Kisah Arsjad Rasjid, Anak Tentara yang Berhasil Nahkodai Seluruh Pengusaha Se-Indonesia

top banner

Arsjad menceritakan bahwa kesuksesannya tak terlepas dari inspirasi hidup yang diberikan oleh kedua orang tua

Surabaya, nawacita – Inspirasi bisa datang dari mana saja. Tak terkecuali, dari kedua orang tua. Begitulah juga yang terjadi pada Mohammad Arsjad Rasjid Prabu Mangkuningrat atau yang lebih dikenal dengan nama beken Arsjad Rasjid.

Pengusaha kelahiran 16 Maret 1970 yang kini menjadi Ketua Umum Kadin dan Ketua Tim Pemenangan Ganjar itu bercerita semua kesuksesan yang didapatnya sekarang ini tak terlepas dari inspirasi hidup yang diberikan oleh kedua orang tua, terutama ayahnya H.M.N. Rasjid, seorang purnawirawan TNI AD.

Arsjad bercerita bahwa sejatinya ayahnya adalah seorang tentara. Meski demikian, ayahnya punya mimpi besar; ingin anaknya mandiri dan menjadi insinyur. Ia mengatakan ayahnya waktu itu punya pandangan dan mengatakan kalau ia mau bekerja dan mendapat gaji besar, insinyur adalah jawabannya.

Karena keinginan itu kemudian ia mengirimkan Arsjad kecil untuk bersekolah ke Singapura. Arsjad yang saat itu baru berusia 9 atau 10 tahun ia titipkan ke sebuah keluarga berkebangsaan Arab, Muhammad Haj dan Amerika Serikat setelahnya.

Di AS, Arsjad menempuh pendidikan di sekolah akademi. Selepas menyelesaikan sekolah tingginya, ia kemudian melanjutkan studi electrical engineering ke University of Southern California

“Pada waktu itu, electrical engineering, ada sub-nya. Saya khusus computer engineering,” katanya.

Meski sudah kuliah di teknik komputer, Asrjad muda merasa ada yang kurang. Menurutnya, tahu soal teknik komputer saja tapi tidak tahu bisnis akan percuma.

Baca Juga : Ketum Kadin Arsjad Rasjid Jadi Ketua Tim Pemenangan Nasional Ganjar, Andika Wakil

Akhirnya ia bilang ke sang Ayah untuk pindah jurusan.

“Yah, apakah memang mesti harus insinyur?” Aku mau pindah ini,” katanya.

Arsjad bersyukur keinginannya itu tak ditentang ayahnya. Bahkan dengan bijak ayahnya saat itu menyerahkan semua kepada Arsjad.

“Beliau bilang akhirnya ini adalah kehidupan kamu. Jadi sekarang harus membangun kehidupan kamu. Nah, kalau emang kamu itu keputusan kamu, itu kamu putuskan. Nah, jadi itulah tidak tahu bagaimana akhirnya akhirnya masuk ke bisnis,” katanya.

Berbekal restu sang ayah, ia akhirnya pindah ke sekolah bisnis di Universitas Pepperdine, AS. Setelahnya, ia sebenarnya ingin terus melanjutkan studinya di Negeri Paman Sam sampai ke level S2. Tapi keinginan itu ia tangguhkan.

Ia harus pulang karena sang ayah sakit. Setelah di Indonesia itulah, ia kemudian bekerja dan menikah. Nah, saat bekerja inilah naluri dan tangannya gatal untuk berbisnis dan jadi pengusaha.

Di awal era 1990-an, temannya datang dan mengajak bisnis. Cuma, saat itu Arsjad dihadapkan pada pilihan sulit.Maklum, di satu sisi ia sudah menikah dan punya anak pertama. Keadaan itu paling tidak mewajibkannya untuk punya penghasilan tetap yang bisa didapat dari kerja. Namun berkat keuletannya ia berhasil menjadi sosok pengusaha sukses di Indonesia.

Tak hanya menjadi Ketua Kadin, Arsjad juga didaulat sebagai Ketua TPN Ganjar-Machfud saat pemilu 2024 lalu (Istimewa)

Leadership jadi Kunci Kesuksessannya

Leadership, menurut Arsjad menjadi kunci dalam berbisnis. Saat ayah selalu bilang sama saya gini, “Cad, kalau kamu kerja dan segala macam atau kamu punya ini yang paling penting itu, anak buah kamu tuh harus kamu perhatikan. Pastikan sebisanya punya atap, ada rumah. Dapur ngebul terus. Jadi masih bisa buat hidup.”terangnya.

Minimal dua ini. Di situlah baru seseorang punya ketenangan. Nah, di situlah (dari apa yang diajarkan ayah saya) mulai bagaimana saya mulai mencintai human cap itu.

Ternyata (ajaran ayah) itu terpakai dalam proses kehidupan saya dari mulai kerja dan sampai bisnis. Sejak saat itu, saya yang dulunya paling saya nggak suka di sekolah itu satu subjek namanya OB, Organizational Behavior, behavior-nya organisasi menjadi suka.

Dari situ saya merasa ternyata ya menurut saya bisnis atau bekerja itu kuncinya tuh gimana betul manusianya is how to manage manusia.

Selain itu mental harus terus diasah, hal ini lantaran perjalanan bisnis up and down itu adalah suatu proses.

Ngomongnya sih gampang, bicara kalau bicara teori emang gampang itu selalu. Tapi kalau menjalankannya, nah itu beda. Contohnya tadi. Pertama saja, baru mau berbisnis, saya taruh duit sama teman sudah jebol. Uangnya habis.

Habis itu coba usaha yaitu menjual kartu, smart card. Sama apa juga menjual POS, Point of Sales. Kita berjuang dapat kontrak waktu itu. Kita tanda tangan sama satu bank yang besar dan punya kartu ini. Terus waktu itu, menjualnya sampai berapa ya, puluhan ribu lah dapat kontrak ini untuk kartu.

Bangga banget kita. Wah, ada kartu pertama dulu. Susah juga loh, enggak gampang. Akhirnya tapi pas sudah tanda tangan kontrak, ternyata apa yang terjadi. Banknya tutup. Itu namanya waktu itu pas krisis,  Asian financial crisis.

Enggak pernah ada yang tahu tiba-tiba tuh bank tutup. Ya Allah, ya Tuhanku, sudah dapat, sudah tanda tangan kontrak tapi enggak dapat, banknya tutup. Akhirnya gone, that’s life gitu.(cnn)

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here