Sinergi Kementan Yayasan Kitong Bisa Wujudkan 100 Ribu Petani Milenial

0
189

Nawacita – Penciptaan petani milenial menjadi salah satu program Kementerian Pertanian. Berbagai upaya ditempuh Kementan salah satunya melalui jalinan sinergi bersama Yayasan Kitong. Sinergi ini diharapkan dapat mewujudkan 100.000 petani milenial.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) mengatakan kehadiran petani milenial sangat dibutuhkan. Apalagi, pertumbuhan (Produk Domestik Bruto/PDB) sektor pertanian meningkat 16,24 persen secara kuartalan dan 2,19 persen secara tahunan pada kuartal II 2020 di tengah pandemi Covid-19.

Peningkatan pertumbuhan membuat kontribusi sektor pertanian ke perekonomian nasional mencapai 14 persen. Selain itu, sektor ini terbukti mampu menyediakan lapangan kerja bagi hampir separuh dari total penduduk Indonesia yang mencapai 268 juta orang.

Baca : KEMENTAN: Akhir Januari Harga Cabai Dipastikan Turun

“Pemerintah Indonesia terus mendorong peran penting sektor pertanian dalam menciptakan lapangan kerja di pedesaan, meningkatkan pendapatan keluarga petani, serta memastikan ketahanan pangan nasional,” ujar Syahrul.

Namun, pertumbuhan sektor pertanian belum sepenuhnya didukung oleh sumberdaya manusia yang handal terutama generasi milenial.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementan, Dedi Nursyamsi mencatat, petani muda di Indonesia yang berusia 20-39 tahun hanya berjumlah 2,7 juta orang atau sekitar 8% dari total jumlah petani di Indonesia sebanyak 33,4 juta orang. Sebanyak 90% lainnya masuk ke dalam kategori petani yang sudah tua.

Bahkan, menurut analisa Institut Pertanian Bogor (IPB), Indonesia dapat mengalami krisis petani karena petani yang tersisa umurnya sudah mendekati usia 56 tahun sehingga hasil pertanian menjadi kurang produktif.

“Petani milenial jumlahnya masih sekitar 2,7 juta orang, hanya sekitar 8% dari total petani kita 33,4 juta orang,” Jelas Dedi Nursyamsi pada acara Workhsop Penumbuhan Wirausaha Muda Pertanian dengan Yayasan Kitong Bisa di Bogor, Kamis (28/1/21).

Baca : BNI Tebar KPR Bagi Milenial

Dedi menilai, situasi tersebut akhirnya menjadi salah satu alasan yang mendorong Kementan untuk percepatan regenerasi petani. Berbagai upaya dan program pun dilakukan oleh Kementan mulai dari Pendidikan Vokasi Pertanian, Program Penumbuhan Wirausaha Muda Pertanian (PWMP), Program YESS, Pengukuhan Duta Petani Milenial (DPM) dan Duta Petani Andalan (DPA) sebagai icon petani dan pengusaha pertanian milenial serta Kerjasama dengan berbagai pihak salah satunya dengan Yayasan Kitong Bisa.

Dedi Juga menjelaskan, tak hanya melakukan penumbuhan petani milenial secara masif melalui berbagai program, Kementan juga bekerjasama dengan berbagai pihak untuk menyusun perencanaan yang memadai termasuk bussiness motivation pathway.

Termasuk melakukan pemetaan perusahaan yang akan menjadi offtaker serta melakukan pilot project dengan perusahaan untuk peningkatan nilai tambah dan efisiensi rantai pasok.

“Bahkan diawal tahun 2021 ini Kementan akan mengikutsertakan 1000 milenial untuk magang pada perusahaan-perusahaan yang berhubungan dengan pertanian dan turunannya baik didalam negeri maupun beberapa negara maju yang telah berhasil mengembangkan sektor pertanian seperti Jepang dan Korea,” tegas Dedi.

Menurutnya, Kementan harus membuktikan kepada generasi muda bahwa sektor pertanian merupakan sektor yang menjanjikan.

“Bahkan hampir satu tahun Indonesia di hantam Covid 19, sektor pertanian tetap mampu bertahan menunjukkan eksistensinya,” tambah Dedi.

Pada kesempatan yang sama Staf Khusus Presiden yang juga Ketua Yayasan Kitong Bisa, Billy Mambasar, mengapresiasi keberhasilan pembangunan sektor pertanian. Ia menyadari bahwa sektor pertanian memiliki potensi yang tidak ada matinya.

Billy menjelaskan, melalui program Milenial Agriculture Project (MAP) Yayasan Kitong Bisa berupaya membantu Pemerintah mewujudkan 100.000 petani muda yang berkualitas dan mampu mengembangkan pertanian baik di On-farm maupun Off-farm, untuk mendukung Ketahanan Pangan di Indonesia, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di lokasi di sekitar proyek ini berlangsung.

Secara rinci Billy menjelaskan 4 kluster MAP, yakni From Zero To Farmer dimana MAP akan berupaya melakukan perubahan pola fikir untuk tertarik bertani, pengumpulan 100.000 milenial yang ingin bergelut di bidang pertanian.

“Klaster berikutnya adalah From farmer to Agropreneur, From Farmer to Technofarmer serta From Agropreneur to Exporter. Yakni, meningkatkan kemampuan Bertani serta meningkatkan fasilitas lahan dan saprodinya hingga menjaga kualitas hingga meningkatkan jaringan pasar hingga ekspor,” ujarnya.

Sebagai Staf Khusus Presiden, Billy terus melaporkan perkembangan penumbuhan petani milenial

Baca : Di Depan DPR, Kementan Bongkar Penyebab RI Tergantung Kedelai Impor

“Bapak Presiden sangat mendukung penumbuhan petani dan wirausaha pertanian milenial untuk mendukung ketahanan pangan. Karena menurut Beliau tak ada negara hebat tanpa dukungan sektor pertanian serta ketahanan pangan yang baik. Kita harus yakin, dengan kerja keras dan sinergi berbagai pihak kita semua mampu mendongkrak kemajuan sektor pertanian dengan lahirnya 100.000 petani serta pengusaha pertanian milenial,” ungkap Billy.

MediaIndonesia

LEAVE A REPLY