Burung Pipit Di Hari Raya

0
416
Hewan Kurban hari raya idul qurban
Hewan Kurban hari raya idul qurban

Nawacita – Pagi ini, selepas sholat ied. Puluhan orang telah bersiap untuk pemotongan hewan kurban di halaman kediaman keluarga besar HM Arum Sabil, desa Tanggul Kulon, Jember.

Di tenda yang ada, sejumlah hewan kurban nampak telah ada di halaman rumah keluarga besar HM Arum Sabil di desa Tanggul Kulon, Jember.

Pada ‘tanian lanjeng’ keluarga besar sang tokoh petani nasional ini, memang ada masjid yang rutin melaksanakan sholat Ied, termasuk potong hewan kurban. Nama masjidnya, juga Arum Sabil.

Sebelum dilaksanakan penyembelihan, HM Arum Sabil memberikan kata sambutan. “Jangan sekadar dimaknakan, dari pemotongan hewan kurban ini, hanya ada pahala bagi pemilik hewan kurban, tapi juga untuk semua yang telah meluangkan waktu dan ikut serta dalam pemotongan hewan kurban, terima kasih Saudara sekalian telah hadir pagi ini,’ tutup HM Arum Sabil.

Sesaat kemudian, sebagian yang hadir dipersilahkan sarapan pagi. Bersamaan dengan itu, Arum membalikkan tubuhnya memeriksa kembali hewan kurban yang segera disembelih.

Di saat itulah, nampak burung Pipit tetiba bertengger pada punggung diantara sapi yang akan dikurbankan. Pipit seperti mematuk-matuk pelan punggung sapi. Atau hanya sekadar bertengger.

Dan bersamaan dengan itu, reflek sigap Arum adalah datang dan mendekat ke arah sapi. Arum melihat dan mengamati lebih dekat sang burung.

Begitu posisi sangatsangat, ternyata burung pipit tidak juga lari. Hanya terdiam. Hingga dengan mudahnya,  tangan kanan Arum pun memegang burung pipit itu. Dia hanya diam, tidak berontak.

Lalu, dengan spontan Arum Sabil meminta diantara yang hadir di dekatnya untuk mencari dan menumbuk beras. Dan berikut adalah video yang sempat terekam tadi.

Pipit pun akhirnya baru bercericit sesudah suap demi suap beras dirasakannya. Ternyata, pipit ini lapar.

Pipit yang lapar, betapa beruntungnya. Disuapi hingga kenyang. Bukan hanya beras yang ditumbuk, dan disuap dengan jemari tangan Arum Sabil. Bahkan, Arum pun akhirnya menguyah beras dan ‘menjuju’ sang pipit dari bibirnya.

“Pipit juga perlu hidup. Meski sebagian petani menganggapnya hama, tapi dia adalah juga bagian dari mahluk yang bisa lapar dan butuh makan,” tutur Arum.

Pipit pun terus bercericit. Sayapnya tidak lagi dipegang jemari tangan sang tokoh pecinta lingkungan hudup ini, melainkan jemari si pipit ganti mencengkram tapak tangan Arum Sabil.

Burung pipit yang bulu tubuhnya belum sempurna itu, tak juga pergi.

Seakan si burung pipit yang nampak bulunya masih anakan itu demikian menikmati berkah hidangan sarapan istimewanya pagi ini. Sembari mengucapkan rasa syukur dan terima kasihnya pada sosok yang memergokinya pada punggung si sapi.

Kami yang menyaksikan peristiwa langka ini pun demikian terkesan. Hanyut dalam rasa takjub. Tidak hadirnya si burung, tapi menyatu pada kisah terdalam dari Ismail dan Ibrahim di hari kurban.

Sungguh, semua adalah pelajaran dan penghargaan yang besar dari kakak dan guru kami yaitu HM Arum Sabil, pada kehidupan itu sendiri. Hingga semuanya makin menebalkan hikmah dan keimanan di hari raya idul qurban, yang istimewa ini.

Kami pun membathin dalam hati kami, adakah peristiwa burung yang hinggap dan hadir diantara punggung hewan kurban itu adalah kebetulan? Ataukah, perwujudan malaikat dalam ujud yang penuh dengan isyarah dan hikmah? Wallahu a’lam.

jt

 

LEAVE A REPLY