Mengenal Kim Jong-un, Sang Pemimpin Korea Utara

0
382
Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un.
Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un.

PYONGYANG, Nawacita – Berbagai laporan menyebutkan bahwa Kim Jong-un menderita sakit keras bahkan meninggal setelah menjalani bedah jantung, tetapi para pejabat di Korea Selatan yang melakukan pemantauan mengatakan berita itu tidak benar, lapor wartawan BBC di Seoul, Laura Bicker.

Dengan kondisi Korea Utara yang tertutup maka tidak mungkin melakukan verifikasi terkait dengan sejumlah laporan dengan judul antara lain Kim Jong-un “sakit keras” dan “menjalani penyembuhan setelah operasi”.

Kantor presiden Korea Selatan mengatakan tidak menemukan tanda-tanda khusus dari Korea Utara yang menunjukkan bahwa Kim Jong-un, 36, “sakit keras”. China, yang memiliki kedekatan dengan Korea Utara, juga menampik kabar bahwa Kim sedang sakit keras.

Kim Jong-un mengambil alih kepemimpinan tertinggi Korea Utara dengan latar belakang pengalaman politik atau militer yang minim. Kim Jong-il, ayah Kim Jong-un yang kerap disebut “Pemimpin Tersayang”, sedang dalam proses menggembleng sang anak, ketika dia meninggal pada Desember 2011.

Baca Juga: Kim Yo-jong Calon Kuat Pengganti Kim Jong-un

Sesaat setelah ayahnya meninggal, Kim muda dipuji sebagai seorang “penerus yang hebat”. Selang dua pekan kemudian, dia diangkat sebagai kepala partai, negara, dan angkatan bersenjata. Terlepas dari pertemuan bersejarah dengan AS dan langkah-langkah untuk meningkatkan hubungan dengan Korea Selatan, sejak saat itu dia telah menunjukkan komitmennya untuk memajukan program senjata Korea Utara dengan memerintahkan uji coba nuklir dan rudal.

Ia juga menunjukkan dirinya sebagai sosok tanpa belas kasih dengan menyingkirkan pamannya yang kuat. Pembunuhan kakaknya, Kim Jong-nam, juga secara luas dikaitkan dengan perintah darinya.

Julukan ‘Raja bintang pagi’

Kim Jong-un, putra bungsu Kim Jong-il dan istri ketiganya, Ko Yong-hui, lahir pada tahun 1983 atau 1984. Awalnya ia tidak dianggap sebagai calon penerus kekuasaan ayahnya. Para analis justru berfokus pada kakak dari ibu yang berbeda, Kim Jong-nam, dan kakak kandungnya, Kim Jong-chol.

Namun dengan dideportasinya Kim Jong-nam dari Jepang pada Mei 2001 serta adanya laporan bahwa saudara tiri Kim Jong-chol “kurang jantan”, peluang Kim Jong-un untuk terpilih semakin meningkat. Para analis melihatnya sebagai pemimpin masa depan setelah ia diberi kepercayaan untuk menduduki serangkaian jabatan politik terkemuka.

Dididik di Swiss seperti saudara-saudaranya, Kim Jong-un menghindari pengaruh Barat. Dia langsung pulang setelah selesai sekolah dan makan malam dengan duta besar Korea Utara. Sekembalinya di Pyongyang, ia diketahui belajar di Universitas Militer Kim Il-sung. Sang ibu yang disebut sebagai istri kesayangan Kim Jong-il sangat menyayanginya dan memanggilnya dengan sebutan “Morning Star King” atau “Raja Bintang Pagi”.

Pada Agustus 2010, ketika Kim Jong-il mengunjungi China, sebuah laporan mengatakan Kim Jong-un menemani ayahnya dalam perjalanan tersebut. Pada saat itu dia secara luas dilihat sebagai pewaris dan ketika Kim Jong-il meninggal, kabar ini pun dengan cepat dikonfirmasi.

Doktrin ‘militer yang utama’

Kim Jong-un pertama kali berpidato di depan publik pada 15 April 2012, ketika Korea Utara memperingati ulang tahun ke-100 kakeknya sekaligus pendiri Korut, Kim Il-sung. Saat itu, dia memuji doktrin ‘militer yang utama’ dan bersumpah bahwa era negaranya bisa diancam “telah berakhir selamanya”.

Di bawah kepemimpinannya, pengembangan program nuklir dan rudal Korea Utara dilanjutkan dan tampaknya dipercepat. Empat kali uji coba nuklir telah dilakukan, sehingga rezim ini secara keseluruhan sudah melakoninya sebanyak enam kali. Pyongyang mengklaim telah berhasil menguji bom hidrogen miniatur yang dapat dimuat ke rudal jarak jauh, tetapi pendapat para ahli tetap terbelah tentang seberapa maju program tersebut. Jangkauan rudal Korea Utara juga tampaknya telah meningkat.

LEAVE A REPLY