Jusuf Kalla: BMKG Segera Sampaikan Informasi Potensi Bencana ke Publik

0
400
Wakil Presiden RI Jusuf Kalla
Wakil Presiden RI Jusuf Kalla

Nawacita – Wakil Presiden Jusuf Kalla meresmikan peluncuran produk inovasi 4.0 Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG). Produk inovasi 4.0 BMKG yang diresmikan hari ini antara lain InaTEWS, InfoBMKG, dan GeoHotspot 4.0.

Dalam sambutannya, JK meminta BMKG cepat dalam menyampaikan informasi kepada publik maupun instansi penanganan bencana. Informasi tersebut terkait potensi dini bencana yang akan terjadi di suatu wilayah.

“Kita bisa mendeteksi (bencana) 3 menit tetapi masalahnya juga harus menyiarkan dalam waktu 3 menit itu. Kalau siang gampang lewat TV (media). Akan tetapi kalau malam susah,” kata JK di Gedung BMKG, Jakarta Pusat, Kamis (30/8).

Menurutnya, 3 menit pertama merupakan waktu yang paling penting bagi masyarakat untuk mempersiapkan diri melakukan penyelamatan diri dan evakuasi. BMKG , kata JK, bisa memanfaatkan waktu ini untuk menyelamatkan banyak orang dengan memberi informasi penting.

“3 menit itu golden minute selamatkan ratusan ribuan orang. BMKG, tentu saya baru lihat kantornya megah ini, punya tanggung jawab besar. Kita bukan hanya bicara (soal) hutan, penerbangan juga perlu prakiraan cuaca, pelaut, petani, untuk publik juga kapan kita kawin, menyelenggarakan pesta,” jelasnya.

Ia lalu menyinggung soal peristiwa Tsunami di Aceh pada 2004 lalu dan bagaimana masyarakat menyikapi bencana yang datang. JK mengatakan, saat ini ada alat bantu deteksi dini tsunami yang dipasang di Aceh.

Alat tersebut digunakan agar masyarakat bisa mempersiapkan diri ketika bencana datang. Meski demikian, JK tetap meminta BMKG cepat dalam menyampaikan informasi dengan cepat ketika bencana datang.

“Tsunami Aceh kita buat early warning system, tapi saya enggak tahu apa masih ada yang efektif. Di setiap orang yang hidup pinggir pantai pasti langsung lari, itu budaya baik. Zaman dulu saya sampaikan tadi, kenapa tsunami Aceh korbannya (banyak) sedangkan di Simeleue korbannya sedikit? Karena budaya,” ungkapnya.

“Budaya di Simeleue begitu ada gempa semua lari ke ketinggian. Di Banda Aceh justru air turun, orang pergi ke pantai cari ikan. Memang dibutuhkan lagi petunjuk-petunjuk. Namun tetap penting upaya kita semua memberi informasi secara cepat,” pungkasnya.

kumparan

 

LEAVE A REPLY