Kartu ATM OPOP Jatim Berdaya Mulai Soft Launching

0
562
Sekretaris OPOP Jatim Mohammad Ghofirin (kiri) menyerahkan secara simbolis replika Kartu ATM OPOP Berdaya kepada pengasuh pondok pesantren di Madura, Jumat (2/10/2020).

SAMPANG, nawacita – Program One Pesantren One Product (OPOP) Jawa Timur telah melakukan soft launching Kartu ATM Co-Branding bagi pondok pesantren. Launching kartu bernama OPOP Jatim Berdaya dan sosialisasi mekanisme pengajuan dana hibah anggota OPOP dilaksanakan di Hotel Camplong Sampang Madura, Jumat (2/10/2020).

Sekretaris OPOP Jatim, Mohammad Ghofirin, menyampaikan, bahwa launching kartu ATM OPOP Jatim berdaya dilakukan dalam upaya meningkatkan nilai ekonomi dan pemberdayaan produk-produk ponpes agar lebih memasyarakat.

Menurut Ghofirin, OPOP ini lahir orisinil dari gagasan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa. Gubernur tahu semua latar belakang pesantren dan ingin memberikan sumbangsih yang nyata bagi pesantren di Jawa Timur.  “Kita tahu pesantren di Jawa Timur ada 4.600 dan jumlah itu adalah yang terdapat di Kemenag, masih ada 1000 lebih yang belum tercatat karena belum mengurus izin operasionalnya, kami mencoba memberi nilai lebih pada pondok pesantren,” ujarnya saat melakukan sosialisasi di sejumlah pengurus pondok pesantren wilayah Madura.

Sosialisasi Mekanisme Pengajuan Dana Hibah Anggota OPOP dan Soft Lauching Kartu ATM OPOP.

Lanjut Ghofirin, keberadaan pondok pesantren sebenarnya terjadi pangsa pasar yang kuat pada santrinya.  Ada Wali santrinya ada alumninya itu captive market. “Maka kita tidak boleh membiarkan itu sia-sia. OPOP Jawa Timur dilakukan oleh Gubernur Jawa Timur untuk mengangkat ekonomi Pesantren demi apa? demi peningkatan kesejahteraan masyarakat,” terangnya.

Kegiatan ini, menurut Ghofirin, adalah salah satu bentuk layanan layanan permodalan. “Kita beriktiar bersama untuk mewujudkan agar setiap pesantren, khusus koperasi pondok pesantrennya mendapatkan stimulus darah berupa dana hibah Rp 50 juta. Dana itulah yang akan digunakan oleh UMKM pesantren dalam hal ini koperasinya untuk mengembangkan produk-produk yang dihasilkan oleh Pesantren,” ucapnya.

Ini salah satu saja, dimana Bank Jatim Syariah juga siap support bukan hanya hibah. Maka diharapkan ada semacam naik kelas.  Jika kelasnya bawah artinya kelas yang memang hanya berharap hibah, tapi kalau dia sudah naik kelas dia tidak takut lagi melakukan kerjasama dengan lembaga perbankan.

“Pengawasannya tentu kita akan bersinergi antara berangkat dinas. OPOP Jawa Timur ini per tim dan tim kami didukung oleh seluruh perangkat keras di Jawa Timur ada Dinas Koperasi dan UKM provinsi sebagai leading sektornya. kemudian ada Dinas Perindustrian Perdagangan,  Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Dinas Tenaga Kerja Transmigrasi, Dinas Pendidikan dan Dinas Kominfo Jatim. Kesemuanya bersatu padu untuk mewujudkan OPOP Jawa Timur ini,” tuturnya.

Mohammad Ghofirin Sekretaris OPOP Jatim.

Menurutnya, OPOP Jawa Timur memiliki  5 aspek, kelembagaannya harus legal, jadi koperasi harus harus berbadan hukum. Makanya  pesantren yang belum punya badan hukum koperasnya, kita dorong dan difasilitasi untuk mendirikan koperasi berbadan hukum.

Kedua, adalah tenaga kerjanya atau SDM-nya harus dilatih untuk menjadi tenaga yang terampil dan profesional. Kemudian produknya bukan produk asal. “ kita ingin lahir dari 1000 pesantren 1000 protec yang unggul dan berkualitas.  Pasarnya kita buka aksesnya melalui pameran, misi dagang, galeri, online dan offlin. Semua kita lakukan untuk membuka akses pasar,” katanya.

Sementara yang kelima tentunya permodalannya atau pembiayaannya. Harapannya program pemerintah Jawa Timur ini tidak akan bisa sukses tanpa dukungan pemerintah daerah kabupaten kota. “Kami ingin para kepala daerah Bupati Walikota untuk bersatu padu untuk  memperhatikan UMKM berbasis pondok pesantren.

Nantinya, Insya Allah kalau Gubernur nya sudah peduli, maka Bupati Walikota nya ikut peduli. Maka Insya Allah kebangkitan UMKM berbasis pondok pesantren di era pandemi ini segera terwujud,” tuturnya.

OPOP berjalan 1 tahun ini sudah beranggotakan 350 pesantren. Kenapa tidak langsung dibuka banyak, karena biar oundorectrac. Jadi 1000  itu adalah target untuk tahun 2023. Maka 2019 jumlahnya 150 dan pada  2020 tambah  500.

“Januari 2021 kita akan tambah 200 lagi dan seterusnya nggak 2023 menjadi 1000.  Kita ingin yang 350 ini kita angkat betul melalui berbagai macam program pendampingan,” pungkasnya. bdo/**

LEAVE A REPLY