Teater ‘Sawah di Kepala’ Wujud Penyadaran Pentingnya Peran Petani

0
39
Teater Peran Petani 'Sawah di Kepala'
Teater Peran Petani 'Sawah di Kepala'
Bandung, Nawacita – Dua aktor sekaligus penulis naskah teater “Sawah di Kepala”, Cikal Ramadhan dan Ifan Sandekala, melakukan riset mendalam tentang pertanian sebelum menggarap lakon teaternya.
Terkait mitologi Dewi Sri sang dewi kesuburan, Ifan sebagai penduduk lokal di Pandeglang, Banten, melakukan konsultasi dengan banyak orang untuk memahami sejarah padi dari masa lalu sampai saat ini.
“Saya pun melakukan penelitian yang terkait sejarah peran petani Banten” ucap Ifan, di sela pementasan teater “Sawah di Kepala” di komunitas Celah Celah Langit, Ledeng, Bandung, Jumat (4/5/2018) malam.
Selain memuat penelitian tentang padi, pementasan yang khas dengan budaya Sunda ini direncakan untuk dipentaskan di beberapa daerah di Indonesia yang memiliki persoalan yang sama dengan pertanian.
Bahkan menurut Iman Soleh, sutradara teater “Sawah di Kepala”, jika tidak ada halangan pementasan ini pun akan tampil di Vietnam dan Thailand.
Meski berkeliling ke beberapa tempat menurut Cikal pementasan ini akan tetap membawa unsur Sunda dengan tetap membaca ruang kebudayaan.
Demikian pula menurut Ifan, pementasan ini belum selesai karena akan terus mengalami perubahan. Hal ini karena tipikal pementasan dari komunitas CCL yang sering mengajak penonton untuk terlibat sebagai bagian dari pementasan.
Terlepas dari unsur teatrikalnya, pementasan ini merupakan gerakan yang ingin dibangun untuk menghadirkan penyadaran kepada masyarakat tentang peran petani di Indonesia.
Secara sederhana, Cikal Ramadhan mengingatkan peran proses pertanian di balik sebutir nasi. Bahwa di balik nasi yang kita makan ,ada proses yang luar biasa panjang untuk menanam padi.
“Harapan saya orang sadar betapa pelik dan rumitnya bertani untuk menghasilkan beras” tegasnya.
Sedangkan Ifan yang hidup dari pertanian, ingat betul bagaimana pesan orangtuanya untuk menjaga tanah dan sawah sebagai warisan turun temurun.
“Dengan pementasan ini saya semakin memahami pentingnya pertanian dan bagaimana sawah itu harus dijaga” tutur Ifan.
Pun halnya dengan Iman Soleh yang menyebut pementasan ini hanya interupsi kecil soal pertanian dari persoalan besar pertanian di Indonesia.
Iman menegaskan, petani harus mendapat “penghargaan” karena merekalah yang selama ini memberi makan rakyat Indonesia. “Bertani itu ibadah,” tegas Iman Soleh.
kum

LEAVE A REPLY