Mengenal Eksibisionis, Gangguan Jiwa Terkait Kasus Pelemparan Sperma

0
629
Ilustrasi.
Ilustrasi.

SURABAYA, NawacitaBELUM lama ini terjadi kasus tak biasa di Tasikmalaya, Jawa Barat. Pelaku melakukan pelemparan sperma kepada seorang wanita. Kejadian ini terungkap setelah seorang perempuan mengabadikan momen saat dirinya mendapat tindakan asusila tersebut. Foto yang ia bagikan ke Facebook kemudian viral, dan pelaku pelemparan sperma pun segera ditangkap dua hari yang lalu.

Dalam keterangannya, si pelaku menjelaskan kalau kejadian itu sudah dua kali ia lakukan dan dengan niatan bercanda. Pelapor menjelaskan, kalau si pelaku ini awalnya menggesek-gesekkan alat vitalnya ke jok motor.

Setelah itu si pelaku memasukkan tangannya ke dalam celana dan kemudian melemparkan sperma hasil onaninya ke korban yang ada di hadapan pelaku. Kejadian ini pun menjadi sorotan banyak pihak. Salah satunya adalah Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa dari Rumah Sakit Awal Bros Bekasi Barat dr. Alvina, SpKJ.

Baca Juga: Mengenal Nymphomania, Kelainan Seksual Yang Dialami Oleh Wanita

Menurut dr Alvina, apa yang dilakukan si pelaku termasuk dalam kategori ekshibisionisme. Gangguan ini adalah penyimpangan seksual (sexual deviation) yang ditandai dengan adanya perilaku memperlihatkan alat kelamin seseorang pada orang asing. Perilaku ini dilatarbelakangi dengan adanya fantasi seksual dan dorongan seksual yang kuat yang terjadi dalam periode waktu enam bulan.

“Sama seperti gangguan jiwa lainnya, kondisi ini bisa terjadi karena interaksi faktor biologis (seperti gen), psikologis (kondisi psikologis orang tersebut), dan sosial (seperti pola asuh dan lingkungan),” ujar dr. Alvina pada wartawan.

Penyakit ini termasuk gangguan jiwa di bawah payung gangguan parafilia, penyimpangan seksual. Bicara mengenai ciri-ciri khusus penderita, dr Alvina menerangkan, tidak ada ciri-ciri spesifik yang menandakan penderita ekshibisionisme (eksibisionis) ini.

Menurut dr. Alvina, terdapat kemungkinan para eksibisionis ini memiliki gangguan jiwa yang lain, kesulitan dalam bersosialisasi, serta memiliki kepercayaan diri yang rendah. “Biasanya, target eksibisionis ialah orang asing yang ia tidak dikenal,” terang dr. Alvina.

Lebih lanjut dr Alvina menyatakan, ada dampak berkelanjutan dalam diri eksibisionis, di antaranya yaitu sesaat merasakan kepuasan seksual dan kemudian mungkin merasa bersalah. Tapi, yang menjadikannya unik adalah dia tidak bisa menahan dorongan untuk melakukannya kembali.

Baca Juga: Mengenal Skizofrenia, Gangguan Mental Dengan Perubahan Perilaku

Para ekshibisionisme ini biasanya merasa berbeda, sehingga semakin menarik diri dari pergaulan sosial dan merasa malu. Eksibisionis dapat melakukan tindakan berulang jika mereka tidak melakukan terapi yang adekuat. “Biasanya, terapi dilakukan dengan memadukan psikofarmaka (obat) dengan psikoterapi yang tentunya harus dilakukan evaluasi menyeluruh apakah terdapat gangguan jiwa lain yang juga tentunya memerlukan terapi dalam bentuk lainnya,” tambah dr. Alvina.

Perlu diperhatikan bahwa orang dengan ekshibisionisme adalah orang yang mengalami gangguan kesehatan jiwa atau mental yang memerlukan pertolongan secara medis. Makanya, hendaknya kita memandang orang-orang tersebut secara objektif.

Jika kita bertemu dengan orang yang memperlihatkan alat kelaminnya atau juga pada kasus pelemparan sperma, sebisa mungkin kita mengabaikan dan menjauh dari orang tersebut. Hal penting yang mesti dicatat ialah bila timbul perasaan tidak nyaman yang menetap setelah bertemu dengan orang yang menunjukkan ciri-ciri eksibisionis, Anda bisa mencari bantuan profesional (psikolog/psikiater) untuk berkonsultasi lebih lanjut.

oknws.

LEAVE A REPLY