Kampung Lontong Salah Satu Kampung UKM di Surabaya

0
861
ilustrasi
ilustrasi

Surabaya, Nawacita – Di Surabaya ada satu kampung yang sebagian besar warganya membuat lontong. Kampung yang ada di Jalan Banyu Urip 10 dan 11 ini pun mendapat julukan kampung lontong.

Kampung lontong merupakan salah satu kampung UKM di Surabaya yang berbasis usaha lontong. Salah satu pembuat lontong, Ani, mengatakan bahwa rintisan awal usaha pembuatan lontong di kampung tersebut dimulai saat seorang warga bernama Ramiah memulainya. Ramiah yang akrab disapa Bulik Ramiah ini mulai membuat lontong pada tahun ’80-an

“Waktu itu hanya beberapa warga saja yang aktif membuat lontong. Tapi perlahan-lahan warga yang lainnya mengikuti usaha ini dan mulai banyak bermunculan rumah-rumah produksi lontong ini. Ya rata-rata ibu rumah tangga yang membuat lontong,” ujar Ani saat ditemui detikcom, Selasa (11/7/2017).

Kampung lontong ini menjadi salah satu kampung UKM terbesar di Surabaya karena hampir 100 warganya menjadi pengusaha lontong.

“Iya, yang buat lontong di sini banyak. Hampir di setiap rumah pasti ada orang yang buat lontongnya,” kata Ani.

Dalam sehari, setiap pembuat lontong mampu menghasilkan 400 biji lontong hingga 1 kuintal lontong.

“Kalau saya ya sehari bisa 400 biji lontong tergantung kalau ada pesanan juga baru saya tambahkan, itu yang di gang sebelah ada yang sehari bisa sampe 1 kuintal lontong,” lanjut Ani.

Dalam proses pembuatan lontong, Ani menjelaskan, ia membutuhkan sekitar dua karung beras, 500 helai daun pisang dan gas elpiji ukuran 3 kilogram. Beras dimasukkan ke bungkus daun pisang yang tadinya sudah dibentuk bulat panjang dan dibuat lubang di bagian ujungnya agar beras tersebut tidak tumpah. Setelah dimasukkan ke daun pisang, bungkusan beras tersebut direbus dalam panci besar hingga 4-5 jam.

Untuk beras dan bungkus pisangnya, warga mempunyai pilihan sendiri. Ani menyebut ada dua merek beras yang digunakan. Beras tersebut dicampur dengan beras bulog. Sedangkan untuk daun pisang, warga lebih senang menggunakan daun pisang klutuk.

Karena jika menggunakan daun pisang jenis lain, maka hasil lontongnya tidak bagus seperti pada normalnya. Bisa jadi warnanya menjadi merah, bau, dan rasanya pahit. Lontong sendiri dapat bertahan sehari atau dua hari.

“Biasanya kami naruhnya di Pasar Keputran, Pasar Jarak, Pasar Tembok dan di banyak tempat. Kalau pesanan biasanya diambil langsung sama yang mesen,” kata Ani.

Produk lontong mereka bahkan sampai kota Sidoarjo, Gresik, Malang dan Bojonegoro. Namun para pemasok lontong juga memiliki kesepakatan antar pemasok lontong lainnya agar setiap pasar yang mereka distribusikan mendapatkan pemasok lontong sekitar tiga hingga enam produsen lontong saja.

Pemerintah kota Surabaya pun melihat UKM ini semakin harinya semakin pesat dalam produksi dan permintaan lontong dari kampung ini. Oleh karena itu, Pemkot Surabaya memberikan akses supply gas dari PGN yang membuat para produsen semakin meningkat dalam pembuatan lontongnya. Penghasilan yang mereka dapatkan mencapai Rp 10 juta-90 juta per bulannya.

Kampung ini pun pernah mendapat kunjungan dari Megawati. Mega berkunjung ke kampung ini pada Oktober 2012 lalu. Saat itu Mega menyempatkan diri mampir ke kampung lontong di sela Raker Nasional II PDIP di Surabaya.

Sumber: detik

LEAVE A REPLY