Pengertian 4 Madzab Dalam Islam, Sejarah serta Karakteristiknya

0
458
Pengertian 4 Madzab Dalam Islam, Sejarah serta Karakteristiknya

JAKARTA, Nawacita – Secara umum, masyarakat Indonesia berpegang teguh pada empat madzab yaitu Syafi’i, Maliki, Hanafi, dan Hanbali untuk dijadikan sebagai sumber pedoman sesuai dengan Al-Qur’an dan Al-Sunnah. Beberapa urgensi pentingnya mengenal 4 madzab antara lain:

a. Keberagaman mazhab adalah realitas, yang harus dipandang sebagai kekayaan budaya islam untuk menghindari perselisihan dan pecah belah antar umat.
b. Sebagai sumber pilihan dan pedoman untuk mengatasi permasalahan kehidupan manusia yang modern.
c. Menghindari dari kebingungan karena terdapat banyak perbedaan pemikiran dan hukum.

Ahli ilmu memfatwakan bahwa umat islam wajib mengikuti salah satu madzab karena ilmu, amal, dan akhlaq 4 madzab tersebut telah memenuhi persyaratan sebagai Mujtahid.

1. Imam Abu Hanifah

Imam Abu Hanifah (Abu Al-Nu’man bin Tsabit bin Zufi Al-Tamimi) adalah pendiri Madzab Hanafi yang memiliki pertalian hubungan keluarga dengan Imam Ali bin Abi Thalib ra. Beliau dilahirkan di Kufah pada tahun 150 H/699 M. Semasa kecilnya, beliau memiliki sikap tekun untuk menghafalkan Al-Quran dan mendalami makna yang terkandung dalam ayat-ayat Al-Quran.

Disamping itu, beliau belajar ilmu fiqih kepada ulama yang sangat terpandang pada masa itu yaitu Humad bin Abu Sukaiman selama 18 tahun lamanya. Semasa hidupnya, Imam Hanafi dikenal sebagai ulama yang memiliki ilmu yang sangat dalam, twadhu’, zuhud, dan sangat teguh memegang ajaran agamanya. Beliau sangatlah tidak tertarik pada jabatan resmi kenegaraan, sehingga beliau menolak tawaran sebagai Qadhi’ (hakimagung). Adapun pokok-pokok ajaran ilmu fiqih Imam Hanafi antara lain:

a. Sumber Naqliyah (Al-Quran, al-Sunnah, Ijma, dan pendapat para sahabat.
b. Sumber Ijtihadiyah (pengumpulan qiyas dan istihsan)
c. Al-‘Urf (adat kebiasaan yang tidak bertentangan dengan nash)

Imam Abu Hanifah wafat pada tahun 150H/ 767 M, pada usia 70 tahun di pemakaman Pekuburan Khizra. Sehingga, pada tahun 450 H/ 767 M, didirikanlah sekolah yang diberi nama “Jami’ Abu Hanifah”.

2. Imam Malik Bin Anas

Imam Malik bin Anas adalah pendiri madzab Maliki, yang dilahirkan di Madinah, 93 H. Beliau berasal dari Kabilah Yammiah. Sejak kecil beliau sangatlah rajin untuk mengikuti majelis-majelis ilmu pengetahuan, sehingga beliau telah menghafal Al-Quran sejak kecil. Disamping itu, beliau belajar dari Ribiah, ulama yang sangatlah terkenal pada masa itu.

Selain itu, beliau juga memperdalam hadist kepada Ibn. Syihab dan mempelajari ilmu fiqih dari para sahabat. Setelah mencapai tingkat tinggi dalam bidang ilmu hadist dan fiqih, beliau memulai untuk mengajar kepada orang yang membutuhkan. Beliau dikenal sebagai ulama yang sangat berhati-hati dalam menyampaikan fatwa, sehingga beliau selalu meneliti hadist-hadist Rasulullah saw dan bermusyawarah dengan ulama lain.

Diriwayatkan, bahwa Imam Malik memiliki 70 orang untuk bermusyawarah untuk mengeluarkan suatu fatwa. Imam Maliki adalah ulama yang sangat terkemuka, terutama dalam ilmu hadist dan fiqih dan beliau telah menulis kitab Al-Muwaththa’ yang merupakan kitab hadist dan fiqih. Imam Malik meninggal dunia pada usia 86 tahun pada tahun 179 H.  hadist dan fiqih. Imam Malik meninggal dunia pada usia 86 tahun pada tahun 179 H.

3. Iman Syafi’i

Imam syafi’i (Muhammad bin Idris al-Syafi’i al-Quraisyi) adalah pendiri madzab Syafi’i. Beliau dilahirkan di Ghazzah tahun 150 H, bertepatan dengan wafatnya Abu Hanifah. Beliau dilahirkan dalam keadaan Yatim dan dari keluarga yang miskin, tidak menjadikan beliau merasa rendah diri dan malas belajar.

Imam Syafi’i sudah menghafal Al-Quran diusia 7 tahun dan beliau sudah menunjukkan kecerdasannya dalam berdiskusi. Beliau belajar kepada Imam Malik yang dikenal sebagai Madzhabul hadist. Kemudian, beliau melanjutkan untuk belajar dari ulama Irak yang dikenal sebagai madzhabul qiyas. Beliau memiliki keinginan untuk menyatukan madzab terpadu yaitu madzab hadist dan madzab qiyas. Beliau wafat di Mesir pada tahun 204 H, setelah menyebarkan ilmu dan memberikan manfaat ilmu kepada banyak orang. Adapun pokok-pokok fiqih Imam Syafi’i antara lain:

a. Al-Quran dan al-Sunnah
b. Al-Ijma
c. Pendapat sahabat yang tidak ada yang menentangnya
d. Ikhtilaf sahabat Nabi
e. Qiyas

Baca Juga: Pengertian Syariat, Tarekat, Hakikat dan Makrifat

4. Imam Ahmad Hanbali

Imam Ahmad Hanbali adalah Abu Abdullah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin Hilal Al-Syaibani. Beliau dilahirkan di Baghdad pada bulan Rabiul Awal tahun 164 H/ 780M. Ahmad Hanbali dilahirkan dalam keadaan yatim, karena ayahnya meninggal ketika beliau masih bayi. Beliau memulai dengan belajar menghafal Al-Quran, kemudian belajar bahasa Arab, Hadist, sejarah Nabi dan sahabat serta para tabi’in. Imam Ahmad Hanbali banyak mempelajari dan meriwayatkan hadist dan mengambil hadist shahih.

Imam Ahmad Hanbali wafat di Bagdad pada usia 77 tahun pada tahun 241 H/ 855H pada masa pemerintahan Khalifah Al-Watiq. Sepeninggal beliau, beliau menjadi salah satu madzab yang memiliki jumlah penganut banyak dan jarannya berkembang luas.
Adapun pokok-pokok fiqih madzab Hanbali, antara lain:

a. Al-Nushush
b. Fatwa sahabat
c. Ikhtilaf sahabat
d. Hadist mursal dan dha’if
e. Qiyas

Sebagian kaum muslim barangkali masih banyak yang awam soal hakikat bermadzab. Untuk diketahui, madzab bermakna jalan untuk memahami kitab Allah dan Sunnah Rasulullah.

Untuk belajar fiqih dan menerapkan ilmu syariat, seorang muslim harus merujuk kepada empat Imam Madzab dalam Ahlus Sunnah waljamaah. Di antaranya Imam Abu Hanifah (Madzab Hanafi); Imam Malik (Madzab Maliki); Imam Muhammad Bin Idris Asy-Syafi’i (Madzab Syafi’i); dan Imam Ahmad Bin Hanbal (Madzab Hambali).

Merekalah yang paling alim dan mengerti seluk beluk ilmu fiqih dan syariat. Ilmu fiqih artinya pengetahuan tentang hukum-hukum syar’i (syariat Islam). Bermadzab sangat penting bagi orang beragama agar pemahaman dan praktik agamanya benar.

Terkadang karena kedangkalan ilmu banyak yang mengira bahwa para Mujtahid atau imam madzab tidak merujuk kepada Al-Qur’an dan Hadis. Padahal ini pemahaman keliru. Justru para imam Madzab selalu merujuk Al-Qur’an dan Sunnah dalam menetapkan hukum-hukum Islam.

Lalu, kenapa muncul golongan tanpa madzab yang menganjurkan langsung saja belajar ke Al-Qur’an dan Hadis, tidak perlu ikut Imam? Menurut Buya Arrazy Hasyim, pakar Hadis asal Sumatera Barat, hal itu merupakan metode pengajaran yang keliru dan sangat berbahaya terutama kepada anak-anak muda yang baru Hijrah.

Logikanya dicontohkan oleh Buya Arrazy seperti di bawah ini: “Jika Anda sakit, apakah Anda membuka buku kedokteran dan mengobati sendiri? atau Anda berkonsultasi ke ahlinya yaitu dokter? jika ke dukun niscaya akan menjelekkan dokter (merendahkan ilmu medis).”

Tentunya yang benar adalah berkonsultasi dengan dokter yang terbukti keilmuannya dan mendapat izin dari IDI atau punya gelar dari universitas. Begitu pula dengan belajar agama kenapa harus mempunyai guru bermadzab dan punya sanad.

Berikut firman Allah dalam Al-Qur’an:

وَمَاۤ اَرۡسَلۡنَا مِنۡ قَبۡلِكَ اِلَّا رِجَالًا نُّوۡحِىۡۤ اِلَيۡهِمۡ‌ فَسۡـــَٔلُوۡۤا اَهۡلَ الذِّكۡرِ اِنۡ كُنۡتُمۡ لَا تَعۡلَمُوۡنَۙ‏

“Dan Kami tidak mengutus sebelum engkau (Muhammad), melainkan orang laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl Ayat 43)

Keterangan ini terdapat juga dalam Surat Al-Anbiya Ayat 7 yang artinya: “….Maka tanyakanlah kepada orang yang berilmu, jika kamu tidak mengetahui.” Itu sebabnya di Arab Saudi menetapkan Madzab resmi mereka adalah Hanbali. Semua urusan fiqih dan pelaksanaan syariat merujuk kepada Imam Ahmad Bin Hanbali.

Kemudian di Indonesia dan Asia Tenggara mayoritas menganut Madzab Syafi’i karena sejak dulu inilah madzab yang dibawa para pemuka agama dan penyebar Islam ke Nusantara. Madzab Syafi’i juga dipakai di Mesir dan Yaman.

Sedangkan Madzab Hanafi dipakai negara-negara di Pakistan, Afghanistan, India, Bangladesh dan Turki. Sementara Madzab Maliki dianut oleh negara-negara di Afrika seperti Aljazair, Tunisia, Maroko. Semuanya adalah golongan ahlus sunnah waljamaah.

kompnws.

Facebooktwitterlinkedininstagramflickrfoursquaremail

LEAVE A REPLY