Wamen BUMN: Ahok itu Dirut yang Menyaru Jadi Komut Pertamina

0
202
Komisaris Utama Pertamina Basuki Tjahaja Purnama menyapa awak media usai menemui Presiden Joko Widodo di Istana, Jakarta, Senin (9/12/2019). Pertemuan tersebut Presiden meminta agar memperbaiki defisit neraca perdagangan kita di sektor petrokimia dan migas.

Jakarta, Nawacita – Anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi Gerindra Andre Rosiade beberapa waktu lalu sempat menyinggung peran baru Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok di PT Pertamina (Persero). Menurut dia, peranan Ahok sebagai komisaris Pertamina sangat dominan. Andre pun menjuluki Ahok sebagai komisaris rasa direktur utama (dirut).

Wakil Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Budi Gunadi Sadikin (BGS) justru menyampaikan pernyataan yang bertolak belakang dengan Andre. Budi mengaku telah berbincang dengan mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut.

“Pak Ahok bilang ke saya, enggak, itu salah. Ini kita dirut yang menyaru jadi komut. Gitu kata Pak Ahok,” ucap Budi Gunadi Sadikin saat ditemui di Gedung Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Jakarta, Kamis (6/2/2020).

Sebelumnya, Andre Rosiade sempat menyentil peran Ahok sebagai Komut yang dianggapnya lebih banyak tampil di depan publik ketimbang Direktur Utam Pertamina, Nicke Widyawati.

“Karena yang tampil biasanya Pak Ahok, mungkin ada komisaris rasa dirut,” ungkap Andre saat rapat dengar pendapat Komisi VI DPR bersama Kementerian BUMN, Pertamina dan PLN pada Senin 3 Februari 2020 kemarin.

Dia juga meminta kepada Wakil Menteri BUMN 1 Budi Gunadi Sadikin untuk terus memantau kinerja Ahok sehingga tidak menyalahi jabatannya sebagai Komut Pertamina.

Andre juga meminta kepada Ahok agar memberikan kesempatan kepada Nicke untuk lebih memberikan penjelasan terkait perusahaan di hadapan publik.

“Berharap ke depan itu disampaikan Pak Wamen, jangan terlalu majulah. Jangan sampai orang bicara ada komisaris rasa dirut,” imbuh Andre.

Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok resmi menjabat sebagai komisaris PT Pertamina (Persero) pada Senin 25 November 2019. Sejak itu, bertumpuk tugas berada di pundaknya.

Banyak yang berharap Ahok bisa membenahi permasalahan di sektor minyak dan gas (migas) di Pertamina pada khususnya dan di Indonesia pada umumnya. Sebut saja mengenai mafia migas hingga ketahanan energi.

Usai dilantik, Presiden Joko Widodo (jokowi) pun langsung memanggil Ahok. Jokowi secara pribadi langsung memberikan berbagai tugas kepada Ahok.

Tugas pertama, Jokowi meminta Ahok untuk mengawal pembangunan kilang minyak. “Pembangunan kilang minyak harus. Sudah 34 tahun enggak bisa bangun, kebangetan. Saya suruh kawal betul dan ikuti terus progresnya,” ujar Jokowi pada 10 Desember 2019.

Tugas kedua, Jokowi memerintahkan Ahok untuk menurunkan impor minyak dan gas. Jokowi ingin impor migas dikurangi sehingga dapat menyelesaikan masalah defisit transaksi berjalan.

“Saya ingin urusan yang berkaitan dengan defisit transaksi berjalan, defisit neraca perdagangan kita bisa diturunkan kalau impor migas bisa dikendalikan dengan baik. Intinya mereka menyanggupi,” jelasnya.

Mantan Gubernur DKI Jakarta itu juga meminta Ahok mengawal program Biodiesel 30 (B30) sebagai bahan bakar campuran BBM solar. Program B30 dilaksanakan mulai Januari 2020.

“Dilaksanakan Januari awal juga agar betul-betul dilaksanakan dan dikawal, sehingga bisa menurunkan impor minyak,” ucap Jokowi.

lp6

LEAVE A REPLY