Bappenas Sebut Pertumbuhan Tak Melulu Bisa Andalkan Konsumsi

0
359
Bambang Brodjonegoro
Bambang Brodjonegoro

Jakarta, Nawacita — Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) Bambang Brodjonegoro mengatakan pertumbuhan ekonomi tak boleh hanya ditopang oleh konsumsi semata. Sebab, konsumsi dianggap hanya memberikan efek pengganda (multiplier effect) ekonomi semata. Namun, tak bisa mendorong pertumbuhan ekonomi lebih melesat.

Memang, Bambang mengakui saat ini konsumsi rumah tangga menjadi penyumbang terbesar Produk Domestik Bruto (PDB). Data Badan Pusat Statistik (BPS) kuartal kedua mencatat kontribusi konsumsi rumah tangga sebesar 55,43 persen, dengan pertumbuhan mencapai 5,14 persen.

Namun, ia menilai pertumbuhan ekonomi yang ditopang oleh konsumsi tak berkesinambungan. Buktinya, pada kuartal II, konsumsi didorong oleh Tunjangan Hari Raya (THR) dan gaji ke-13 Pegawai Negeri Sipil (PNS) hingga bantuan sosial. Padahal, tidak seluruh periode mengalami momen seperti itu.

“Jadi, memang tak bisa Indonesia mengandalkan konsumsi terus. Itu sah-sah saja, tapi kan kami juga tidak ingin pertumbuhan ekonomi tinggi gara-gara THR dan gaji ke-13. Memang perlu ada sumber pertumbuhan baru,” jelas Bambang, Kamis (23/8).

Ia melanjutkan salah satu sumber pertumbuhan yang bisa diandalkan Indonesia adalah investasi. Terlebih, selama ini tren pertumbuhan Pembentuk Modal Tetap Bruto (PMTB) antara kuartal III 2017 hingga kuartal I 2018 sempat di atas 7 persen, meski belakangan nilai pertumbuhannya terjun lagi ke angka 5 persen.

Investasi juga dianggap berperan penting sebagai akselerator pertumbuhan ekonomi. Ambil contoh, China dan India yang pertumbuhan ekonominya sempat mencapai di atas 10 persen lantaran investasi yang gila-gilaan.

Ketika investasi masuk, itu akan menciptakan lapangan kerja, sehingga nanti mendorong konsumsi masyarakat. Tak hanya itu, investasi juga mendorong produktivitas, sehingga ada kemungkinan ekspor netto juga akan terdongkrak. Jika kedua hal tersebut membaik, sudah ada jaminan bahwa pertumbuhan ekonomi makin moncer.

“Jadi kalau pertumbuhan saat ini di angka 5,1 persen hingga 5,5 persen itu menurut saya masih stuck (macet). Kuncinya ada di investasi,” imbuh Bambang.

Pertumbuhan investasi yang kencang tentu perlu didukung oleh strategi yang memadai. Hanya saja, ia bilang saat ini strategi investasi Indonesia masih abu-abu lantaran datanya belum detail.

Misalnya, data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) yang tak menjelaskan secara rinci mengenai asal muasal aliran dana investasi yang masuk ke Indonesia. Awalnya, ia merasa heran karena terdapat nama Singapura sebagai negara dengan realisasi investasi tertinggi selama ini.

Namun, setelah ditelaah lebih dalam, ternyata Penanaman Modal Asing (PMA) banyak berasal dari luar Singapura. Nah, jika aliran dananya diketahui, Indonesia bisa saja melakukan promosi dan pendekatan investasi ke negara-negara yang memang punya tren penanaman modal tertinggi di dalam negeri.

“Tentu kami ingin pertumbuhan investasi yang tinggi, tapi strategi juga tidak kalah penting. Dan strategi itu tentu didukung data,” tandasnya.

Data BPS mencatat pertumbuhan PMTB pada kuartal II 2018 tercatat 5,87 persen atau melemah dari kuartal sebelumnya 7,95 persen. Dari angka tersebut, pertumbuhan realisasi investasi tertinggi berasal dari sektor mesin dan perlengkapan, yakni 22,48 persen.

cnn

LEAVE A REPLY