuju Semarang.<\/p>\n<p>\u201cTerlepas dari kontroversi mengenai asal-usul Gambang Semarang, tidak dapat diingkari bahwa kesenian itu lahir atas prakarsa masyarakat Semarang sendiri,\u201d tulis Dewi Yuliati.<\/p>\n<p>Kesenian ini meramaikan pasar malam dan tersohor di hingga kota Kudus, Pati, Juwana, Temanggung, Parakan, Wonosobo, Magelang, Weleri, Pekalongan, dan Cirebon. Saking populernya, Oey Yok Siang dan Sidik Pramono, dua seniman Magelang yang terpesona dengan nilai estetis kesenian ini, terinspirasi untuk membuat lagu \u201cEmpat Penari\u201d pada 1940. Jika mengunjungi Semarang, Anda mungkin akan mendengar lagu \u201cEmpat Penari\u201d ini.<\/p>\n<p>Oey Yok Siang menyukai Gambang Semarang. Tak heran jika dari tangannya lahir beberapa lagu yang cocok dengan iringan musik kesenian ini. Selain \u201cEmpat Penari\u201d, dia membuat lagu \u201cImpian Semalam\u201d dan \u201cAksi Kucing\u201d yang kemudian dipakai sutradara M Arief untuk mengisi film film\u00a0<em>Lenggang Djakarta<\/em>\u00a0(1953).<\/p>\n<p><strong>Gitar Kesayangan<\/strong><\/p>\n<p>Oey Yok Siang dikenal sebagai pencipta lagu handal pada 1950-an, terutama untuk keperluan\u00a0<em>soundtrack\u00a0<\/em>film. Perusahaan Bintang Surabaja Film kerap menggunakan jasanya. Itulah sebabnya, meski tinggal di Magelang, Oey kerap bermukim di Jakarta atau Malang selama 1-3 bulan. Beberapa lagu terlahir dari tangannya seperti \u201cRadja Sehari\u201d, \u201dBadju Batik\u201d, \u201cTerkenang Ibu\u201d, \u201cIdaman Gadis Taruna\u201d, dan \u201cPilihlah Aku\u201d untuk mengisi film\u00a0<em>Putri Solo\u00a0<\/em>(1953) garapan sutradara Fred Young. Setahun kemudian, Oey menciptakan lagu \u201cDjoko Lodang\u201d dan \u201cGetuk Lindri\u201d untuk film\u00a0<em>Sebatang Kara<\/em>, juga karya sutradara Fred Young<em>.<\/em><\/p>\n<div id=\"pageBreak3\" class=\"page-break\" data-page=\"3\"><\/div>\n<p>Pada tahun 1950-an, Oey juga sudah meluncurkan album. Lagu-lagunya seperti \u201cGambang Semarang\u201d, \u201cImpian Semalam\u201d, \u201cBerdendang Sajang\u201d, \u201cAksi Kucing\u201d, dan \u201cRomeo &amp; Juliet\u201d terekam kali pertama dalam album piringan hitam di bawah bendera Irama Djakarta.<\/p>\n<p>Oey seorang seniman sejati. Dia menggantungkan hidup pada karya-karyanya. Teman sejatinya adalah sebuah gitar, satu-satunya alat untuk menciptakan lagu. \u201cSebagaimana diketahui, Oey Yok Siang itu dalam mencipta lagu-lagu rakyat populer tidak pernah menggunakan piano. Tetapi satu alat yang dapat dikatakan sudah menjadi darah dagingnya adalah gitar,\u201d tulis Tjia Koen Hwa dalam majalah\u00a0<em>Pantjawarna<\/em>, April 1960.<\/p>\n<p>Meski popular, dia tak pernah lupa keluarga. Dia menyisihkan dan mengirimkan sebagian penghasilannya ke rumah. Namun kesulitan keuangan menghampiri ketika pesanan dari Bintang Surabaja Film mulai seret pada medio 1960-an. Sementara dia lagi memperbaiki rumahnya di Magelang. Untuk menambal kekurangannya, Oey terpaksa melego satu-satunya gitar kesayangan.<\/p>\n<p>Tanpa gitar, Oey mulai pesimis memandang hidupnya. Hingga suatu ketika dia mendapat serangan asma, penyakit yang sudah lama dia derita. Komplikasi dengan tekanan darah tinggi memperparah kondisi tubuhnya.<\/p>\n<p>Pada akhirnya, di kediamannya di Jalan Karet 29 B, Magelang, Oey Yok Siang menghembuskan nafas terakhir pada 5 Maret 1960. Dia meninggalkan seorang istri dan seorang anak angkat bernama Agus Affandi yang baru berumur empat tahun.<\/p>\n<p>Sebelum meninggal, Oey sempat berpesan pada ibu kandung anak angkatnya: \u201cAgus jangan diambil kembali ya.\u201d Agus pula yang mengurus hak cipta lagu-lagu Oey, dengan meminta bantuan PT Penerbit Karya Musik Pertiwi (PMP) di Jakarta. PMP, yang antara lain menghimpun dan mengelola karya cipta lagu dan musik, mendata 18 lagu karya Oey Yok Siang. Sayangnya, PMP tak memberikan data lengkap mengenai masing-masing lagu.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Aksi Kucing<\/strong><\/p>\n<p>Dari sebegitu banyak lagu, \u201cAksi Kucing\u201d jadi salah satu yang popularitasnya melewati zaman. Lagu ini kerap dibawakan penyanyi-penyanyi tenar tanah air. Pada 1960-an Nien Lesmana (istri Jack Lesmana dan ibu dari Indra Lesmana) pernah membawakannya dengan nuansa\u00a0<em>swing big band<\/em>\u00a0dan rock and roll yang kental. Mendengarnya sedikit mengingatkan pada irama lagu-lagu The Beatles atau Koes Ploes, kental dengan suara cabikan senar gitar dan bass khas rock and\u00a0 roll.<\/p>\n<p>\u201cLagu-lagu Nien biasanya lebih ke pop atau\u00a0 jazz. Lagu-lagu Nien kan yang mengaransemen Jack Lesmana. Jack sendiri bisa main apa saja. Jadi sebuah lagu dia mau aransemen model apa saja, asyik aja. Mau di jazz-in, rock, bisa,\u201d kata Ricky Surya Virgana, anggota band White Shoes And The Couples Company.<\/p>\n<p>Pada 1970-an penyanyi Mus Mulyadi memasukkan \u201cAksi Kucing\u201d dalam album\u00a0<em>Keroncong Jenaka<\/em>. Dia membawakan lagu ini berduet dengan Mamiek Marsadi.<\/p>\n<p>Lagu ini juga populer di negara tetangga. Kartina Dahari, penyanyi asal Singapura yang mendapat julukan \u201cRatu Keroncong dari Melayu\u201d, memasukannya dalam album\u00a0<em>Kroncong Tina\u00a0<\/em>pada 1973. Di album ini, \u201cAksi Kucing\u201d mendapat sentuhan aransemen ulang oleh Kassim Masdor, juga dari Singapura.<\/p>\n<p>Memasuki tahun 2006, \u201cAksi Kucing\u201d kembali populer setelah menjadi\u00a0<em>soundtrack<\/em>\u00a0film\u00a0<em>Berbagi Suami<\/em>\u00a0garapan Nia Dinata. Lagu \u201cAksi Kucing\u201d dilantunkan penyanyi Jetti dengan iringan Orkes Gambang Kromong Lie Tan di bawah pimpinan Tan A Hoy. Selain tampil dalam film, \u201cAksi Kucing\u201d masuk dalam album kompilasi\u00a0<em>Ost Berbagi Suami<\/em>. Ini bukan kali pertama \u201cAksi Kucing\u201d menjadi soundtrack. Pada 1953, lagu ini sudah pernah dipakai sutradara M Arief untuk menghiasi film<em>\u00a0Lenggang Djakarta<\/em>\u00a0(1953).<\/p>\n<p>White Shoes And The Couple Company, yang ikut-serta dalam album\u00a0<em>Ost Berbagi Suami\u00a0<\/em>tapi membawakan lagu \u201cSabda Alam\u201d dan \u201cBersandar\u201d, memasukkan \u201cAksi Kucing\u201d dalam\u00a0<em>extended\u00a0 play<\/em>\u00a0(EP\/ album mini)\u00a0<em>Skenario Masa Muda<\/em>\u00a0yang rilis tahun 2007. Dalam album ini, \u201cAksi Kucing\u201d menjadi single andalan yang ditawarkan kepada pendengar.<\/p>\n<p>\u201cLagu-lagu yang dulu sempat hits selalu ada peluang untuk terkenal atau ngetop lagi. Tapi tentunya harus digarap secara tepat. Kalau sekadar membawakan atau menyanyikan kembali tanpa ada sentuhan baru jadi agak riskan,\u201d kata Denny.<\/p>\n<div id=\"pageBreak5\" class=\"page-break\" data-page=\"5\"><\/div>\n<p>White Shoes memberikan sentuhan nuansa jazz yang diramu lewat permainan senar drum nan ritmis dan permainan melodi solo gitar berpadu\u00a0<em>saxophone\u00a0<\/em>di bagian\u00a0<em>interlude<\/em>. Kenapa memasukkan \u201cAksi Kucing\u201d? \u201cPertama, itu lagu bagus. Kedua, banyak orang, terutama anak muda, yang belum pernah dengar lagu itu. Makna liriknya sebenarnya kan cukup dalam. Intinya, kita ingin memperlihatkan kepada anak-anak muda sekarang kalau Indonesia juga memiliki lagu-lagu bagus yang berkualitas,\u201d kata Ricky dari White Shoes.<\/p>\n<p>Pilihan yang tak sepenunya salah. Terbukti, kata Ricky, \u201cSetiap kali kita manggung banyak penonton yang selalu meminta agar kita memainkan lagu \u2018Aksi Kucing\u2019.\u201d<\/p>\n<p>Meong, meong&#8230;<\/p>\n<p><strong>HISTORIA<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Nawacita &#8211; LIRIKNYA kritis, terkesan nyinyir dan menyindir. Namun Oey Yok Siang, sang pencipta lagu, sepertinya cukup pandai dengan membalutnya dalam gubahan tempo yang menarik dan segar sehingga terdengar menggelitik di telinga. Permainan metafor pada lirik pun membuat lagu jadi penuh kesan jenaka. Coba saja simak liriknya: Apa guna bung malu malu kucing Meong meong [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":106547,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[75],"tags":[38106,38108,87,35310,38107],"class_list":["post-106546","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","category-tokoh","tag-aksi-kucing","tag-indo","tag-indonesia","tag-musik","tag-retropolis"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v28.0 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Sebuah Lagu Jenaka Tak Malu-Malu Kucing Untuk Tetap Populer Hingga Kini. - Nawacita<\/title>\n<meta name=\"description\" content=\"LIRIKNYA kritis, terkesan nyinyir dan menyindir. Namun Oey Yok Siang, sang pencipta lagu, sepertinya cukup pandai dengan membalutnya dalam\" \/>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/nawacita.co\/index.php\/2021\/01\/29\/sebuah-lagu-jenaka-tak-malu-malu-kucing-untuk-tetap-populer-hingga-kini\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Sebuah Lagu Jenaka Tak Malu-Malu Kucing Untuk Tetap Populer Hingga Kini. - Nawacita\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"LIRIKNYA kritis, terkesan nyinyir dan menyindir. Namun Oey Yok Siang, sang pencipta lagu, sepertinya cukup pandai dengan membalutnya dalam\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/nawacita.co\/index.php\/2021\/01\/29\/sebuah-lagu-jenaka-tak-malu-malu-kucing-untuk-tetap-populer-hingga-kini\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Nawacita\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/nawacitaco-1763136813898723\/?ref=aymt_homepage_panel\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2021-01-29T03:11:21+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/nawacita.co\/wp-content\/uploads\/2021\/01\/dadaee4322.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1114\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"622\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"redaksi\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@nawacit4\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@nawacit4\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"redaksi\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"6 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/nawacita.co\\\/index.php\\\/2021\\\/01\\\/29\\\/sebuah-lagu-jenaka-tak-malu-malu-kucing-untuk-tetap-populer-hingga-kini\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/nawacita.co\\\/index.php\\\/2021\\\/01\\\/29\\\/sebuah-lagu-jenaka-tak-malu-malu-kucing-untuk-tetap-populer-hingga-kini\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"redaksi\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/nawacita.co\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/599683af640858fd3b790bc37828ba57\"},\"headline\":\"Sebuah Lagu Jenaka Tak Malu-Malu Kucing Untuk Tetap Populer Hingga Kini.\",\"datePublished\":\"2021-01-29T03:11:21+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/nawacita.co\\\/index.php\\\/2021\\\/01\\\/29\\\/sebuah-lagu-jenaka-tak-malu-malu-kucing-untuk-tetap-populer-hingga-kini\\\/\"},\"wordCount\":1207,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/nawacita.co\\\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/nawacita.co\\\/index.php\\\/2021\\\/01\\\/29\\\/sebuah-lagu-jenaka-tak-malu-malu-kucing-untuk-tetap-populer-hingga-kini\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/nawacita.co\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2021\\\/01\\\/dadaee4322.jpg\",\"keywords\":[\"aksi kucing\",\"indo\",\"indonesia\",\"musik\",\"retropolis\"],\"articleSection\":[\"TOKOH\"],\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/nawacita.co\\\/index.php\\\/2021\\\/01\\\/29\\\/sebuah-lagu-jenaka-tak-malu-malu-kucing-untuk-tetap-populer-hingga-kini\\\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/nawacita.co\\\/index.php\\\/2021\\\/01\\\/29\\\/sebuah-lagu-jenaka-tak-malu-malu-kucing-untuk-tetap-populer-hingga-kini\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/nawacita.co\\\/index.php\\\/2021\\\/01\\\/29\\\/sebuah-lagu-jenaka-tak-malu-malu-kucing-untuk-tetap-populer-hingga-kini\\\/\",\"name\":\"Sebuah Lagu Jenaka Tak Malu-Malu Kucing Untuk Tetap Populer Hingga Kini. - Nawacita\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/nawacita.co\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/nawacita.co\\\/index.php\\\/2021\\\/01\\\/29\\\/sebuah-lagu-jenaka-tak-malu-malu-kucing-untuk-tetap-populer-hingga-kini\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/nawacita.co\\\/index.php\\\/2021\\\/01\\\/29\\\/sebuah-lagu-jenaka-tak-malu-malu-kucing-untuk-tetap-populer-hingga-kini\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/nawacita.co\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2021\\\/01\\\/dadaee4322.jpg\",\"datePublished\":\"2021-01-29T03:11:21+00:00\",\"description\":\"LIRIKNYA kritis, terkesan nyinyir dan menyindir. Namun Oey Yok Siang, sang pencipta lagu, sepertinya cukup pandai dengan membalutnya dalam\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/nawacita.co\\\/index.php\\\/2021\\\/01\\\/29\\\/sebuah-lagu-jenaka-tak-malu-malu-kucing-untuk-tetap-populer-hingga-kini\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/nawacita.co\\\/index.php\\\/2021\\\/01\\\/29\\\/sebuah-lagu-jenaka-tak-malu-malu-kucing-untuk-tetap-populer-hingga-kini\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/nawacita.co\\\/index.php\\\/2021\\\/01\\\/29\\\/sebuah-lagu-jenaka-tak-malu-malu-kucing-untuk-tetap-populer-hingga-kini\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/nawacita.co\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2021\\\/01\\\/dadaee4322.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/nawacita.co\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2021\\\/01\\\/dadaee4322.jpg\",\"width\":1114,\"height\":622},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/nawacita.co\\\/index.php\\\/2021\\\/01\\\/29\\\/sebuah-lagu-jenaka-tak-malu-malu-kucing-untuk-tetap-populer-hingga-kini\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/nawacita.co\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Sebuah Lagu Jenaka Tak Malu-Malu Kucing Untuk Tetap Populer Hingga Kini.\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/nawacita.co\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/nawacita.co\\\/\",\"name\":\"Nawacita\",\"description\":\"Berita Kementerian, BUMN, Pemerintah dan Politik\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/nawacita.co\\\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/nawacita.co\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/nawacita.co\\\/#organization\",\"name\":\"Nawacita\",\"url\":\"https:\\\/\\\/nawacita.co\\\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/nawacita.co\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/nawacita.co\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2021\\\/10\\\/Logo-Nawacita-2021.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/nawacita.co\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2021\\\/10\\\/Logo-Nawacita-2021.png\",\"width\":1676,\"height\":422,\"caption\":\"Nawacita\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/nawacita.co\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/nawacitaco-1763136813898723\\\/?ref=aymt_homepage_panel\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/nawacit4\"]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/nawacita.co\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/599683af640858fd3b790bc37828ba57\",\"name\":\"redaksi\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/a3ea3038dabe75a981e9a69b300b8272c74e0729c55e2f30478cde7add6c42f6?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/a3ea3038dabe75a981e9a69b300b8272c74e0729c55e2f30478cde7add6c42f6?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/a3ea3038dabe75a981e9a69b300b8272c74e0729c55e2f30478cde7add6c42f6?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"redaksi\"},\"sameAs\":[\"nawacitaportal\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/nawacit4\"],\"url\":\"https:\\\/\\\/nawacita.co\\\/index.php\\\/author\\\/redaksi\\\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Sebuah Lagu Jenaka Tak Malu-Malu Kucing Untuk Tetap Populer Hingga Kini. - Nawacita","description":"LIRIKNYA kritis, terkesan nyinyir dan menyindir. Namun Oey Yok Siang, sang pencipta lagu, sepertinya cukup pandai dengan membalutnya dalam","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/nawacita.co\/index.php\/2021\/01\/29\/sebuah-lagu-jenaka-tak-malu-malu-kucing-untuk-tetap-populer-hingga-kini\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Sebuah Lagu Jenaka Tak Malu-Malu Kucing Untuk Tetap Populer Hingga Kini. - Nawacita","og_description":"LIRIKNYA kritis, terkesan nyinyir dan menyindir. Namun Oey Yok Siang, sang pencipta lagu, sepertinya cukup pandai dengan membalutnya dalam","og_url":"https:\/\/nawacita.co\/index.php\/2021\/01\/29\/sebuah-lagu-jenaka-tak-malu-malu-kucing-untuk-tetap-populer-hingga-kini\/","og_site_name":"Nawacita","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/nawacitaco-1763136813898723\/?ref=aymt_homepage_panel","article_published_time":"2021-01-29T03:11:21+00:00","og_image":[{"width":1114,"height":622,"url":"https:\/\/nawacita.co\/wp-content\/uploads\/2021\/01\/dadaee4322.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"redaksi","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@nawacit4","twitter_site":"@nawacit4","twitter_misc":{"Written by":"redaksi","Est. reading time":"6 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/nawacita.co\/index.php\/2021\/01\/29\/sebuah-lagu-jenaka-tak-malu-malu-kucing-untuk-tetap-populer-hingga-kini\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/nawacita.co\/index.php\/2021\/01\/29\/sebuah-lagu-jenaka-tak-malu-malu-kucing-untuk-tetap-populer-hingga-kini\/"},"author":{"name":"redaksi","@id":"https:\/\/nawacita.co\/#\/schema\/person\/599683af640858fd3b790bc37828ba57"},"headline":"Sebuah Lagu Jenaka Tak Malu-Malu Kucing Untuk Tetap Populer Hingga Kini.","datePublished":"2021-01-29T03:11:21+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/nawacita.co\/index.php\/2021\/01\/29\/sebuah-lagu-jenaka-tak-malu-malu-kucing-untuk-tetap-populer-hingga-kini\/"},"wordCount":1207,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/nawacita.co\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/nawacita.co\/index.php\/2021\/01\/29\/sebuah-lagu-jenaka-tak-malu-malu-kucing-untuk-tetap-populer-hingga-kini\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/nawacita.co\/wp-content\/uploads\/2021\/01\/dadaee4322.jpg","keywords":["aksi kucing","indo","indonesia","musik","retropolis"],"articleSection":["TOKOH"],"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/nawacita.co\/index.php\/2021\/01\/29\/sebuah-lagu-jenaka-tak-malu-malu-kucing-untuk-tetap-populer-hingga-kini\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/nawacita.co\/index.php\/2021\/01\/29\/sebuah-lagu-jenaka-tak-malu-malu-kucing-untuk-tetap-populer-hingga-kini\/","url":"https:\/\/nawacita.co\/index.php\/2021\/01\/29\/sebuah-lagu-jenaka-tak-malu-malu-kucing-untuk-tetap-populer-hingga-kini\/","name":"Sebuah Lagu Jenaka Tak Malu-Malu Kucing Untuk Tetap Populer Hingga Kini. - Nawacita","isPartOf":{"@id":"https:\/\/nawacita.co\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/nawacita.co\/index.php\/2021\/01\/29\/sebuah-lagu-jenaka-tak-malu-malu-kucing-untuk-tetap-populer-hingga-kini\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/nawacita.co\/index.php\/2021\/01\/29\/sebuah-lagu-jenaka-tak-malu-malu-kucing-untuk-tetap-populer-hingga-kini\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/nawacita.co\/wp-content\/uploads\/2021\/01\/dadaee4322.jpg","datePublished":"2021-01-29T03:11:21+00:00","description":"LIRIKNYA kritis, terkesan nyinyir dan menyindir. Namun Oey Yok Siang, sang pencipta lagu, sepertinya cukup pandai dengan membalutnya dalam","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/nawacita.co\/index.php\/2021\/01\/29\/sebuah-lagu-jenaka-tak-malu-malu-kucing-untuk-tetap-populer-hingga-kini\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/nawacita.co\/index.php\/2021\/01\/29\/sebuah-lagu-jenaka-tak-malu-malu-kucing-untuk-tetap-populer-hingga-kini\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/nawacita.co\/index.php\/2021\/01\/29\/sebuah-lagu-jenaka-tak-malu-malu-kucing-untuk-tetap-populer-hingga-kini\/#primaryimage","url":"https:\/\/nawacita.co\/wp-content\/uploads\/2021\/01\/dadaee4322.jpg","contentUrl":"https:\/\/nawacita.co\/wp-content\/uploads\/2021\/01\/dadaee4322.jpg","width":1114,"height":622},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/nawacita.co\/index.php\/2021\/01\/29\/sebuah-lagu-jenaka-tak-malu-malu-kucing-untuk-tetap-populer-hingga-kini\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/nawacita.co\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Sebuah Lagu Jenaka Tak Malu-Malu Kucing Untuk Tetap Populer Hingga Kini."}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/nawacita.co\/#website","url":"https:\/\/nawacita.co\/","name":"Nawacita","description":"Berita Kementerian, BUMN, Pemerintah dan Politik","publisher":{"@id":"https:\/\/nawacita.co\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/nawacita.co\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/nawacita.co\/#organization","name":"Nawacita","url":"https:\/\/nawacita.co\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/nawacita.co\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/nawacita.co\/wp-content\/uploads\/2021\/10\/Logo-Nawacita-2021.png","contentUrl":"https:\/\/nawacita.co\/wp-content\/uploads\/2021\/10\/Logo-Nawacita-2021.png","width":1676,"height":422,"caption":"Nawacita"},"image":{"@id":"https:\/\/nawacita.co\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/nawacitaco-1763136813898723\/?ref=aymt_homepage_panel","https:\/\/x.com\/nawacit4"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/nawacita.co\/#\/schema\/person\/599683af640858fd3b790bc37828ba57","name":"redaksi","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/a3ea3038dabe75a981e9a69b300b8272c74e0729c55e2f30478cde7add6c42f6?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/a3ea3038dabe75a981e9a69b300b8272c74e0729c55e2f30478cde7add6c42f6?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/a3ea3038dabe75a981e9a69b300b8272c74e0729c55e2f30478cde7add6c42f6?s=96&d=mm&r=g","caption":"redaksi"},"sameAs":["nawacitaportal","https:\/\/x.com\/nawacit4"],"url":"https:\/\/nawacita.co\/index.php\/author\/redaksi\/"}]}},"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/nawacita.co\/wp-content\/uploads\/2021\/01\/dadaee4322.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/nawacita.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/106546","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/nawacita.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/nawacita.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/nawacita.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/nawacita.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=106546"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/nawacita.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/106546\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/nawacita.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/106547"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/nawacita.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=106546"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/nawacita.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=106546"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/nawacita.co\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=106546"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}