Bolehkah Menginjak Lafadz Allah di Sepatu? Ini Fatwa MUI yang Perlu Diketahui

Ilustrasi.
top banner

Bolehkah Menginjak Lafadz Allah di Sepatu? Ini Fatwa MUI yang Perlu Diketahui

JAKARTA, Nawacita— Lafadz Allah SWT termasuk nama yang diagungkan. Menjaga dan memuliakannya adalah sebuah keharusan.

Wakil Sekretaris Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Abdul Muiz Ali (AMA) mengatakan jika lafadz Allah hendak ditempatkan di area tertentu, hendaknya itu adalah yang bagus dan dihormati. Lafadz Allah tidak boleh diletakkan pada suatu tempat atau benda secara sembarangan.

Ilustrasi.

“Pada dasarnya, menulis atau meletakkan tulisan lafadz Allah hukumnya boleh asal diletakkan pada posisi dan tempat yang terhormat, seperti di tembok rumah atau tembok masjid,” kata Kiai AMA, Jumat (22/3/2024).

Kiai AMA mengatakan tentu tidak boleh meletakkan lafadz Allah yang dapat mengandung unsur penghinaan atau menyebabkan dihinakan. Misalnya, meletakan lafadz di WC, keset, atau tempat-tempat maksiat.

Menjaga lafadz Allah termasuk perbuatan mengangungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah. Allah subhanahu wata’ala berfirman:

ذَلِكَ وَمَن يُعَظِّمْ حُرُمَاتِ اللَّهِ فَهُوَ خَيْرٌ لَّهُ عِندَ رَبِّهِ [الحج:30]،

“Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Tuhannya.” (QS. Al-Haaj: 30).

Karena tertera nama “Allah” dan “Rasul”, Rasulullah sangat hati-hati saat memakai cincinnya.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ  قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللهِ  إِذَا دَخَلَ اَلْخَلَاءَ وَضَعَ خَاتَمَهُ.

Dari Anas ibn Malik—semoga Allah meridlainya, ia berkata: “Rasulullah—shalawat dan salam senantiasa tercurah untuknya—apabila masuk toilet beliau menyimpan cincinnya.”

Baca Juga: Fatwa MUI Terkait Haram Beli Produk Israel, Berikut Isi Lengkapnya

Bagaimana jika digunakan dalam produk-produk yang dipakai? Belum lama ini, masyarakat Malaysia menemukan kaus kaki yang desainnya memakai lafadz Allah.

Sebelumnya, ada beberapa merek sepatu yang diboikot karena desainnya menyerupai dengan lafadz Allah. Menurut Kiai AMA, hal itu tidak patut dilakukan.

Sebab, tata krama terhadap lafadz-lafadz yang mulia adalah memuliakanya. Bentuk memuliakannya antara lain tidak menggunakannya untuk logo pada produk tertentu.

“Karena khawatir dapat tercecer ditempat yang tidak baik, hingga menyebabkan menghinakan lafadz-lafadz yang mulia dan diagungkan dalam Islam,” kata dia. rpblk

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here