Penemuan Kombinasi Obat Covid-19, Rektor Unair: Kita Bukan Beri Obat Baru

0
280

Surabaya, Nawacita– Semenjak diumumkan penemuan kombinasi obat Covid-19 oleh Universitas Airlangga (Unair) menjadi harapan baru bagi masyarakat Indonesia. Adapun kombinasi 5 obat itu, yakni Lapinavir/ritonavir, azithromicyne, doxycycline, claritromycine dan hydroxychloroquine.

Sayangnya kombinasi ini bukanlah obat utama yang bisa ampuh melumpuhkan Covid-19. Melainkan hanya rekomendasi kombinasi obat dari peneliti Unair sebagai rujukan bagi dokter dalam penanganan pasien Covid-19.

Prof. Mohammad Nasih selaku rektor Unair menjelaskan bahwa obat Covid-19 tidak menjadi obat baru. Melainkan kombinasi obat yang bisa digunakan secara fungsional.

“Kita memberikan rekomendasi, di antara obat-obat yang sudah dipakai itu mana yang terbaik. Kita bukan beri obat baru. Coba bayangkan mana ada dokter di Indonesia yang menangi Covid-19, yang tidak menggunakan obat secara tidak coba-coba? Bercandaannya kan gitu,” ungkapnya kepada media pada Senin 16 Juni 2020.

Walaupun demikian laki-laki yang menjabat rektor Unair sejak 2015 lalu ini mengatakan setidaknya rekomendasi yang diberikan ini adalah legal. Sehingga berbasiskan dari penelitian.

“Setidaknya kan legal. Jadi ada 5 kombinasi obat yang direkomendasikan,” katanya.

Ia juga menepis kabar Unair menemukan obat herbal untuk mengatasi Covid-19. Sebab belum ada penelitian resmi dari pihaknya terkait hal itu.

“Obat herbal itu yang berkembang adalah untuk imun. Tapi secara penanganan Covid masih belum ada bukti ilmiahnya. Mestinya kalau ada klaim obat herbal atas nama Unair harusnya Saya tahu. Masalahnya saya belum dengar,” lanjutnya.

Di sisi lain, Akmarawita Kadir sekretaris Komisi D DPRD Surabaya menuturkan bahwa kombinasi obat merupakan hal yang wajar digunakan dalam kedokteran. Apalagi kelima kombinasi obat tersebut sudah sering digunakan untuk berbagai macam penyakit.

“Obat-obat Lapinavir/ritonavir, azithromicyne, doxycycline, claritromycine, hydroxychloroquine yang dikombinasikan sebenarnya adalah obat-obat yang sudah lama di pakai di dunia kedokteran sebagai obat anti virus, antimalaria, anti bakteri. Setiap dokter bisa memilih kombinasi obat-obat tersebut berdasarkan kasus-kasus di lapangan tentunya, sampai obat definitif dan vaksin covid-19 ditemukan,” ujarnya pada Sabtu 14 Juni 2020 melalui pesan Whatsapp.

Walaupun begitu, Laki-laki yang juga berprofesi sebagai dokter ini tetap mengapresiasi langkah penelitian dari Unair. Apalagi beredar kabar bahwa adanya Stem Cell dan Natural Killer digadang-gadang bisa mengatasi Covid-19.

“Adanya potensi stem cell, dan natural killer (NK) dalam pengobatan adalah sangat baik, harus terus diteliti. Bila berhasil maka bisa menjadi salah satu rujukan dalam terapi kasus covid-19 dengan komplikasi dan gejala yang berat,” tandasnya.

Ia menjelaskan bahwa Stem Cell dan NK dapat meregenerasi sel-sel yang ada di tubuh. Sebab Covid-19 juga mengakibatkan radang paru-paru, sehingga sel-sel yang ada bisa rusak.

“Kita ketahui apabila sudah terjadi radang paru-paru akibat komplikasi dari covid-19, maka angka sesembuhannya sangat tipis. Jikapun sembuh akan menimbulkan scar/ jaringan yang abnormal di paru-paru. Sehingga butuh regenarasi dari sel-sel yang rusak itu,” pungkasnya.

(and)

LEAVE A REPLY