Kementerian ESDM Klaim Pertambangan Bukan Penyebab Banjir Kalsel

0
76

Kalimantan | Nawacita – Kementerian ESDM menyatakan aktivitas pertambangan bukan penyebab banjir berhari-hari di Kalimantan Selatan. Cuaca ekstrem yang disebut menyebabkan banjir dan membuat pasokan batu bara ke pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) milik PT PLN (Persero) di sejumlah daerah terganggu.

Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM Ridwan Djamaluddin menyatakan, luas Daerah Aliran Sungai (DAS) Barito di Kalimantan Selatan mencapai 6,2 juta hektare. Sedangkan luas wilayah izin tambang 1,8 juta hektare, tapi yang sudah dibuka baru 14.000 hektare.

“Yang sudah dibuka sampai 2020 adalah 14 ribu hektar dan luas penggunaan lahan tambangnya 10 hektar. Jadi angka-angka itu memperlihatkan luas tambang saat ini (perbandingan lebih kecil) dengan luas DAS Barito,” kata Ridwan dalam konferensi pers Rantai Pasok Batu Bara untuk Pembangkit, Rabu (27/1).

Baca : Kementerian Izin Tambang Juga Kewenangan ESDM dan Pemda

Bencana banjir Kalsel ini, kata Ridwan, justru menyebabkan empat wilayah tambang terdampak. Keempatnya adalah yang dikelola PT Prolindo, PT Binuang Mitra Bersama, PT Arutmin Indonesia, dan PT Bhumi Rantau Energi.

Kata dia, pemerintah juga akan memantau kewajiban reklamasi kepada penambang batu bara di sana. Menurutnya, reklamasi harus dilaksanakan sesuai kewajiban 100 persen.

Baca : ESDM Bangun Taman Panel Surya di Indonesia Timur

Banjir yang meluas membuat akses jalan untuk mengirim batu bara ke dermaga terganggu. Sampai di dermaga pun tidak selalu keluar izin berlayarnya karena gelombang tinggi yang mengakibatkan pengiriman ke pembangkit terlambat hingga sampai 7 hari.

Karena itu, pemerintah mencari pasokan lain dari tambang yang tidak kena banjir agar stok di PLN tidak terganggu dan pemadaman listrik bisa dihindari.

“Ada 4 perusahaan tambang yang terdampak banjir. Ketika (pasokan) Kalsel terkendala, kita cari ke Kalimantan Timur dan Sumsel,” ujarnya.

Kumparan

 

 

LEAVE A REPLY