5 Mahasiswa Universitas Brawijaya Raih Medali Emas di MTE 2019

0
322

Malang Nawacita — Lima mahasiswa yang berasal dari jurusan kuliah berbeda di Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur, berhasil menciptakan pelindung handphone dengan bahan baku buah-buahan, yakni kelapa dan apel. Alat ini diberi nama ‘Protect Magic’ dan melindungi handphone dari pertumbuhan bakteri Saureus.

Kelima mahasiswa ini adalah M. Kiki Saputra, Grandy Zovanca, dan Revin Yohanes Abraham dari Fakultas Pertanian, serta Cynthia Ayu Dwi Lestari dari Fakultas MIPA, dan Rininta Arifianingsih dari Fakultas Kedokteran. Mereka dibimbing oleh dosen Afifuddin Latief Adijedjo, dan memamerkan karyanya di Asian Youth Innovation Awards (AYIA) dalam Malaysia Technology Expo 2019, yang berlangsung pada Februari di Putra World Trade Centre, Kuala Lumpur.

Kiki sebagai Ketua Tim ‘Protect Magic’ menjelaskan cara pemakaian dari alat ini. Cukup sederhana, yakni dengan hanya menyemprotkan secukupnya ke handphone selain kamera sebagai area yang sensitif. Setelah disemprotkan dan diusap pakai tisu, akan muncul aroma apel.

“Pemakaian ‘Protect Magic’ seperlunya saja selama HP sering dipakai,” ucap Kiki, dikutip dari laman berita Universitas Brawijaya.

Ide pembuatan ‘Protect Magic’ ini muncul dari aktivitas sehari-hari yang enggak terlepas dari perkembangan teknologi, yaitu salah satunya adalah handphone. Padahal, handphone berbahaya bagi kesehatan karena membawa sejumlah mikroorganisme patogen kepada manusia.

Handphone saat ini menjadi sebuah kebutuhan, sehingga jarang orang bisa lepas. Tapi di sisi lain juga ada bakteri yang tumbuh. Dampaknya, pengguna bisa terkena penyakit seperti flu, bahkan bisa menyerang ginjal, atau jantung,” terang Kiki.

‘Protect Magic’ sudah melewati tiga kali uji di laboratorium, dan hasilnya mampu menghambat pertumbuhan bakteri Saureus.

Inovasi yang dibuat kelima mahasiswa ini berhasil meraih Gold Medal dan Special Awards dari ‘International Invention and Innovation Promotion Assosiation in Honor of Highest Standart of Excellence’.

Bahkan mereka juga mendapat tawaran kerja sama pengembangan produk secara masal dari tiga investor asal Malaysia, yaitu UPMSTEM, School of Education and Social Sciences, dan Leading Edge NDT Technology (LENDT) Industrial Technology Division. Tapi Kiki dan kawan-kawan lebih memilih mengembangkannya di Indonesia.

“Ke depan kami ingin mengembangkan ‘Protect Magic’ secara komersial agar lebih bermanfaat bagi masyarakat. Apalagi pengguna handphone sangat banyak di Indonesia,” ujar Kiki.

‘Protect Magic’ juga berhasil menyingkirkan peserta dari 19 negara. Kompetisi tersebut merupakan ajang terbesar yang mempertemukan penemu, perancang, desainer internasional, pengusaha, universitas, dan lembaga untuk menampilkan penemuan, ide, prototipe, produk dan desain terbaru mereka kepada investor, produsen, distributor dan pemasar, untuk mendorong ide-ide mereka menjadi nyata.

kmprn

LEAVE A REPLY