Rupiah Tambah Parah, Kian Lemah dan Dekati Rp 14.200/US$

0
129

Jakarta,Nawacita – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah di kurs tengah Bank Indonesia (BI). Rupiah pun lesu di perdagangan pasar spot.

Pada Selasa (12/1/2021), kurs tengah BI atau kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate/Jisdor berada di Rp 14.231. Rupiah melemah 0,54% dibandingkan posisi hari sebelumnya.

Di ‘arena’ pasar spot, rupiah juga merah. Pada pukul 10:00 WIB, rupiah melemah 0,71% ke Rp 14.180/US$.

Kala pembukaan pasar spot, rupiah sudah melemah 0,07% ke Rp 14.090/US$. Seiring perjalanan, rupiah terjerumus lebih dalam di zona merah

Jika sampai tutup ‘lapak’ rupiah masih merah, maka depresiasi mata uang Tanah Air bakal terjadi selama empat hari beruntun. Dalam tiga hari perdagangan sebelumnya, rupiah melemah 1,44%. Sepertinya start rupiah mengawali 2021 tidak terlalu bagus.

Sementara mata uang Asia lainnya bergerak variatif di hadapan dolar AS. Namun depresiasi 0,71% membuat rupiah jadi yang terlemah di antara para tetangganya.

Berikut perkembangan kurs dolar AS terhadap mata uang utama Benua Kuning di perdagangan pasar spot pada pukul 10:04 WIB:

Rupiah dan mata uang Asia lainnya memang sulit menandingi dolar AS yang sedang perkasa. Pada pukul 09:16 WIB, Dollar Index (yang menggambarkan posisi greenback di hadapan enam mata uang utama dunia) menguat 0,12%. Dalam sepekan terakhir, indeks ini sudah melesat 1,26%.

Maklum, mata uang Negeri Paman Sam sudah cukup lama tertekan. Sepanjang tiga bulan terakhir, Dollar Index ambles 3,18% dan dalam setahun ke belakang koreksinya mencapai nyaris 7%.

Ini membuat dolar AS menjadi ‘murah’ bagi investor yang memegang mata uang lain. Melihat dolar AS sedang dalam ‘paket hemat’, siapa yang tidak tertarik? Permintaan terhadap dolar AS meningkat, nilai tukarnya pun terangkat.

“Penguatan dolar AS disebabkan oleh meningkatnya tensi politik di AS. Situasi ini membuat posisi dolar AS diuntungkan,” ujar Paresh Upadhyaya, Direktur Amundi Pioneer Asset Management yang berbasis di Boston, sebagaimana diwartakan Reuters.

Pelaku pasar cemas terhadap risiko instabilitas politik di Washington. Usai penyebuan massa pendukung Presiden Donald Trump ke Capitol Hill (gedung legislatif AS) pekan lalu, wacana pemakzulan alias impeachment terhadap sang presiden ke-45 semakin mengemuka.

Kubu oposisi Partai Demokrat yang menguasai House of Representaives (salah satu dari dua kamar legislatif selain Senat) berencana mengajukan proposal pemakzulan Trump. “Presiden merepresentasikan ancaman terhadap konstitusi kita, negara kita, dan rakyat kita. Oleh karena itu, dia harus dikeluarkan dari kantornya sesegera mungkin,” tegas Nancy Pelosi, Ketua House, seperti dikutip dari Reuters.

Bahkan bukan tidak mungkin Trump dituntut secara hukum karena melakukan provokasi yang berbuah upaya perlawanan terhadap negara. Jika Trump dinyatakan bersalah, maka eks pembawa acara reality show The Apprentice itu tidak maju maju sebagai calon presiden di pemilihan 2024.

Kondisi politik di Washington yang memanas membuat investor memilih menjaga jarak. Sebab, bukan tidak mungkin massa pendukung Trump kembali melakukan aksi jika idolanya terus diusik. Situasi bukannya membaik malah semakin tegang.

Perkembangan ini membuat investor memasang mode bermain aman. Dolar AS adalah salah satu aset aman (safe haven) yang menjadi pilihan kala situasi sedang tidak pasti.

CNBC Ind

 

LEAVE A REPLY