KemenPPA Ungkap di Masa Pandemi Kasus Kekerasan Seksual dan KDRT Melonjak Tajam

0
148
Deputi Bidang Perlindungan Hak Perempuan, Ratna Susianawati saat diwawancarai di Kantor Kemen PPPA, Jakarta (10/12/21).

Jakarta, Nawacita – Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak mengungkapkan pada masa pandemi Covid-19 mengakibatkan lonjakan kasus kekerasan seksual pada anak dan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

Deputi Bidang Perlindungan Hak Perempuan Ratna Susianawati mengaku data tersebut didapatkan dari hasil laporan pengaduan pada Contact Centre Sahabat Perempuan dan Anak (SAPA) 129.

“Kasus kekerasan yang ditangani tentunya jenis kekerasan termasuk dalam situasi seperti ini yang terjadi pada masa pandemi Covid-19, dan terbaru kasus berbasis online,” kata Ratna, saat diwawancarai di Kantor Kemen PPPA, Jakarta, Jumat (10/12/2021).

“kebanyakan kasus yang masuk ke kami baik pengaduan langsung maupun tidak langsung ataupun yang viral di medsos kalo untuk perempuan dominasinya adalah kasus KDRT, kalo untuk kasus anak yang dominasi kasus kekerasan seksual,” tambahnya.

Lebih lanjut, Ratna menjelaskan, SAPA 129 merupakan layanan terbaru yg dimiliki Kemen PPPA yang dapat diakses masyarakat secara gratis untuk melaporkan tindakan kekerasan terhadap perempuan dan anak, termasuk di ranah digital melalui telepon 129 dan WA 08111-129-129.

“SAPA 129 ini sebenarnya menjadi ruang bagi aksesibilitas yang disiapkan Kemen PPPA sebagai bukti negara hadir. Karena saat ini kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak sebagaimana diketahui terjadi peningkatan yang cukup signifikan,” jelasnya.

Ratna mengatakan, aduan yang diterima Kemen PPPA melalui SAPA 129 nantinya akan ditindak lanjuti setelah dilakukannya identifikasi dan klarifikasi atas kebenaran kasus tersebut. Kemudian pihaknya akan memberikan pendampingan baik untuk masa pemulihan psikologis korban hingga pendampingan ranah hukum jika diperlukan.

“Tentunya untuk mendapatkan kebenaran objektif kami selalu melakukan langkah pertama klarifikasi kasus kemudian jika ini membutuhkan sinergi berbagai pihak kami juga akan melakukan identifikasi secara mendalam, pendampingan dan gelar kasus dan sebagainya, sesuai dengan kebutuhan korban,” papar Ratna.

SAPA 129, kata Ratna, diperuntukan juga bagi warga negara Indonesai (WNI) yang berada di luar negeri. Sebab, kasus-kasus kekerasan maupun pelecehan seksual pada anak dan perempuan kerap kali terjadi pada para pekerja WNI di luar negeri.

“sepanjang itu koridor warga negara Indonesia kita harus hadir. Banyak kasus yang terkait dengab pekerja migran, banyak juga perempuan di sana yang mengalami kasus kekerasan. Kemudian kasus-kasus tindak pidana perdagangan orang juga beberapa kasus sepanjang 2021,” ungkapnya.

Berdasarkan data dari layanan SAPA 129, Sebanyak 411 kasus dilaporkan melalui telepon pada periode 3 November – 3 Desember. Dan yang tindak lanjuti petugas SAPA 129 per Maret – November 2021, terdapat 121 kasus pengaduan lewat telepon dan 407 kasus pengaduan lewat pesan whatsApp.

Penulis: Alma Fikhasari

LEAVE A REPLY