Pengusaha Situs Porno yang Jadi Master Startup

0
581

Jakarta, Nawacita – Keishi Kameyama merupakan pengusaha yang juga salah satu orang terkaya di Jepang. Cara dia mencari uang dan menghabiskannya sangat berbanding terbalik.

Kameyama adalah pemilik perusahaan kerajaan media dan teknologi DDM.com. Kerajaan bisnis itu dia bangun bermula dari situs porno yang bernama Pornhub.

Kameyama yang sudah berkecimpung di dunia pornografi selama 3 dekade mengatakan, dia memasarkan film dewasa bukan untuk dinikmatinya sendiri. Baginya pornografi adalah sesuatu yang bisa dijual dan mengambil keuntungan, tidak berbeda dengan produk lain.

“Saya tidak masuk ke bisnis film dewasa ini karena saya penggemar (film porno). Tapi itu adalah eksperimen yang berhasil, dan begitu saya punya uang, saya ingin mencoba hal-hal lain juga,” ujarnya dilansir dari Independent, Senin (13/1/2020).

Kameyama mulai memproduksi film porno pada akhir 1980-an setelah mendapati dirinya tidak punya uang untuk membiayai film non-dewasa. Pada tahun 1998, ketika ia meluncurkan layanan streaming web pertama di Jepang, DMM sudah menjadi produsen film porno terbesar di Jepang.

Dalam satu dekade, lebih dari satu juta pengguna internet membayar untuk streaming film porno milik Kameyama. Dengan semua bola mata yang terpaku pada situsnya, ia mulai mencari hal-hal lain yang mungkin ingin dibeli oleh para penonton pria.

Lalu pada 2009, Kameyama membeli perusahaan pialang saham online yang tengah kesulitan. Perusahaan itu dia benahi yang menelan biaya hampir US$ 100 juta. Kemudian perusahaan itu diubah menjadi platform perdagangan mata uang asing paling populer di Jepang.

Perusahaan itu membuat DMM menjadi semacam Las Vegas virtual. DDM melayani hasrat sebagian orang yakni seks dan uang.

Dari situ bisnis Kameyama bercabang menjadi bisnis yang lebih ramah keluarga. Misalnya dia mulai mengembangkan video game hit ‘Fleet Collection’.

Kameyama juga membeli perusahaan pengembang perangkat lunak Rwanda, bersama dengan saham di perusahaan pembayaran elektronik terbesar Rwanda. Keputusan itu terinspirasi ketika dia sedang liburan ke Afrika.

Kameyama tidak akan mengungkapkan keuntungannya, tetapi dia mengatakan ada dana yang cukup untuk mendanai semua bisnis baru tanpa harus membawa DMM masuk pasar modal. Kecuali dia mencoba sesuatu yang besar seperti membangun taman hiburan berdasarkan karakter anime Jepang.

“Bayangkan apa yang akan dikatakan orang jika Mr Porn membangun Disneyland?” candanya.

Bagaimana masa kecil Kameyama?

Kameyama tumbuh di kota kecil di tepi laut yang bernama Kaga, Jepang. Orang tua Kameyama mengelola kabaret. Sebuah klub di mana para pria membayar untuk menikmati pertunjukan dan ditemani wanita.

Usaha orang tuanya itu bukan rumah bordil, tapi juga tidak terpisah dengan dunia itu. Dia terbiasa tumbuh dengan keadaan itu.

Setelah lulus dari sekolah akuntansi sekitar tahun 1980, Kameyama mengatakan dia menganggap hampir semua pekerjaan menjanjikan pembayaran dengan bagus. Dia pernah menjadi penari setengah telanjang di klub gay Chippendale meski hanya singkat. Suatu kali, ia mencoba pekerjaan di rumah sakit sebagai pencuci mayat.

Saat dia berusia 20-an, Kameyama memiliki beberapa toko film sewaan. Tapi dia tahu itu tidak akan bertahan lama.

Untuk bertahan, Kameyama memutuskan untuk mencoba membuat film alih-alih menyewanya. Dia mendirikan pabrik film pornonya di sebuah supermarket kosong, di mana dia menggunakan ribuan perekam video rumah tangga untuk menyalin dari kaset master, berjalan siang dan malam.

Dia mampu meyakinkan sebagian besar toko video untuk menjual produknya dengan tawaran yang sangat baik. Mereka hanya cukup membayar ketika sudah terjual.

Lalu dia juga memberikan mesin kasir yang dikembangkan Kameyama yang terlihat seperti komputer tablet. Dia memberikannya kepada toko pelanggan secara gratis, sebagai ganti catatan penjualan mereka.

Namun, inovasi terbesar yang dia lakukan adalah online. Meskipun pilihan itu pada 1998 bukanlah keputusan yang baik. Saat itu penggunaan DVD masih terbilang baru dan hanya sekitar satu dari lima rumah tangga Jepang yang memiliki akses internet.

Tapi DMM.com sekarang menjual sekitar setengah dari video dewasa yang diperkirakan bernilai US$ 1 miliar yang dibeli di Jepang setiap tahun.

Pengalaman itu menjadi alasan para siswa di Universitas Keio Tokyo meminta Kameyama untuk menjadi pembicara dalam sebuah seminar tentang kewirausahaan sosial. Mereka bertanya bagaimana Kameyama memunculkan ide-ide bisnis baru dan memiliki keyakinan untuk menindaklanjutinya.

Seorang siswa juga bertanya bagaimana membangun bisnis yang layak yang juga berkontribusi bagi masyarakat. Tanggapan Kameyama adalah mulailah dengan membangun perusahaan yang bisa menafkahi banyak keluarga daripada hanya berpikir untuk menghapus kelaparan di muka bumi.

dtk

LEAVE A REPLY